Sekunder Jadi Primer. Yang Primer? Terabaikan

“Reporter sudah dapet workshop fotografi, kan?” Sudah. Dan memang, workshop itu punya pengaruh yang cukup luar biasa. Kemampuan fotografi para reporter meningkat – beberapa bahkan mampu menangkap momen lebih baik dari yang berposisi sebagai fotografer. Bangga? Jelas, dong. Puas? Nah, yang ini tunggu dulu.

Bagi seorang reporter, memiliki kemampuan fotografi memang menjadi nilai lebih. Dalam keadaan tertentu, misalnya, dia tidak perlu didampingi fotografer ketika liputan. Bahkan, mungkin saja dia akan selalu tanpa fotografer ketika liputan. Hal ini bisa jadi nilai plus – sekaligus keuntungan bagi perusahaan karena tak perlu pusing merekrut lebih banyak fotografer.

Kebetulan, para reporter yang mendapat workshop termasuk orang-orang yang senang mempelajari hal-hal baru. Mereka suka melakukan eksplorasi dan tak segan bertanya jika menghadapi situasi yang tidak biasa. Tidak heran jika kemudian kemampuan fotografi mereka meningkat.

Hanya saja, jangan lupa bahwa tugas utama seorang reporter tidak berhubungan dengan lensa, shutter speed, diafragma, white balance, dan lainnya. Yang diharapkan dari reporter adalah artikel yang bernas. Poin ini yang kemudian terlupa ketika melihat hasil jepretan para reporter. Peningkatan kualitas seakan sudah terealisasi ketika melihat foto-foto yang disajikan. Bahwa ketika melamar sebagai reporter seseorang pasti memiliki kemampuan menulis (sekadar mampu, belum bicara tentang kualitas) dan kemampuan ini pun harus terus diasa. Sialnya, atau mungkin sayangnya, karena mendapat ‘mainan baru’ setelah mengikuti workshop fotografi, kemampuan ini seakan dibiarkan. Seperti situasi yang saya alami ketika ditanya orang-orang mengenai jurusan yang saya ambil saat kuliah. ‘Kita, kan, dari SD sudah belajar bahasa Indonesia. Lagian, tiap hari kita ngomong pake bahasa Indonesia. Kenapa kuliah di jurusan Bahasa Indonesia?’ Hmmm….

Punya suatu kemampuan bukan berarti kemampuan itu akan bersifat kekal, abadi. Wong Messi dan Ronaldo aja masih terus latihan setiap hari. Sebulan tidak latihan, saya jamin kemampuan mereka pasti akan turun drastis. Tetap jago, sih, kalau dibanding para pemain nasional, tapi tidak sejago biasanya.

Celakanya, para reporter ini tidak terlalu menyadari hal itu – plus kebijakan kantor yang semakin membuat mereka merasa tidak perlu mengeksplorasi kemampuan sebagai reporter. Yang kemudian terjadi adalah kantor kebanjiran fotografer – sebagian karena sejak awal direkrut sebagai tukang foto, sementara sebagian yang lain adalah reporter yang kemudian terlalu asyik dengan kamera. Lalu, kalau sudah begitu, siapa yang nulis artikel? Ya, para reporter yang lebih layak disebut fotografer newbie. Tapi… jangan tanyakan soal kualitas. Bukan ingin merasa yang paling baik, sempurna, tapi saya sangat percaya dengan ungkapan ‘practice make perfect‘. Kalau hanya membuat tulisan ketika pekerjaan kantor sudah menumpuk, bagaimana bisa ada perbaikan? Bisa mempertahankan kualitas saja sudah bagus banget.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s