Ironis…

Apa yang dilakukan untuk melewati waktu senggang? Menonton film? Menggangu orang-orang yang ada di buku telefon atau di daftar sosial media? Ketika yang diinginkan adalah ‘me-time’ tanpa ingin berhubungan dengan orang lain, juga tak bergantung pada pihak lain, buku adalah pilihan. Tapi, justru di sinilah yang menjadi ironi.

Sebuah novel setebal lebih dari 600 halaman sore tadi tuntas dibaca. Malam masih panjang. Mata masih berharap mengkonsumsi berbagai cerita. Ingin terus menikmati narasi. Dan yang timbul kemudian: ironi. Ya, sebuah ironi – yang paling ironis.

Entah kenapa, yang ada di dalan benak dan kepala adalah tidak ada lagi buku yang dapat dibaca. Kenyataannya, tumpukan buku memenuhi rak di dalam kamar – yang seakan berkata ‘berilah aku teman untuk berbagi beban yang terlalu banyak ini’. Sayangnya, iti baru sebagian dari ironi.

Sebagian buku yang menumpuk dan tertumpuk buku belum sempat dibaca. Kalaupun sudah dibuka-buka, sekadar bagian awal – bagian pembukaan.

Kalaupun enggak dengan yang ditawarkan buku-buku itu, ada buku-buku lain yang sudah dibaca. Buku yang pernah memberikan kenikmatan – dan sangat mungkin memberikan lagi perasaan itu. Tapi, ya begitulah. Malam ini, ketika keinginan untuk terus membaca sangat tinggi, entah kenapa buku-buku di rak terlihat seperti wanita tua yang teronggok di ujung tempat tidur, berbalut selimut kumal yang baunya bersaing dengan aroma balsem – merebak memenuhi setiap sudut ruang. Tidak ada sedikit pun keinginan untuk menyentuhnya, bahkan sekadar mengintipnya dari balik jendela.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s