Menyoal Istilah yang…

Harap Turun

 

Istilah, peribahasa, idiom, atau semacamnya sangat sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tujuan tertentu, bentuk bahasa ini kita gunakan dalam kegiatan komunikasi. Penggunaan bentuk bahasa semacam ini menunjukkan penguasaan seseorang terhadap bahasa yang digunakan juga pemahaman orang tersebut terhadap budaya di masyarakat. Hanya saja, kalau dipikir-pikir, dan hanya bisa dilakukan jika Anda tidak memiliki hal-hal lain yang lebih penting, ada di antara bentuk bahasa tersebut yang ‘agak gimana gitu’. Sebagian dari bentuk bahasa yang ‘agak gimana gitu’ akan dibahas di sini, sedang sebagian yang lain silakan Anda coba pikirkan di waktu senggang Anda.

Makan Angin

Dalam kamus, bentuk ini memiliki makna “berjalan-jalan untuk mencari hawa bersih; diam, duduk, dsb sekadar menghabiskan waktu.” Yang menjadi pertanyaan utama: apakah angin bisa dimakan? Dan mungkin itu pula yang menjadi alasan terbentuknya istilah ini. Karena tidak bisa dimakan, makan angin hanya menjadi kegiatan yang membuang-buang waktu. Tapi kok, masih ada sesuatu yang mengganjal. Saya membayangkan ada seseorang yang mangap-mangap (layaknya ikan mas). Pas ditanya sedang apa, orang tersebut menjawab ‘sedang makan angin’. Ada enggak ya orang sebodoh itu? Hmmm….

Tapi, jika buka kamus dan lihat lema ‘makan’, ada cukup banyak kata bentukan yang mirip-mirip dengan makan angin. Pernahkan berniat memakan arwah? Apa hubungannya bawang dengan “marah”, “jengkel”, dan “geram”? Apakah orang miskin memakan kawat (dawai) sehingga kemudian muncul makan dawai? Dan masih banyak yang lainnya.

Kambing Hitam

Seharusnya para peternak kambing marah dengan bentuk bahasa yang satu ini. Ini bisa dikatakan pelecehan. Bagaimana mungkin kambing yang setiap hari berada di kandang atau di padang rumput selalu dikaitkan jika terjadi suatu masalah? Aktivis pecinta binatang pun harus bergerak memperjuangkan hak asasi binatang.

Tidak ada cerita atau analogi yang jelas mengenai bentuk ini. Apakah di masa lalu pernah ada kejadian yang melibatkan kambing berwarna hitam? Apakah yang hitam selalu dikaitkan dengan kejahatan? Kasihan dong orang-orang Indonesia bagian timur.

Membuka lema ‘kambing’, tidak hanya kambing hitam yang melecehkan kambing. Masih ada kelas kambing yang mendeskriditkan kambing sebagai binatang dengan selera rendah. Di zaman raja-raja, bahkan hingga sekarang, daging kambing muda merupakan makanan yang istimewa. Harganya mahal dan hanya dapat dinikmati oleh kaum tertentu.  Kambing memiliki kelas tersendiri, dan kelasnya tidak rendah.

Yang tidak kalah aneh, kambing dilekatkan dengan nama berbagai rumput. Padahal, pada kenyataan, tidak hanya kambing yang mengkonsumsi rumput. Masih ada sapi, kerbau, domba, rusa, dan binatang herbivora lainnya. Kenapa nama binatang-binatang itu tidak dikaitkan dengan jenis rumput atau tanaman? Kasihan kambing, nasibmu sungguh malang.

Puting beliung

Mendengar bentukan ini, saya sering tertawa. Di dalam pikiran, saya membayangkan ada ‘puting’ yang tajam hingga dapat dipakai untuk mengolah kayu. Atau, ada gumpalan angin yang begitu besar tapi ada jutaan puting di dalamnya. Whahahahaha…. Maaf.

Yang kurang bisa saya pahami adalah bagaimana mungkin gabungan perkakas yang digunakan tukang kayu dengan pangkal pisau menjadi angin yang begitu berbahaya? Kemampuan logika saya tidak bisa memahami bentuk ini. Ada yang bisa menjelaskan?

Satu hal yang akhirnya saya pahami saat mencari tahu mengenai bentuk ini di kamus: bagian yang disebut puting lebih tepat disebut kelentit – karena puting memiliki beberapa makna.

Buang muka

Bentuk ini belum terdaftar di kamus. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukannya, bahkan menggunakannya. Buang muka kira-kira memiliki arti “tidak ingin melihat, menatap seseorang”. Bentuk ini biasa digunakan untuk menyebut seseorang yang tiba-tiba mengalihkan pandangan (tatapan) ketika beradu pandang dengan orang yang sedang memiliki masalah dengannya.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan bentuk ini. Kegiatan mengalihkan pandangan yang tiba-tiba itu disebut “buang” – walau di kamus buang bermakna “lempar, lepaskan, keluarkan”. Tapi jujur saja, ketika mendengar bentuk ini, saya membayangkan ada orang yang membuang mukanya. Whahahaha…. terlalu bodoh, iya saya sadar. Terkadang kemampuan otak saya memang menjadi begitu rendah.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s