Menyoal Istilah yang… (2)

Dilarang Membawa Api

 

Karena tidak ada kerjaan dan bingung mau melakukan apa, mari lanjutkan soal bentuk bahasa. Kali ini, bentukan yang dibahas berkaitan dengan anggota tubuh.

Mata keranjang

Menurut sebuah sumber, yang sayangnya saya lupa sumber itu, ungkapan ini seharusnya di tulis “mata ke ranjang”. Jadi, ada tiga kata dalam istilah itu. Bukan keranjang sebagai “wadah”, tapi ke ranjang yang berarti ke arah ranjang (tempat tidur).

Ungkapan ini biasa diberikan kepada orang yang ketika melihat orang lain yang menarik selalu terbesit hasrat seksual. Karenanya, ke ranjang menjadi yang utama dalam ungkapan ini. Yang bikin heran, kenapa mata? Kenapa tidak diganti dengan otak atau pikiran? Ada yang salah jika kita melihat ke ranjang? Kalau tidak melihat ke ranjang, bagaimana kita memilih tempat tidur baru?

Hidung belang

Ungkapan ini biasa disematkan pada pria. Ciri utamanya, orang tersebut suka gonta-ganti pasangan. Padahal, kan bukan cuma pria yang suka gonta-ganti pasangan? Enggak adil. Diskriminatif.

Saya bingung, apa hubungannya suka bergonta-ganti pasangan dengan hidung belang? Darimana asal-usul ungkapan ini? Kenapa orang yang suka gonta-ganti pasangan disebut hidung belang?

Suka bergonta-ganti pasangan berhubungan dengan hati (hasrat) orang tersebut. Karena tidak memiliki kesetiaan pada pasangan, orang itu sering berganti pasangan. Juga, karena tidak mampu mengendalikan hasrat dalam diri, makanya sering berganti pasangan. Jadi, mungkin hati atau *kelamin* lebih tepat yang disebut belang, dibanding hidung.

Kuping tebal

Bingung dengan hubungan ketebalan kuping seseorang dengan kemampuan orang tersebut menerima pelajaran (nasihat)? Berarti kita sama. Sepertinya, ketebalan kuping sama sekali tidak berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami sebuah pelajaran. Kuping buntu atau kuping mampat sepertinya lebih bisa diterima. Lubang kuping yang sempit menyulitkan seseorang mendengar perkataan yang diucapkan.

Lagipula, di zaman dengan teknologi yang serba canggih, sepertinya kuping mampat sekalipun tidak menjadi penghalang dalam menangkap pelajaran, deh. Jujur saja, dalam keseharian, informasi yang kita serap lebih banyak melalui mata (visual).

Bermulut asin

Membaca ungkapan ini, hal pertama yang terlintas di kepala saya adalah film laga yang dibintangi Advent Bangun: Si Pahit Lidah. Pernah nonton? Kalau pernah, Anda mungkin merasakan kebingungan seperti saya. Jadi yang benar, pahit atau asin yang membuat perkataan seseorang menjadi nyata?

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s