Dilema Pemula

Dalam-Perjalanan

Punya nyali untuk mandiri, mendirikan usaha, merupakan hal yang luar biasa. Berani menantang nasib dan tidak bergantung pada zona nyaman yang ditawarkan orang lain (menjadi pekerja). Tapi, tidak hanya nyali yang dibutuhkan untuk membangun sebuah usaha baru. Modal dan koneksi menjadi faktor lain yang harus dimiliki.

Dari ketiganya, menurut saya yang sampai sekarang belum memiliki ketiganya, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain. Nyali tidak lebih penting dari modal dan koneksi. Begitu pun seterusnya. Modal dan nyali tidak akan berarti kalau tidak didukung jaringan yang memadai. Mau diapakan ‘produk’ yang dihasilkan? Dibiarkan di gudang sambil berharap suatu saat ada orang yang datang dan berminat untuk memborong semuanya?

Saya sering mendengar perkataan orang-orang yang telah meraih sukses dalam usaha yang mereka bangun. Tidak jarang mereka mengatakan “Jangan takut pada modal. Saat ini sangat banyak cara untuk mendapatkan modal yang dibutuhkan untuk membangun usaha. Lagipula, usaha yang dibuat tidak perlu langsung besar. Mulailah dari kecil lalu berkembang sesuai dengan permintaan dan potensi pasar.” Easy to say.

Hahaha…. Terdengar sinis? Memang.

Kenyataan yang terjadi adalah modal kerap menjadi kendala. Permintaan dan potensi pasar begitu besar, tapi sulit sekali memenuhi keduanya karena dukungan modal yang tidak memadai. Mau pinjam? Butuh proses yang cukup berbelit dan terkadang jumlahnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.

Yang terjadi kemudian, pengusaha pun coba mengakali/menutupi kekurangannya. Berbagai cara dilakukan agar sebisa mungkin memenuhi permintaan dan meraih sebesar mungkin potensi yang tersedia – walau tetap saja tidak sepenuhnya. Dan di titik inilah, sekali lagi menurut pengamatan saya, pengusaha kerap melakukan kesalahan.

Permintaan yang besar ditanggapi dengan kemampuan untuk mampu memproduksi dalam jumlah yang lebih besar. Karena keterbatasan modal untuk menambah jumlah pekerja atau menerapkan tehnologi yang bisa membantu memenuhi permintaan tersebut, pengusaha pun berusaha ‘memaksimalkan’ potensi yang dimiliki.

‘Memaksimalkan’ di sini cenderung pada mengeksploitasi, secara berlebih. Bahkan, tidak jarang tanpa peduli pada batas kemampuan yang dimiliki oleh sumber daya tersebut. Hasilnya, secara jumlah memang terpenuhi tapi sangat jauh dari standar kualitas yang diharapkan.

Beruntungnya, sebagian masyarakat Indonesia tidak terlalu mementingkan kualitas. Kuantitas dianggap lebih utama. Dengan kondisi tersebut, perusahaan bisa terus berjalan bahkan berkembang. Mereka mampu menanggapi permintaan dan potensi yang ada secara positif. Keuntungan yang didapat pun meningkat. Perusahaan (juga pengusaha) semakin kaya. Kondisi ini, tidak jarang, membuat perusahaan (juga pengusaha) lupa pada kenyataan bahwa mereka telah ‘memaksimalkan’ sumber daya yang dimiliki. Dengan peningkatan pendapatan, seharusnya dilakukan perbaikan. Sumber daya ditingkatkan. Tidak hanya jumlah, tapi juga kualitas. Dengan begitu, kemampuan produksi yang dihasilkan juga ikut meningkat dengan kualitas yang juga semakin baik.

“Buat apa nambah sumber daya? Yang sekarang saja udah cukup. Cuma nambah beban perusahaan,” sayangnya itulah yang kerap terjadi. Lupa pada kenyataan bahwa yang sedang terjadi adalah hasil dari ‘memaksimalkan’, kata lain dari eksploitasi berlebih. Dan jika sudah begitu, tinggal tunggu waktu sampai perusahaan tersebut gulung tikar. Sumber daya, apapun bentuknya, memiliki masa usang. Dia tidak kekal. Ada saatnya diganti dengan yang baru. Lagipula, tidak mungkin memacu mobil terus di garis merah walau berada di jalan tol yang sepi. Kalau hanya Jakarta-Bandung mungkin masih bisa dilakukan, tapi di jalan tol Trans Java, Jakarta-Semarang? Beruntung kalau hanya mesin yang jebol, tidak sampai menimbulkan kebakaran dan menelan korban jiwa.

Saya teringat salah satu prinsip ekonomi yang diajarkan ketika saya SMA dulu. “Dengan modal sekecil-kecilnya, harus mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.” Sepertinya prinsip ini yang dipegang teguh oleh para pengusaha seperti itu. Tidak peduli pada kondisi sumber daya yang dimiliki, selama masih mampu berproduksi dan memenuhi permintaan, tidak perlu dilakukan perbaikan – yang dianggap hanya akan menambah pengeluaran perusahaan.

Sialnya, kondisi di Indonesia tidak ramah bagi para pekerja. Walau sadar telah ‘dimaksimalkan’ oleh perusahaan (pengusaha), mereka hanya bisa mengeluh. Paling banter berdemo. Hasilnya? Kalaupun ada, perbaikan yang didapat tidak terlalu signifikan. Sekadarnya. Asal terlihat telah terjadi perubahan ke arah positif. Mau melakukan yang lebih dari itu, pemecatan jadi risiko yang harus dihadapi. Di tengah kondisi seperti ini, bagi sebagian orang mencari pekerjaan baru bukanlah opsi yang akan dipilih.

Dalam hal ini, mentalitas para pekerja di Indonesia memang menjadi suatu permasalahan tersendiri. Sebagai pekerja, mereka menempatkan diri ‘di bawah’. Mereka menjadi yang bergantung. Tanpa perusahaan (pengusaha), mereka hanya menjadi pengangguran. Pemikiran itu yang membuat mereka tidak menghargai kemampuan yang dimiliki dan sesungguhnya dibutuhkan oleh perusahaan (pengusaha). Hanya dengan gertakan “Kalau mau ke luar, silakan saja. Banyak yang mau bekerja di sini.”

Memang, dengan jumlah pengangguran yang cukup tinggi di Indonesia, terbukanya suatu lowongan pekerjaan akan menjadi kesempatan besar bagi banyak orang. Orang-orang pun kemudian saling berebut, berusaha mengisi lowongan yang sedang kosong tersebut.

Seperti yang sedikit dibahas tadi, hubungan antara pekerja-pengusaha seharusnya berjalan secara sesama membutuhkan. Pekerja membutuhkan perusahaan (pengusaha) untuk mendapatkan pekerjaan – yang degannya mendapatkan penghasilan untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Dan, poin ini yang kerap dilupakan, perusahaan (pengusaha) membutuhkan pekerja untuk dapat menjalankan usahanya, bahkan terus mengembangkannya.

Kembali ke soal modal tadi. Kurangnya modal seseorang dalam menjalankan usahanya pun membuat sang pengusaha mencari sumber daya semurah mungkin. Standar yang ditetapkan bukanlah ‘layak’, ‘andal’, ‘mumpuni’, ‘cakap’, atau sebagainya. Hanya satu standar yang mereka gunakan dan pentingkan dalam mencari sumber daya: bisa. Sekadar bisa, tidak perlu layak, andal, mumpuni, atau cakap. Lagi-lagi, standarisasi ini akan berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan.

Sadar dengan tingginya permintaan dan besarnya peluang yang tercipta, sebagian pengusaha menanggapinya dengan menambah sumber daya. Mereka pun bersedia mengeluarkan biaya tambahan untuk sumber daya baru tersebut. Tapi tidak banyak, karena disesuaikan dengan kemampuan yang mereka miliki. Juga, dengan standarisasi yang tadi. Karena, untuk mendapatkan yang sesuai dengan standar ‘layak’, ‘andal’, ‘mumpuni’, atau ‘cakap’, keuangan mereka belum mampu.

Terbang Tinggi di Bukit Curam
Nyali yang besar dan koneksi yang luas terkadang membuat usaha seseorang berkembang sangat cepat. Begitu cepat hingga membuat orang-orang terpana. Permintaan dan peluang yang tercipta begitu besar. Mereka pun berada dalam dilema: memenuhi atau bersabar?

Jika opsi pertama yang dipilih, mereka harus melakukan berbagai upaya dalam waktu singkat untuk dalam mengikuti permintaan dan peluang tersebut. Jika berhasil, keuntungan dalam jumlah besar yang dihasilkan. Perusahaan bisa berkembang. Jika opsi kedua yang dipilih, mereka memiliki waktu lebih panjang untuk mempersiapkan sumber daya demi menghadapi permintaan dan peluang yang lebih besar. Sampai sumber daya tersebut siap, mereka harus berlapang dada dengan kondisi yang ada saat ini – sambil berharap permintaan dan peluang besar itu akan datang.

Berdasar pengalaman, opsi pertama yang lebih banyak dipilih para pengusaha. Tidak heran mengingat nyali besar yang mereka miliki. Permintaan dan peluang besar yang mereka dapatkan dianggap sebagai tantangan. Sudah menjadi tugas merekalah untuk menjawab tantangan itu. Dan justru tantangan seperti itu yang mereka cari, tantangan yang membuat adrenalin mereka terpacu. Terpompa dalam arus yang begitu deras.

Dalam keadaan seperti itu, mereka layaknya pilot yang harus menerbangkan pesawat dari sebuah bukit. Landasan yang tersedia hanya pendek, tidak memenuhi standar kelayakan. Tantangan bagi mereka adalah mampu menerbangkan pesawat dalam landasan yang pendek tersebut. Jika berhasil, mereka akan diakui sebagai pilot hebat, tawaran dari berbagai maskapai penerbangan pun akan datang. Tapi jika gagal, selesailah karier mereka sebagai pilot. Jurang gelap yang dalam menjadi pemberhentian terakhir.

Menjawab permintaan dan peluang yang ada merupakan tantangan yang harus dihadapi pengusaha. Tapi, mungkin karena saya bermental pekerja, tidak selalu harus dilakukan dalam kondisi seperti pilot di bukit itu. Bukan menolak tantangan atau tidak berani menghadapinya, tapi terkadang sadar pada kemampuan yang dimiliki pun harus diperhitungkan. Bukan sekadar ngebut, tapi ngebut yang penuh perhitungan agar selamat dan tidak membahayakan orang lain.

Dalam pelajaran kesenian, baik drama, lukis, atau yang lain, aliran realis menjadi mata kuliah yang pertama diajarkan dibanding aliran-aliran yang lain (atau klasik pada musik). Realis menjadi dasar bagi aliran yang lain. Jika dasarnya sudah dikuasi dan kuat, pengembangan seperti apapun akan sangat mudah untuk dilakukan. Pondasi yang kuat membuat sebuah bangunan bisa dimodifikasi semaunya.

Saya pernah bekerja di perusahaan yang sangat ambisius. Di usia yang masih sangat muda, perusahaan ini mampu memproduksi berbagai jenis produk yang jumlahnya melebihi jenis yang mampu dihasilkan perusahaan sejenis yang sudah lebih dulu berdiri. Orang-orang terkagum, bertepuk tangan.

Sebagai pilot, pengusaha perusahaan tersebut berhasil menerbangkan pesawat dari landasan yang pendek. Sayangnya, ketika terbang, karena landasan yang kurang panjang, kecepatan yang dibutuhkan kurang. Walhasil, ketika melayang di udara, pesawat tidak stabil. Oleng ke kanan-kiri dan ketinggiannya pun semakin turun. Masih terlalu dini untuk memutuskan yang akan terjadi pada pesawat tadi. Segala hal masih mungkin terjadi. Tapi melihat kondisi pesawat, moncong pesawat yang menjorok tajam ke bumi, banyak yang berkesimpulan seperti saya: tidak lama lagi dia akan terjerembab.

Di awal geliatnya, perusahaan ini berjalan dengan sewajarnya. Tidak terlalu ngoyo, tapi juga tidak santai. Tahap demi tahap dilalui dengan baik. Bagian demi bagian dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Beberapa kali harus merogoh kocek yang cukup dalam demi mendapatkan hasil yang diinginkan. Semua berjalan dengan baik, sampai kemudian tibalah permintaan dan peluang yang begitu besar. Berpikir pondasi yang dibuat sudah cukup kuat, permintaan dan peluang yang datang itu ditanggapi dengan ambisi yang berkobar. Sayangnya, yang lupa disadari, pondasi bagian luar memang sudah cukup kuat, tapi tidak bagian dalam – masih belum kering sempurna.

Ketika kondisi memaksa dilakukan perubahan, ketika permintaan semakin banyak sementara bujet pengeluaran tidak mungkin ditambah, keputusan agak membingungkan pun dibuat. Sumber daya yang cukup mahal, yang dulu dibela-belain merogoh kocek dalam, terpaksa dibuang. Kedudukan mereka digantikan dengan sumber daya yang masih mentah. Yang masih sangat sulit menentukan kualitas yang akan dihasilkan.

Secara kuantitas, sumber daya yang dimiliki semakin bertambah. Tapi secara kualitas, poduk yang dihasilkan mengalami penurunan. Hasilnya, satu per satu permintaan dan peluang tadi mengundurkan diri. Beralih pada perusahaan lain. Itulah yang membuat moncong pesawat menjorok ke arah bumi.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s