Putaran yang Terlalu Cepat

Hidup itu selalu berputar. Seperti roda, kadang kita berada di atas dan ada saatnya kita berada di bawah. Standar. Petuah yang sudah sangat sering menyesaki telinga. Yang kadang lupa diingatkan, seperti roda, putaran yang terjadi kadang sangat cepat – seperti mobil yang berpacu tinggi di jalan tol. Atau, bisa juga sangat lambat – layaknya laju kendaraan yang tersendat di kemacetan.

Tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan laju kehidupan mereka. Ada tangan tak terlihat yang mengatur dalamnya pedal gas ditekan. Yang bisa dilakukan manusia hanya menjalani dan berusaha sebaik mungkin. Begitu pula para pemain sepakbola. Dalam waktu cepat, nama mereka bisa melesat. Seperti roket yang diluncurkan NASA yang dalam beberapa menit mampu keluar dari atmosfer menuju ruang hampa udara. Tapi, dalam waktu yang begitu singkat pula mereka bisa terhempas ke dalam kehampaan dan tidak pernah terdeteksi lagi oleh manusia. Begitulah yang dialami beberapa pesepakbola ternama berikut ini.

Nama mereka memang tidak sepenuhnya dilupakan. Tapi melihat karier yang sedang dijalani, mereka sedang berada dalam kehampaan. Berada di sisi roda bagian bawah. Dan, itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat sejak mereka menempati sisi atas.

Andrei Sergeyevich Arshavin (Arsenal)
Andrei-Arshavin
Namanya melesat ketika perhelatan Piala Eropa 2008 digelar. Bersama tim nasional Rusia, dan tandemnya Roman Pavluchenko, Arshavin menarik perhatian masyarakat pecinta sepakbola. Terutama, beberapa klub elite yang sangat ingin memboyongnya dari Zenit St. Peterburg. Arsenal pun menjadi klub pria kelahiran Leningrad, 29 Mei 1981, ini.

Musim pertama bersama Arsenal dilaluinya dengan gemilang. Gol dan assist-nya sangat membantu perjalanan Arsenal pada musim itu. Pendukung Liverpool pasti tidak akan melupakan empat gol yang dibuat pemain ini ketika kedua tim bermain imbang 4-4.

Namun, kegemilangan itu tidak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, peforma Arshavin menurun. Dia lebih banyak mengisi bangku cadangan, walau saat itu Arsenal ditinggal beberapa pemain inti seperti Fabregas dan Nasri. Musim 2011-2012 pun harus dilaluinya sebagai pemain pinjaman di klub yang dulu pernah membesarkan namanya.

Kini, bangku cadangan semakin akrab dengan karier Arshavin. Penampilan Walcott yang cemerlang serta semakin matangnya Chamberlain, membuat Arshavin harus puas dengan status ‘pilihan terakhir’.

Florent Johan Malouda (Chelsea)
Florent-Malouda
Umurnya memang sudah melewati angka 30, tapi Malouda sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk berkompetisi di Liga Inggris. Hanya saja, tidak menurut manajemen Chelsea. Nama pemain nasional Prancis ini tidak dimasukkan dalam daftar pemain yang berlaga di liga tersebut.

Beberapa klub sempat menyatakan tertarik untuk mendapatkan penyerang sayap ini. Alih-alih merelakannya berganti seragam, dan tentunya mengurangi bujet gaji (sesuatu yang sangat memusingkan beberapa klub elite Eropa saat ini), Chelsea lebih memilih memasukkannya dalam tim U-21. Malouda harus rela menjadi pemain senior di liga remaja. Yang menyedihkan, akhir musim lalu dia masih menjadi salah satu pemain yang mengangkat trofi Liga Champions Eropa.

Rafael Fedinand van Der Vaart (Hamburger SV)
Rafael-van-der-Vaart
Inilah kisah salah satu pemain berbakat hasil binaan Ajax Amsterdam. Tahun 2005 menjadi awal petualangannya keluar dari zona nyaman. Klub Jerman, Hamburger SV, yang menjadi pilihannya – padahal tidak sedikit klub-klub besar yang menginginkannya. Tiga musim di klub ini, peforma van Der Vaart semakin memukau. Real Madrid pun kepincut dan menjadikannya salah satu ‘genk Belanda’ di klub kaya tersebut.

Sayang, di klub Ibukota Spanyol ini karier van Der Vaart tidak bersinar. Dia pun harus rela lebih banyak menjadi cadangan. Beruntung, Harry Redknapp menyelamatkannya. Pindah ke Tottenham Hotspurs, penampilan van Der Vaart memberikan dampat positif bagi peforma tim. Dia menjadi pemain kunci di tim Ibukota Inggris ini. Tapi seiring dilengserkannya Redknapp, karier suami Sylvie van Der Vaart pun meredup. Kini, dia kembali ke Hamburger SV – yang masih berharap dia mampu melakukan seperti yang dilakukan pada 2005-2008.

Satu hal tentang pemain ini. Coba Anda cari kata kunci “van der vaart” di pencarian gambar mbah Google. Halaman pertama yang Anda lihat akan lebih banyak diisi oleh foto seksi sang istri. Poor you….

Ricardo Izecson dos Santos Leite/Kaka (Real Madrid)
Ricardo-Kaka
Pada suatu masa, namanya dielu-elukan. Milanisti memujanya. Walau bukan produk asli binaan klub, dia dianggap dewa. Dan saat dia pindah ke Real Madrid pada 2009, Milanisti pun harus kehilangan salah satu pahlawan mereka.

Sebagai pesepakbola, dia memiliki kualifikasi yang lebih dari cukup untuk bisa disebut bintang. Kemampuan menggiring bola yang memukau, permainan yang taktis, dan kontribusi yang luar biasa bagi tim. Sebagai pria, dia punya spesifikasi lengkap untuk dipuja kamu hawa. Sebagai individu, kesahajaan, kesederhanaan, dan ketaatan pada agama membuatnya layak dijadikan panutan.

Namun, bukan berarti perjalanan hidup Kaka akan selalu berjalan dengan mulus. Kedatangan Jose Mourinho boleh dibilang sebagai titik balik kariernya. Sejak Real Madrid ditangani pelatih asal Portugal ini, Kaka jarang menjadi pemain inti. Mourinho memang beberapa kali memberikan kesempatan padanya untuk menjadi pemain inti, tapi sepertinya The Special One tidak puas, atau tidak meyakininya untuk menjadi salah satu pemain yang menerapkan strategi yang diinginkan.

Walhasil, kini, sekitar lima tahun setelah dia meraih Ballon d’Or, nasib Kaka terkatung-katung. Real Madrid ingin ‘menyingkirkannya’, tapi juga tidak mau rugi banyak. Melihat kemampuan yang masih dimiliki, Real Madrid pun memasang harga yang cukup tinggi untuknya. AC Milan, klub yang dulu pernah sangat dibelanya, menyatakan minat untuk membawanya kembali memakai seragam merah-hitam. Tapi tidak mulus. Krisis ekonomi dan kebijakan keuangan yang sekarang ditetapkan UEFA menjadi alasan. Halllooooo… yang kita bicarakan pemain yang dulu pernah menjadi dewa. Itung-itungan banget, sih.

Wesley Seijder (Galatasaray)
Wesley-Sneijder
Jika Anda mengikuti berita transfer pemain belakangan ini, nama Wesley Sneijder pasti sering Anda baca. Dia cukup lama menjadi berita utama transfer pemain sepakbola dunia. Dan akhirnya, Galatasaray yang menjadi tim terbarunya. Dan kalau Anda mengikuti berita tentangnya, Anda akan tahu komentarnya saat konferensi pres di Galatasaray. “Saya ingin mengakhiri karier di klub ini.” Hah? Segitu putus asanya? Di usia yang masih 28, pantaskah berbicara tentang pensiun? Enggak malu sama Ryan Giggs, Javier Zanetti, atau David Bekcham?

Nama Sneijder sempat kembali mencuat ketika Jose Mourinho mengeluarkannya dari lumpur Real Madrid. Mengakhiri musim dengan raihan tiga gelar bagi Inter Milan, dan membawa tim nasional Belanda ke Final Piala Dunia, Sneijder sempat masuk daftar peraih Ballon d’Or. Sayangnya, entah pertimbangan apa yang membuat penghargaan itu diterima Messi. Sigh….

Kebijakan keuangan yang ditetapkan UEFA yang kembali menjadi kendala (atau dijadikan kendala?). Saat menawarkan kontrak baru, Inter Milan menginginkan gaji Sneijder dikurangi. Terasa aneh? Ganjil? Kalau saya sih iya, mengingat Moratti mati-matian mempertahankannya ketika begitu banyak klub yang menginginkannya setelah Inter meraih treble winners. Hanya dalam dua tahun ‘rasa cinta’ Moratti luntur. Inter pun harus rela dengan nilai transfer yang sangat jauh dibanding yang mereka terima dari beberapa klub di akhir 2010.

Bukan Akhir…
Ketika terbuang dari klub besar dan pindah ke klub yang jauh lebih kecil, seorang pemain akan disebut sedang mengalami kemunduran dalam kariernya. Logika sederhananya seperti itu. Tapi bukankah yang sedang kita bicarakan logika roda, yang bisa kembali lagi ke atas?

Roberto Baggio menjadi contoh yang sangat bagus untuk menjelaskan logika roda tersebut. Memulai karier di Vicenza lalu ke Fiorentina, Baggio kemudian menjadi bagian dari dua tim besar di Italian, Juventus dan AC Milan. Sayangnya, dia pun kemudian harus terbuang ke Bologna.

Namun, di sinilah keistimewaan Baggio. Terbuang ke klub yang lebih kecil bukan berarti akhir dari kariernya. Baggio termotivasi menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Dan itu dia lakukan dalam waktu yang singkat. Cukup satu tahun bagi Baggio untuk kemudian kembali ke klub besar Italia lainnya, Inter Milan.

Dua musim di Inter Milan, Baggio lalu mengakhiri karier di Brescia. Dan lagi-lagi, dia menunjukkan dirinya adalah pemain yang bintang. Pemain dengan kualitas. Tidak hanya bagus di antara yang bagus, tapi juga mampu mengangkat yang tidak bagus menjadi bagus.

Penduduk Italia mungkin tidak akan pernah melupakan tendangan penaltinya yang gagal di Final Piala Dunia 1994. Tapi mereka pun akan mengingat Baggio sebagai salah satu bintang yang mampu terus bersinar hingga penghujung kariernya.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s