Cukup Sampai Akhir Musim

Caretaker-low

Musim yang dijalani sebuah klub sepakbola kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan. Meski dengan persiapan yang matang, musim yang dijalani tidak selalu mulus. Ada saja berbagai kendala yang menghambat dan membuat klub tersebut melakukan sesuatu yang di luar perencanaan.

Penggantian pelatih ketika kompetisi sedang berlangsung bukanlah sesuatu yang asing lagi. Prestasi klub menjadi faktor utama pertimbangan para pemilik klub untuk mengganti pelatih klub mereka bahkan sebelum musim berakhir. Beberapa kejadian bahkan pemecetan dilakukan ketika musim kompetisi baru saja dimulai.

“Caretaker” atau pelatih pengganti diharapkan dapat menjadi jalan keluar dari situasi yang sedang dihadapi klub tersebut. Tidak mudah, karena ada berbagai faktor yang harus diharapi. Persiapan yang sangat minim. Hanya punya beberapa hari (kadang jam) untuk membangunkan tim dari keterpurukan. Materi pemain pun harus terima apa adanya, karena sulit mengharapkan manajemen bisa memberikan dana transfer dalam jumlah besar untuk membentuk tim seperti yang diinginkan.

Namun begitu, beberapa nama sukses menjadi solusi bagi keterpurukan klub. Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, mereka mampu membawa klub tersebut bangkit dan bahkan menuai prestasi. Sebut saja Chelsea. Sejak dimiliki taipan asal Rusia, klub asal Kota London, Inggris, ini menjadi klub yang paling aktif dalam bursa penggantian pelatih. Beberapa nama harus meninggalkan klub sebelum musim kompetisi berakhir. Dan di saat itulah, beberapa nama mampu menunjukkan kualitasnya. Guus Hiddink dan Roberto di Matteo dua nama yang mungkin patut dikedepankan. Tiba sebagai caretaker, dua pelatih ini mampu membawa Chelsea meraih prestasi.

Meski tidak menghasilkan gelar juara, nama Kenny Dalglish pun patut dikedepankan sebagai caretaker yang cukup berhasil. Tidak hanya membawa Liverpool menempati posisi yang lebih baik di klasemen Liga Inggris, penyerang legendaris ini pun mampu membangkitkan moral dan kepercayaan diri pemain, manajemen, serta pendukung tim.

Namun, kadang perubahan yang berhasil dilakukan oleh para caretaker ini membuat pihak manajemen klub lupa diri. Seusai musim, mereka mengubah status caretaker menjadi pelatih kepala.

Keputusan itu sebenarnya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang caretaker diangkat menjadi pelatih kepala dan berstatus tetap. Tapi, yang kadang dilupakan adalah semacam mitos yang membayangi caretaker. Semacam mitos memang, karena tidak ada bukti empiris yang mendukung pernyataan ini. Sekadar hasil pengamatan atas keadaan yang selama ini terjadi.

Sebelum membahas lebih jauh, yang dimaksud caretaker dalam tulisan ini tidak hanya pelatih yang dengan jelas berstatus caretaker sejak awal, tapi semua pelatih yang ditunjuk ketika musim kompetisi sudah dimulai – menggantikan pelatih kepala yang dipecat karena peforma yang tidak memuaskan. Termasuk dalam kategori ini adalah Harry Redknapp yang pada Oktober 2008 ditunjuk menjadi pelatih Tottenham Hotspurs menggantikan Juande Ramos.

Kembali ke semacam mitos, beberapa kejadian sepanjang 10 tahun terakhir seperti membuktikan caretaker tidak seharusnya diangkat menjadi pelatih tetap. Berbagai keberhasilan, atau bahkan prestasi, yang mereka dapatkan selama menjadi caretaker seharusnya tidak dijadikan alasan mereka diberikan kontrak tetap. Anggap itu hal luar biasa yang berhasil mereka lakukan. Dan ketika musim kompetisi baru dimulai, awalilah dengan yang baru. Pelatih baru dengan visi permainan yang baru. Setidaknya itu yang dikatakan kenyataan 10 tahun belakangan.

Ketika menangani Spurs, Redknapp memang boleh dibilang cukup berhasil. Bahkan, pada musim kedua dan ketiga, pelatih ini mampu menunjukkan konsistensi permainan. Tapi kemudian, yang terjadi adalah kekecewaan. Pemecatan harus dilakukan karena manajemen klub tidak puas dengan peforma klub. Di Liga Italia, pelatih muda Stamaccioni sedang berusaha menggagalkan semacam mitos tersebut – sambil berharap Moratti memiliki cukup kesabaran menunggu dia melakukan sesuatu untuk Inter.

Bukti terakhir semacam mitos ini adalah pelatih asal Italia, Roberto di Matteo. Menggantikan Villas-Boas, pria berkepala plontos ini mampu mempersembahkan gelar yang sangat berharga bagi Chelsea: Juara Liga Champions Eropa. Berdasar prestasi itu, dia pun kemudian disodorkan kontrak tetap. Dan yang terjadi, Chelsea seperti tim yang kehilangan arah di awal musim 2012-2013 – meski telah melakukan cukup banyak perubahan dengan mendatangkan pemain-pemain muda berbakat. Di Matteo pun dipecat dan saat ini posisinya digantikan oleh Rafael Benitez.

Sebelumnya, Kenny Dalglish mengalami hal serupa. Bahkan, walau mampu memberikan gelar di musim keduanya, mantan penyerang legendaris ini tidak mampu menghindar dari pemecatan.

Keputusan manajemen Liverpool menawarkan kontrak tetap pada Dalglish tidak terlepas dari peforma tim ketika dia datang menggantikan Roy Hodgson yang dianggap gagal. Bahkan, ada isu keberhasilan Dalglish tersebut memaksa pihak manajemen mengubah rencana yang sudah mereka buat. Sempat terdengar kabar, untuk kompetisi 2011-2012, manajemen Liverpool sudah mengontak Martin O’Neil untuk memimpin anak-anak Anfield. Tapi, Dalglish mampu membatalkan kesepakatan itu dan berbuah kekecewaan pada O’Neil.

Saat ini, ada beberapa nama yang mengemban status caretaker. Kinerja Rafael Benitez di Chelsea sampai saat ini cukup bagus, walau tidak bisa dibilang memuaskan. Selain itu, dengar-dengar Southamton juga baru mengganti pelatih mereka. Jadi, tunggu saja bagaimana kelanjutan semacam mitos tersebut, kalau nama-nama itu berhasil mengangkat prestasi tim dan akhirnya ditawarkan perpanjangan kontrak.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s