Menjadi Bodoh

“Seekor keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama kedua kalinya dengan cara yang sama.” Pernah dengar kalimat itu? Saya pernah. Bahkan, berulang kali kalimat itu saya ucapkan pada orang lain. Intinya, mau menyadarkan mereka “Mbok ya belajar dari pengalaman. Manusia emang enggak ada yang sempurna, tapi ya jangan bodoh-bodoh amat gitu lho.” Dan sepertinya, kalimat itu harus saya ucapkan ke diri saya sendiri. Saat ini. Meminjam corong panjang yang terjulur ke telinga agar suara yang keluar dari mulut saya benar-benar didengar dan diresapi.

Bodoh? Iya. Kata itu dan berbagai sinonimnya sangat patut disematkan pada saya saat ini. Bukan hanya dua kali, seperti yang disebut dalam kalimat itu, tapi berulang kali. Berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Hanya berdasar pada keyakinan semu “kali ini hasilnya akan beda”, kesalahan itu pun kembali dan kembali berulang.

Tidak belajar? Tidak juga. Saya belajar kok dari pengalaman yang pernah saya alami. Dan dari hasil belajar itulah keyakinan semu tadi timbul. Merasa tahu penyebab kegagalan yang sebelumnya, merasa tahu cara mengantisipasinya, dan merasa yakin kali ini mampu meraih hasil yang lebih baik. Sayangnya, itu hanya ‘rasa’ saya. Rasa yang sama sekali tanpa bukti. Rasa yang selalu salah.

“Lalu, kalau sudah tahu salah salah, kenapa tidak diperbaiki atau tinggalkan saja kalau memang tahu semua ini tidak akan mengarah ke mana pun?”

Nah, justru di situlah letak permasalahan yang terus dan terus menjadi pertimbangan utama.

Gimana, ya? Saya ini, dalam beberapa hal, termasuk orang yang optimis. Saat melakukan sesuatu dan sudah mulai melakukannya, saya tidak akan berhenti sebelum akhirnya tiba pada tujuan akhir: gagal atau berhasil. Tujuan yang benar-benar akhir. Bukan yang setengah-setengah. Bukan yang karena sudah mencoba sekali lalu bilang “Sudahlah. Toh saya enggak berhasil.” Saya ini perlu sampai muka bonyok, hidung patah, gigi rontok, tubuh penuh luka hingga akhirnya bisa mengakui kalau ternyata saya ini gagal.

Bodoh? Lagi-lagi iya. Kenapa harus menunggu sampai bonyok untuk mengakui gagal? “Kalau belum bonyok, berarti masih bisa bangun, masih bisa usaha.”

Dan yang sekarang, saya sebenarnya sudah tahu ke mana arah yang akan dituju: kegagalan. Tapi toh saya tetap menjalaninya. Alasannya? Kalau sudah keluar rumah, pantang pulang lagi sebelum tiba di tempat tujuan – meski tempat tujuan tersebut hanya berputar-putar di daerah yang tidak diketahui karena alamat yang didapat salah.

Begitulah. Kain kasa, plester, dan obat luka sudah disiapkan. Bahkan kalau perlu, jarum dan benang jahit pun sudah tersedia. Tidak perlu obat penahan rasa sakit. Saya ingin menikmati semua rasa yang ditimbulkan. Masokis? Iya, itulah saya. Saya akan meresapi setiap luka yang saya dapat. Kalau perlu, saya akan terus memukul luka-luka itu dan meringin kesakitan karenanya lalu terus mengulangi sampai saya terpuaskan dengan segala rasa sakit.

Salam.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s