Am I a Feminist?

Saya terkejut mendengar komentar seorang teman beberapa minggu lalu. “Lo sekarang feminis?” kata teman tersebut. Mendengar komentar itu, saya sempat terdiam.

Saat itu, sedang acara mahasiswa. Acara penyambutan mahasiswa baru. Saat sesi berjalan dari satu pos ke pos lain, tanpa sadar saya melakukan sesuatu yang membuat teman memberikan komentar tersebut.

Satu per satu kelompok masuk ke pos yang jaga. Tanpa direncana dan keluar dari konsep utama pos tersebut, saya dan teman-teman yang berjaga di pos itu pun bertindak sesuai dengan situasi. Dan, situasi yang terjadi adalah semua kelompok dipimpin oleh pria – walau jumlah wanita lebih banyak. Lalu, tidak ada satupun dari ketua kelompok yang mampu menunjukkan mereka layak menjadi pemimpin. Walhasil, mulailah dilakukan seleksi ulang mencari pemimpin. Juga tanpa direncanakan, ketua kelompok baru yang terpilih semuanya berjenis kelamin wanita. Dan di saat itulah teman tersebut memberikan komentar.

“Apakah saya seorang feminis?”. Entahlah. Sampai saat ini, saya tidak terlalu paham dengan konsep feminis. Apalagi dengan berbagai macam aliran dan pemikiran yang ada di dalamnya. Saat acara tersebut, saya hanya bertindak menurut naluri dan situasi. Saya merasa ketua tim tidak ada yang layak dan setelah melakukan penyelidikan sesaat, ada anggota kelompok yang lebih layak menjadi pemimpin -yang entah bagaimana semuanya berjenis kelamin wanita.

Saya sengaja? Tidak. Itu semata hanya kebetulan. Tanpa terencana.

Dalam kehidupan sehari-hari pun saya mungkin sangat jauh dari kriteria feminis. Secara umum, saya akan menghormati siapapun yang bisa menghormati dirinya dan orang lain. Saya akan menghargai siapapun yang bisa menghargai dirinya dan orang lain. Tidak hanya pada golongan tertentu, pada jenis kelamin tertentu. Kepada semua.

Saya akan menghargai wanita yang bisa menjaga dirinya. Menempatkannya layak untuk dihormati. Kalau mereka tidak memberikan tempat yang layak untuk dirinya, menghargai dirinya, kenapa saya harus menghargai dia?

Jujur saja, dulu saya selalu memicingkan mata melihat wanita yang berprofesi sebagai SPG. Maklum, dari yang saya lihat, profesi ini hanya mengandalkan fisik semata – masih lebih ‘sulit’ menjadi PSK karena mereka harus bisa merayu dan memberikan layanan yang memuaskan agar para pelanggan selalu datang kembali. Tapi dengan SPG, mereka cukup berdiri dengan pakaian yang seksi dan selalu tersenyum atau berpose ketika ada orang yang melihat ke arah mereka.

Sampai kemudian, saya coba mengobrol dengan beberapa dari mereka. Dari hasil obrolan ini, ternyata sebagian dari mereka memang melakukan profesi ini karena mudah. Tidak perlu mikir. Plus, mereka memiliki aset berharga untuk menjalani profesi ini. Sementara, sebagian yang lain menjawab profesi yang sedang dijalaninya adalah jalan untuk mencapai cita-cita mereka. Entah itu berarti sekadar mencari uang untuk kuliah atau mencari pengalaman demi pengembangan diri.

Beberapa perusahaan yang menjadi pengguna jasa SPG pun mulai mencantumkan kualifikasi tambahan dalam perekrutan. Tidak sekadar cantik dan seksi, tapi juga cerdas dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Walhasil, pandangan saya terhadap profesi ini pun mulai berubah.

Dalam kehidupan sehari-hari, hanya satu yang memotivasi saya menghormati para wanita: saya lahir dari rahim seorang wanita. Terlebih, saya memiliki seorang kakak dan kini dengan beberapa keponakan yang berjenis kelamin wanita. Itu pun dengan catatan tadi, hanya karena mereka layak untuk dihormati.

Kembali ke soal acara kampus, ada satu kejadian yang membuat saya cukup miris. Pada salah satu kelompok, ternyata ada seorang wanita yang awalnya sempat mengajukan diri menjadi ketua kelompok. Tapi kemudian, dia mundur ketika ada anggota kelompok lain yang mengajukan diri – seorang pria. Ketika saya tanya alasan dia mundur, wanita ini menjawab “dia kan cowok.” Apa???

Begitulah, ada kenyataan menyedihkan di acara kampus tersebut. Mahasiswa baru tersebut, baik pria maupun wanita, menganggap jenia kelamin merupakan faktor yang sangat menentukan dalam memilih pemimpin. Kondisi yang sangat menyedihkan mengingat mereka adalah mahasiswa yang hidup di masa ‘modern’, penuh emansipasi, sangat menjunjung persamaan hak. Sangat sedih mengingat Cut Nyak Dien dan para pejuang yang lain sudah berjuang di masa yang jauh sebelum mereka hidup. Bahkan di masa yang katanya mengungkung kehidupan kaum wanita, mereka berani maju sebagai pemimpin dan dikenang sebagai pemimpin yang hebat.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s