Kuliah-Pulang atau Ikut Organisasi? Bukan Dilema, kok

Tiap kali bertemu dengan angkatan baru di kampus, ada satu hal yang sepertinya menjadi dilema berulang di tiap tahun. Mau aktif ikut berorganisasi di kampus tapi takut IPK jelek. Mendengar pernyataan seperti itu, saya selalu tersenyum (beberapa kali tertawa terbahak).

“Santai aja lagi. Itu bukan dilema,” kata saya yang membuat mata mereka agak terbelalak.

Dan bagi saya, itu memang bukan dilema.

Tujuan berkuliah adalah untuk mencari ilmu. Memperdalam pengetahuan. Tapi, ilmu apa? Pengetahuan yang seperti apa? Ilmu yang diajarkan di dalam kelas? Pengetahuan yang didapat dari buku? Kalau cuma demi mengejar itu, percuma buang waktu, uang, dan tenaga berkuliah. Dengan teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, akses mendapatkan ilmu pengetahuan seperti itu bisa didapatkan dengan mudah. Tidak perlu bayar uang semester, uang bangunan, serta uang-uang yang lain.

Padahal, ini berdasar pengalaman yang saya alami ketika kuliah, ada banyak ilmu pengetahuan yang diajarkan di luar kelas. Ilmu pengetahuan yang diajarkan tidak dalam format dosen-mahasiswa. Menghadap ke papan tulis. Kertas-kertas penuh catatan. Dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan yang tidak perlu membayar uang SKS demi mendapatkannya. Hanya diperlukan kesungguhan dan keinginan untuk mempelajari.

Soft-Skill Sehari-hari
Belakangan ini, istilah ‘soft-skill’ begitu sering saya dengar. Dia menjadi hal yang sepertinya sangat penting dalam perkembangan hidup seseorang. Penasaran, akhirnya saya coba bertanya ke Mbah Google mengenai makna istilah ini. Membaca penjelasan dari beberapa referensi, kok, saya merasa itu bukan sesuatu hal yang wah, luar biasa, spektakuler, atau apalah. Mengingat kembali masa ketika kuliah, banyak hal yang dijadikan materi pelatihan soft skill saya dapatkan secara tidak langsung ketika aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi di kampus. Dan lagi, itu saya terima gratis. Tanpa bayaran.

Memang, proses belajar yang saya lakukan cukup panjang dan tidak terstuktur dengan baik. Wong, namanya juga sambil menyelam minum air. Sayangnya saat itu saya menyelam terlalu dalam sehingga perut saya jadi sangat kembung.

Pelajaran soft skill dalam kehidupan berorganisasi di kampus tidak seperti materi soft skill pada pelatihan yang mahal. Dalam ruang ber-AC, hanya butuh beberapa jam atau hari, dan perubahannya langsung dapat dirasakan seketika.

Perlu kesabaran dan keinginan sungguh-sungguh untuk mempelajari soft skill dalam kehidupan berorganisasi di kampus. Prosesnya berjalan perlahan dan dalam waktu yang lama. Perubahan yang terjadi pun tidak dirasakan. Tahap demi tahap berlalu. Mengalir bersama aktivitas sehari-hari.

Perubahan (perbedaan) baru terasa ketika lepas dari kehidupan kampus dan memasuki dunia kerja. Bertemu lagi dengan teman-teman di kampus yang tidak aktif berorganisasi dan lihat perkembangan kehidupan yang terjadi.

Tapi, kan, IPK Jadi Jelek?
Ikut aktif dalam kegiatan di kampus memang punya konsekuensi, terutama dalam hal waktu. Ada kegiatan yang harus dilakukan seusai jam kelas usai. Bahkan, tidak jarang harus bolos kelas demi kegiatan tersebut.

Hal ini yang biasanya menjadi keberatan utama mahasiswa baru untuk ikut aktif berkegiatan di kampus. Hmmm….

Pengakuan jujur, saya sering bolos kelas. Tapi, saya bolos lebih karena saya sedang malas, dan bukan karena urusan kegiatan kampus. Saat masuk ke kelas pun, tas saya tidak dipenuhi oleh buku. Tapi oleh perkakas. Syukur alhamdulillah, saya lulus kuliah dalam 8 semester melalui skripsi dan dengan nilai di atas standar kecakapan.

Memang, kondisi dan budaya di setiap kampus berbeda. Saya kebetulan berada di lingkungan yang sangat mendukung untuk aktif berkegiatan tanpa harus mengorbankan hal akademis.

Senior saya di kampus sangat membantu adik-adiknya. Tiap kali saya membawa tugas dan meminta penjelasan soal tugas, mereka akan sangat senang menjelaskan – walau itu dilakukan sambil bermain kartu di kantin. Atau, ketika di awal semester dosen memberikan daftar buku yang harus dibaca, mereka akan dengan senang hati meminjamkan buku-buku itu. Dengan cara itu, walau hampir setiap hari pulang lewat tengah malam dari kampus, saya tetap bisa menjaga indeks prestasi.

Hal lain yang saya pelajari dari aktif di kampus adalah tentang manajemen waktu. Walau dengan berbagai kegiatan yang saya lakukan, jujur, saya tidak pernah telat mengumpulkan tugas. Bahkan, tidak jarang saya sudah menyelesaikan tugas jauh sebelum batas waktu yang ditentukan. Kuncinya: manajemen waktu.

Saya sadar, keinginan saya untuk terus aktif berkegiatan di kampus memaksa harus pulang larut dari kampus. Sampai kost, tentu sudah berganti hari. Karenanya, saya harus bisa memaksimalkan setiap waktu luang yang saya miliki untuk mengerjakan tugas. Atau, saya mengatur (menyediakan) hari tertentu khusus untuk mengerjakan tugas.

Sekadar info, selama 8 semester berkuliah, saya tidak pernah berkuliah di hari Jumat. Pernah saya mendapat kelas di hari itu, tapi kemudian saya melobi dan coba pindah ke hari lain dan berhasil. Hari Jumat bagi saya adalah saatnya ‘bersantai’. Bukan santai dalam arti selalu berleha-leha. Hari ini saya selalu pergunakan untuk melakukan berbagai hal selain mengikuti perkuliahan di kelas. Paling sering sih untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Ya, begitulah. Kalau ada yang bilang mau ikut aktif berkegiatan di kampus tapi takut IPK rendah, saya hanya bisa bilang “Lo udah jadi mahasiswa. Tinggalinlah pola pikir mahluk berseragam.”

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “Kuliah-Pulang atau Ikut Organisasi? Bukan Dilema, kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s