Kopi Hitam, Lucky Strike Filter, dan Sarah Mclachlan

Beberapa hari ini, timeline Twitter saya dipenuhi ‘ungkapan galau’ menjelang sidang skripsi. Beberapa teman, atau mungkin tepatnya adik kelas di kampus, sedang bersiap menghadapi hari penentuan bagi seorang mahasiswa. Sebenarnya, sih, berdasarkan pengalaman, sidang skripsi enggak semenakutkan seperti yang dibayangkan. Ya memang, beberapa teman dulu mengalami sidang yang ‘cukup menyeramkan’. Diserang habis-habisan sama dosen. Tapi itu hanya sedikit, dan kalau mengingat perjalanannya menyusun skripsi, sidang yang ‘cukup menyeramkan’ itu tidak terlepas dari kesalahan teman tersebut.

Saya pun teringat pada masa-masa ketika menyusun skripsi dulu (dan seorang gadis yang saat itu sangat setia mendukung saya menyelesaikan skripsi. Humppfffftttt….).

Berdasar pengalaman, ada beberapa hal yang menjadi stereotipe jika sedang menyusun skripsi: bergadang, bergadang, dan bergadang. Padahal, bukannya ingin menyombongkan diri, saya tidak mengalami hal stereotipe itu. Bahkan, boleh dibilang, saat menyusun skripsi merupakan fase kehidupan saya yang sangat teratur dan rada sehat. Pada masa itu, bisa dipastikan jam tidur saya paling telat pada jam 12 malam lalu bangun pada jam 5 di pagi harinya. Satu-satunya malam ketika saya tidur sangat larut adalah ketika malam sebelum saya sidang. Alasannya? Bukan karena deg-degan karena akan menjalani sidang skripsi, tapi karena pada dini hari itu ada pertandingan final Piala Dunia.

Sedikit mengulas kilas balik masa kuliah, saya termasuk mahasiswa yang ‘sibuk’ di kampus. Terlibat dalam organisasi kemahasiswaan, ikut kelompok kesenian di kampus, juga menerbitkan majalah kampus bersama teman-teman. Ekses dari ‘kesibukan’ tersebut adalah perkuliahan saya agak tertinggal dari teman-teman satu angkatan. Bukan dalam hal IPK, tapi dalam jumlah SKS. Selama 4 tahun berkuliah, hanya dua semester saya mengambil SKS lebih dari 20. Yang pertama pada semester 1 karena memang harus mengambil paket yang sudah ditetapkan dan yang kedua pada semester akhir karena saya sangat ingin (harus) lulus pada semester itu. Selebihnya, paling tinggi saya mengambil 18 SKS di setiap semesternya – yang berakibat saya harus mengambil SKS super tinggi di semester akhir untuk memenuhi batas minimal kelulusan.

Namun, lagi-lagi bukan ingin menyombongkan diri, masa skripsi saya tidak dilalui dengan penuh kecemasan, rambut dan pakaian yang carut marut, stres tingkat tinggi, atau sebagainya. Saya merasa biasa saja, walau di semester itu saya harus menjalani SKS tertinggi sepanjang sejarah. Selain menyusun skripsi, saya harus mengambil beberapa mata kuliah wajib dan pilihan bebas. Saya jenius? Tidak juga. Membaca tulisan-tulisan di blog ini akan menunjukkan kalau saya orang yang biasa-biasa saja.

Saya bisa melakukan itu (santai ketika menyusun skripsi) karena sudah merencanakan sejak jauh-jauh hari.

Persiapan skripsi sudah saya mulai sejak semester 5. Di semester ini, saya pertama kali mengajukan topik ke dosen pembimbing akademik. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, topik yang saya ajukan saat itu ditolak. Semester berikutnya saya mengajukan topik yang baru, yang juga ditolak. Baru pada semester 7 topik yang saya ajukan diterima. Diterima di sini bukan bermakna saya benar-benar bisa melanjutkan menyusun skripsi dengan topik tersebut. Pengajuan topik skripsi secara resmi baru bisa dilakukan ketika mengambil mata kuliah “Seminar” dan pada semester 7 saya belum mengambil mata kuliah tersebut. Diterima di sini berarti topik yang saya ajukan masuk akan untuk disusun oleh seorang calon sarjana – maklum dua topik sebelumnya ditolak karena saya mengajukan topik yang ‘terlalu sotoy’ untuk tataran sarjana.

Sejak saat itu, saya pun mulai berdiskusi dengan dosen. Tidak hanya dengan dosen pembimbing akademik (karena belum mengajukan topik skripsi, saya belum mendapatkan dosen pembimbing skripsi), tapi juga dosen-dosen yang ada di jurusan. Tidak peduli pengkhususan mereka apa, setiap ada kesempatan, saya ‘mempresentasikan’ topik yang sudah saya pilih untuk skripsi. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan dosen ini, saya mendapat banyak masukan. Tentang cara pemrosesan data, rujukan yang diperlukan, dan berbagai hal lain yang diperlukan dalam pengerjaan topik yang saya ajukan.

Tahap selanjutnya yang saya lakukan adalah perlahan-lahan mengumpulkan referensi yang diperlukan. Tidak mudah. Karena topik yang saya bahas merupakan bidang keilmuan yang berumur masih muda. Belum banyak buku referensi yang membahas mengenai bidang keilmuan ini. Bahkan, koleksi perpustakaan pun tidak mendukung. Jujur, selama menyusun skripsi, tidak ada satu pun bahan referensi yang saya dapatkan dari perpustakaan. Saya mendapatkannya dari hasil meminjam dosen, pinjam ke senior, atau mengubrak-abrik toko buku bekas yang ada di sekitar kampus.

Sambil mencari-cari bahan referensi dan membacanya, saya pun mulai menyusun kerangka skripsi yang akan dibuat. Coretan kasar. Karenanya, ketika memasuki semester 8 dan mengambil mata kuliah “Seminar”, saya sudah lebih siap dari teman-teman yang lain.

Karena sudah mempunyai kerangka, sepanjang semester 8 saya hanya perlu melakukan pengembangan – berdasarkan hasil diskusi dengan dosen pembimbing skripsi maupun dari analisis data.

Dan begitulah, keseharian saya dimulai pada jam 5 pagi. Bangun tidur, saya solat lalu memasak air dan menyalakan komputer. Air mendidih dan komputer menyala, saya membuat kopi hitam dan mendengarkan Sarah Mclachlan. Tidak duduk di depan komputer, saya lalu keluar kamar kost. Duduk di teras, menikmati kopi hangat sambil mendengar suara merdu mbak Sarah dan tentunya, merokok. Selama masa menyusun skripsi, ini menjadi semacam ritual rutin di pagi hari. Jam 7, saya mandi, berganti pakaian, dan pergi ke kampus. Jika sedang tidak ada kelas, jam 7 adalah saatnya mencari sarapan. Setiap pagi komputer dinyalakan hanya untuk mendengar suara merdu suara mbak Sarah. Saya sama sekali tidak membuka file skripsi. File ini baru saya buka pada sore hari, ketika pulang dari kampus atau selesai menemani ‘gadis yang saat itu setia mendukung saya menyelesaikan skripsi’.

Dipotong acara makan malam, pergulatan saya dengan skripsi paling lambat berakhir pada jam 11 malam. Kalau belum terlalu lelah, saya menyempatkan diri bermain Football Manager – buat yang gila bola, pasti tahu permainan ini. Itulah rutinitas saya selama satu semester menyusun skripsi.

Satu pesan dari teman yang menurut saya sangat berharga dan sangat membantu ketika menyusun skripsi. “Kalau lagi nyusun skripsi, mending ngungsi dulu. Tinggal sendiri.”

Sebelum menyusun skripsi, saya tinggal bersama teman-teman di sebuah kontrakan tiga-petak yang sungguh sangat sederhana sekali. Dan ketika mulai menyusun skripsi, saya memutuskan kost sendiri. Lokasi kost yang saya pilih pun sangat mendukung. Berada di tengah kebuh pisang. Sunyi. Cukup jauh dari keramaian, yang membuat saya malas untuk keluar walau keinginan berkumpul bersama teman-teman sangat kuat. Kalaupun yang tinggal di rumah, pesan ini pun bisa dipertimbangkan. Cobalah kost. Kost sendiri membuat kita lebih fokus mengerjakan skripsi. Dan kalau bisa, carilah lokasi kost seperti yang saya lakukan.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s