Duduk Sendiri, Menatap Dinding

Kenangan-Lama

Siang itu hujan turun rintik. Setelah selesai waktu makan siang, orang-orang bergegas kembali ke aktivitas mereka. Berjalan kembali ke kantor, membereskan lagi pertokoan, mengatur bangku-meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan.

Seorang wanita paruh baya duduk sendiri di trotoar. Tas kulit berwarna coklat diletakkan di sisi kanannya. Matanya terus memandangi dinding abu-abu di hadapannya. Sebuah gedung berlantai lima belas.

Orang-orang lalu lalang di antara wanita paruh baya dan gedung bercat abu-abu itu. Pandangan mereka kadang terarah pada wanita yang warna rambutnya hampir seperti cat tembok gedung. Beberapa orang sempat merogoh kantung mereka, mengambil uang kecil untuk diberikan kepada wanita yang duduk di trotoar. Tapi kemudian, mereka membatalkan niat itu. Wanita itu bukan pengemis. Dia terlihat rapi, terawat, dengan pakaian yang cukup berada. Lengkap perhiasan dan aksesori yang cukup mahal. Dia tidak sedang menantikan uang-uang receh.

Gerimis terus saja turun. Membasahi jalan, gedung, mobil, pohon, dan semua yang ada di muka bumi. Tubuh wanita itu pun mulai basah. Rambut-rambut keperakannya dihiasi butiran kecil air yang turun. Bajum syal, serta bagian tubuh yang tak tertutup pakaian juga basah. Tapi, dia tetap duduk di situ, menatap ke arah gedung.

Sebelum gedung itu berdiri, di tempat itu ada sebuah taman bermain. Tidak terlalu luas, juga tidak terlalu bagus. Taman main biasa. Dua buah ayunan, jungkat-jangkit, serta beberapa arena mainan lainnya. Dicat dengan berbagai warna.

Di taman sederhana itu masa kecil wanita setengah baya yang duduk di trotoar dihabiskan. Setiap waktu luang, setelah pulang dari sekolah, di hari libur, dia habiskan bermain-main dengan temanya di situ. Kadang sampai larut, ketika matahari telah hilang.

Di tempat itu, dia pernah menangis sekaligus tertawa. Dia masih ingat ketika terjatuh dari ayunan. Dorongan dari teman terlalu kuat. Dia terlepas dari ayunan, terbang menjauh dari ayunan dan mendarat di tanah merah. Dengkulnya terluka karena kejadian itu. Dia pun menangis karena kesakitan. Darah mengucur dari luka itu. Teman-teman pun mengantarkannya pulang. Tapi, dia pun kembali bermain di taman itu keesokan harinya – dengan perban membalut luka di dengkul.

Di taman sederhana itu masa kecilnya dilalui. Taman yang beberapa tahun telah hilang. Diratakan lalu dihapus dari pandangan, tapi tidak dari ingatan anak-anak yang pernah bermain di sana.

Wanita paruh baya masih duduk di trotoar, mengenang semua kejadian yang pernah dialaminya di taman bermain itu. Di bawah gerimis yang mengguyur siang, di antara orang-orang yang berlalu lalang. Matanya menatap dinding abu-abu, ingatannya menembus waktu.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s