Sayangnya Mulut tak Mengarah ke Telinga

mulut dan telinga

“Easier said than done”. Begitu kata orang. Dan memang benar. Saya setuju dengan pernyataan itu, karena dalam beberapa hal saya pun melakukannya. Mudah saja bicara tanpa pernah melakukan atau mewujudkan yang diucapkan. Sepertinya begitu pula yang dilakukan oleh banyak orang.

Bicara memang mudah, dan sialnya banyak orang yang sangat senang bicara.

Sudah sifat alami manusia senang didengar. Mendapat perhatian, disimak, didengarkan oleh orang lain. Memberi nasihat terhadap masalah yang dihadapi orang lain. Memberi semangat untuk terus berusah keluar dari masalah. Atau, memotivasi agar melakukan sesuatu. Kesenangan akan bertambah jika orang tersebut benar-benar melakukan seperti yang kita bicarakan.

Padahal, setidaknya ini juga beberapa kali terjadi pada saya, yang kita bicarakan pada orang merupakan pelampiasan dari sesuatu yang tidak kita lakukan. Entah karena tidak bisa, tidak berani, atau penyebab lainnya. Orang yang menjadi pendengar menjadi perpanjangan impian yang tak kita wujudkan. Atau mungkin, semacam kelinci percobaan. “Kalau ternyata dia bisa, saya baru akan melakukannya.”

Begitulah. Sebagian dari kita, termasuk saya, kadang terperangkap dengan citra yang ingin dibangun di mata masyarakat. Kita ingin terlihat bijaksana, selalu punya jalan keluar terhadap berbagai masalah, mampu menyikapi berbagai hal, dan segala pandangan positif lainnya. Padahal, pada kenyataannya, kita (atau setidaknya saya) hanyalah seorang pengecut yang tak berani melakukan yang kita ucapkan.

Kalau merunut ilmu perbintangan, sifat saya ini mungkin karena zodiak. Saya libra. Karenanya, kadang terlalu banyak pertimbangan dalam menghadapi suatu masalah atau ketika ingin melakukan sesuatu. Itu dalih saya, entah alasan apa yang dimiliki orang berzodiak lain.

Andai saja mulut saya mengarah ke telinga saya, mungkin saya akan menjadi orang yang lebih berani. Dan semua omong kosong yang saya ucapkan kepada orang lain, akan berguna pada kehidupan saya. Atau setidaknya, jika omongan itu tidak benar dan gagal, saya lah yang akan menanggung akibatnya – bukan orang yang menganggap saya bijaksana dan selalu punya solusi terhadap berbagai masalah.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s