Client= Bos or Partner?

Bagaimana cara menghadapi klien? Hmmm…. Setiap orang mungkin akan memberikan jawaban berbeda. Tergantung pandangannya masing-masing. Ada yang bersikap subjektif tapi ada pula yang objektif.

Kebetulan saat ini saya bekerja di perusahaan yang mengurusi media komunikasi sebuah institusi. Jadi, bertemu dengan klien menjadi hal yang biasa dalam keseharian. Pengalaman baru, karena sebelumnya saya bekerja di media yang ‘seenake dewek’. Mau ada pembaca atau instansi yang mengeluh, bodo amat. Yang penting eksis.

Namun begitu, ketika masih bekerja di media tersebut, saya cukup sering berhubungan dengan klien – terutama untuk urusan advertorial. Dalam bahasa rekan-rekan di kantor lama, tulisan advertorial adalah tulisan yang ‘kiss ass’. Harus memuji produk klien. Namanya juga advertorial, kalau isi tulisan kritik atau yang jelek-jelek, produknya enggak akan laku. Dan memang kira-kira seperti itulah yang saya lakukan ketika menulis advertorial. Hanya saja, ketika bertemu dan berbicara (pendekatan) dengan klien, saya TIDAK pernah memosisikan diri sebagai bawahan atau pekerja mereka. Walau menulis demi kepentingan mereka (klien) dan mendapat uang dari situ, tapi saya tetap merupakan karyawan media tempat saya bekerja. Saya selalu berpikir mereka (klien) membutuhkan saya dan media tempat saya bekerja sebagai sarana mempromosikan produk mereka. Ya, kalau dalam ilmu biologi simbiosis mutualisme – sama-sama enak.

Cara seperti itu yang kemudian saya bawa ke tempat saya bekerja sekarang. Sayangnya, di sini, klien di tempatkan pada posisi berbeda. Karena klien sebagai pemasukan utama, berbeda dengan media yang menganggap advertorial sebagai pemasukan tambahan (atau mungkin utama juga ya?), mereka di tempatkan pada level di atas kita (pihak perusahaan saya).

Saya perhatikan, setiap kali ada pertemuan dengan klien, arus informasi lebih banyak satu arah. Klien memberikan arahan dan ‘kami’ hanya mengangguk-anggukan kepala. Begitu pula ketika terjadi perubahan ketika suatu project berlangsung. Semua perubahan yang diinginkan klien diterima tanpa pernah berusaha mempertahankan pendapat atau memberi masukan. Ditelan bulat-bulat.

Entahlah, mungkin karena saya yang terlalu sotoy dan kurang fleksibel sehingga sering merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Sering kali saya berontak, mau teriak. “Woi, dikasih otak kan sama Tuhan. Mbok sesekali dipake!!!”

Namun ya begitulah, namanya anak baru dan enggak punya otoritas, percuma teriak kenceng-kenceng tapi enggak ada yang denger. Ya, akhirnya cuma ada dua pilihan bagi saya: telan bulat-bulat atau menyingkir? Hmmm… sepertinya pilihan kedua lebih ‘bermartabat’.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s