Karena Kita Manusia, Perlu Drama

Lampard Goal

Menjelang berlangsungnya Piala Dunia antar Klub, isu teknologi garis gawang kembali mencuat. Salah satu yang keras menentang penggunaan teknologi ini adalah Michel Platini. Kali ini, pemain legendaris Prancis ini beralasan teknologi garis gawang sangat mahal untuk diterapkan. “Lebih baik untuk pengembangan usia muda dan pengembangan sepak bola,” katanya seperti dikutip dari Kompas.com.

Presiden UEFA ini memang terus konsisten menolak penggunaan teknologi garis gawang, sejak isu ini mulai diangkat. Platini menganggap penambahan jumlah wasit yang bertugas di lapangan sudah cukup untuk menjaga jalannya pertandingan agar berlangsung dengan adil dan tidak ada pihak yang dirugikan.

Memang, sangat beralasan jika ada pihak yang begitu menginginkan teknologi ini digunakan. Pertandingan Inggris melawan Jerman di Piala Eropa 2008 salah satu yang menjadi alasan. Saat itu, bola tendangan Frank Lampard sebenarnya sudah melewati garis gawang, dan sudah layak dianggap gol. Tapi, bola kemudian memantul ke luar gawang dan wasit, entah karena tidak melihat atau ragu atau apapun, tidak mengesahkan menjadi gol. Protes pun bermunculan dari berbagai pihak, terutama pihak sepakbola Inggris.

Teknologi pun kemudian dianggap sebagai jalan keluar agar pertandingan berlangsung dengan lancar tanpa ada pihak yang dirugikan.

Sepakbola: Dunia Nyata vs Dunia Digital
Tidak dapat dibantah lagi, sepakbola merupakan olahraga paling populer di dunia ini. Bahkan pada ajang spesial seperti Piala Eropa atau Piala Dunia, jumlah penggemar olahraga ini akan meningkat berkali lipat.

Ketenaran sepakbola pun merembet pada dunia digital. Berbagai permainan yang berhubungan dengan sepakbola dibuat. Permainan-permainan ini pun sangat diminati masyarakat. Mereka bisa memainkan pemain dan tim favorit masing-masing.

Saya ingat ketika pertama mencoba permaian Winning Eleven di PlayStation. Itu terjadi sekitar tahun 1998. Saat itu, saya begitu takjub dengan teknologi yang hasilkan Sony. Gambarnya begitu nyata. Pergerakan pemain terasa seperti aslinya.

Di seri-seri berikutnya, permainan ini mengalami pengembangan yang luar biasa. Bahkan, tak jarang ada yang berkomentar “Enggak mungkin…” ketika melihat pemain digital di permainan itu.

Kemampuan pemain digital yang diperlihatkan tak jarang melebihi kemampuan para pemain di dunia nyata. Karenanya, masyarakat pun semakin terkagum dengan teknologi yang ditawarkan permainan.

Sampai kemudian, hadir seorang pemain fenomenal. Bertubuh mungil dengan kemampuan yang sungguh-sangat-amat-luar-biasa-sekali. Lionel Messi. Golnya ke gawang Arsenal di Liga Champions musim 2009-2010 seperti meluluh-lantahkan kesan digital lebih baik dari dunia nyata. Dia melakukannya dengan sangat mudah. Sangat santai. Melebihi yang mampu dilakukan karakternya di dunia digital. Dan sejak itu, dunia nyata dengan dunia digital yang sebelumnya memiliki jarak sepertinya sudah tidak ada beda. Semua mungkin dilakukan. Semua mungkin terjadi. Tapi, satu hal yang tetap akan menjadi perbedaan di antara keduanya: nyata dan digital. Manusia dan kreasi teknologi.

Manusia vs Teknologi
Sudah takdir manusia untuk tidak sempurna. Melakukan kesalahan, kekhilafan. Walaupun sudah dilatih sedemikian rupa untuk menghindarinya, manusia hanya bisa meminimalisir kemungkinan terjadinya kesalahan. Suatu saat, meski dengan perhatian yang sangat intens, kesalahan pun akan terjadi. Sesuatu yang sangat manusiawi.

Begitu pula dengan sepakbola, terutama wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Wasit-wasit itu merupakan orang-orang terpilih yang sudah melalui latihan sedemikian rupa. Mereka memiliki pengawasan yang sangat jeli. Tingkat konsentrasi mereka luar biasa. Tapi, jangan lupa, bahwa mereka juga merupakan manusia. Kesalahan sangat mungkin mereka lakukan.

Di sinilah pembeda utama sepakbola nyata dengan sepakbola digital. Nilai kemanusiaan.

Lain dari itu, jangan pula melupakan hal penting yang membuat sepakbola begitu digemari di penjuru dunia: drama. Bukan sekadar drama seperti yang disajikan di final Liga Champhions 1998/1999 antara Bayern Munich melawan Manchester United. Tapi juga drama ketika tendangan Frank Lampard tidak disahkan menjadi gol.

Drama-drama seperti inilah yang membuat sepakbola menjadi menarik. Kesalahan-kesalahan manusiawi. Atau, kesengajaan untuk memanfaatkan sifat manusiawi manusiawi, aksi diving misalnya.

Bayangkan jika teknologi sudah menguasai pertandingan sepakbola di dunia nyata. Semua akan berjalan layaknya pertandingan di sepakbola digital. Tidak ada jebakan offside yang gagal. Tidak ada gol yang tidak disahkan. Semua sudah pasti, tanpa sedikit pun kesalahan yang mungkin dibuat. Membosankan? Sepertinya. Walau pastinya tidak terjadi dengan drastis, karena sepakbola punya banyak hal yang membuatnya tetap menarik untuk ditonton. Tapi, pasti akan ada yang hilang.

Bagi pendukung tim lawan, Filippo Inzaghi merupakan pemain yang sangat dibenci. Sering melakukan aksi diving. Sering terperangkap offside. Tapi bagi pendukungnya, tidak jarang dia menjadi pahlawan. Aksinya mampu mengecoh, tidak hanya lawan tapi juga wasit. Itulah drama yang ditawarkan sepakbola.

Memang, yang saat ini sedang dibahas adalah teknologi garis gawang. Tapi, jika teknologi ini benar-benar diterapkan, tidak menutup kemungkinan berbagai teknologi lain pun akan terus dijejalkan di lapangan sepakbola. Dan jika itu terjadi, kita akan semakin kehilangan drama sepakbola – sesuatu yang membuat olahraga ini begitu digemari.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s