Kurikulum Baru: Jiwa Wirausaha Diutamakan?

teaching

Belakangan ini, Kementerian Pendidikan sedang sibuk membahas kurikulum baru. Mencari format yang lebih baik untuk diterapkan di dunia pendidikan Indonesia.

Seperti berita usang. Kurikulum terus dan terus diperbaiki. Jargon beda menteri beda kurikulum seperti kenyataan yang tak terbantahkan. Bahkan, sekarang lebih parah. Sama menteri, ganti kurikulum. Pelajar tanah air seperti kelinci percobaan yang tak pernah selesai direkayasa. Dibentuk sedemikian rupa dengan formula yang belum pasti, masih coba-coba.

Membaca berita di Kompas.com, kurikulum yang nanti diterapkan akan menitikberatkan pada jiwa kewirausahaan. Sepertinya pemerintah berusaha menyiapkan generasi-berikutnya untuk siap menghadapi persaingan global (baca: pasar global).

Selain itu, penekanan pada bidang wirausaha juga didasarkan pernyataan kemakmuran sebuah negara salah satunya dilihat dari jumlah wirausahawan. Sebuah negara dikatakan makmur jika setidaknya memiliki dua persen dari populasinya merupakan wirausahawan.

Menanamkan nilai wirausahawa sejak dini pun dianggap penting untuk mengembangkan potensi seorang anak. “Selama ini pendidikan di Indonesia cenderung mencegah siswa untuk berani mengambil risiko. Ini tidak boleh terjadi lagi, karena ini berarti mengekang kreativitas anak,” ungkap Mae Chu Chang, seperti dikutip pada artikel tersebut.

Masalahnya, kalau kurikulum itu jadi diterapkan dan berhasil membentuk jiwa wirausaha di generasi muda Indonesia, bayangkan kemungkinan yang akan terjadi. Bayangkan jika populasi wirausaha di Indonesia tidak hanya dua persen, tapi lebih dari itu. Mayoritas mungkin. Agak lebay memang, tapi yang namanya kemungkinan boleh-boleh saja, kan?

Ide Lama Kemasan Baru
Ada kecenderungan baru di lembaga-lembaga pendidikan di tanah air. Mereka tidak lagi mementingkan pendidikan atau serifikat tertentu dalam mencari pengajar. Yang lebih diutamakan adalah pengalaman yang dimiliki seseorang. Jam terbang. Kemampuan seseorang dalam suatu bidang (profesionalitas). Saya pernah membuktikannya. Saya yang sampai sekarang (sekitar 6 tahun setelah lulus) belum juga memiliki ijazah pernah mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta. Alasan perguruan tinggi tersebut menerima saya sebagai pengajar karena latar belakang saya. Bukan dari segi akademis, tapi lebih dari segi karier (profesi).

Hal seperti ini banyak ditemui di lembaga pendidikan lain. Orang-orang yang lebih berpengalaman di suatu bidang dianggap lebih tepat untuk mempersiapkan para pelajar menghadapi dunia nyata (kerja). Sementara para pemegang sertifikat, dinilai hanya menguasai sisi teoritis. Padahal, di dunia nyata, praktik lebih penting daripada teori.

Karenanya, tak jarang lembaga pendidikan mempromosikan pengajar mereka dalam brosur atau media promosi lain. Bukan dengan embel-embel titel Prof., Dr., MBA., atau lainnya, tapi dengan jabatan sang pengajar: direktur, chief of, dan sebagainya.

Lembaga-lembaga ini sepertinya beradu gengsi dengan jabatan para pengajar mereka. Mereka sepertinya begitu bangga dengan kesiapan para pengajar menyiapkan para pelajar yang melakukan studi di lembaga mereka. Seolah-olah merekalah yang menemukan ide brilian itu.

Ya, setidaknya saya pernah berpikir begitu. Sampai saya membaca seri Kesusastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia. Pada salah satu seri, ada sebuah karya Kwee Tek Hoay yang berjudul “Sekolah yang Kuimpikan”.

Ide Kwee Tek Hoay di tulisan ini sangat sederhana. Jika ada seorang anak ingin menjadi peternak babi, panggilah peternak babi. Biarkan anak tersebut belajar segala hal yang perlu diketahui tentang beternak babi langsung dari peternak babi.

Mirip dengan yang dipromosikan lembaga-lembaga pendidikan itu? Tidak sekadar mirip, tapi sama. Mungkin perbedaannya hanya pada ide Kwee Tek Hoay sebatas peternak babi, sementara para pengajar yang dipromosikan adalah orang-orang yang menjabat posisi mentereng. Intinya, sama.

Tulisan ini dibuat Kwee Tek Hoay pada sekitar tahun 1930’an, sementara lembaga-lembaga pendidikan itu mulai gencar melakukan promosi ‘pengajar-berposisi-mentereng’ pada sekitar tahun 2000. Ada jarak sekitar 70 tahun. Sekitar tiga generasi kalau sebuah generasi dihitung 25 tahun. Bayangkan jika konsep yang diungkapkan Kwee Tek Hoay sudah diterapkan sejak dulu, setidaknya setelah Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia tentu sudah akan lebih siap.

Mereka tidak hanya dijejali berbagai teori yang njlimet. Sejak duduk di bangku sekolah, mereka akan dihadapkan pada kenyataan yang terjadi. Masalah dan berbagai hambatan yang harus dipecahkan.

Bagi saya, yang perlu digarisbawahi di sini bukan unsur wirausaha. Kwee Tek Hoay memang memaparkan peternak babi dalam tulisannya, tapi itu sekadar contoh. Yang lebih dipentingkan di sini adalah mengenai logika berpikir. Logika manusia Indonesia sudah diasah sejak usia dini.

Dengan menghadapkan berbagai masalah dan hambatan yang mungkin akan terjadi dan harus mereka selesaikan, logika para pelajar akan semakin terasah. Mereka akan dilatih untuk bisa menemukan jalan keluar paling cepat, dengan risiko paling kecil. Dan untuk mengasah logika berpikir, kurikulum berbasis wirausaha bukan satu-satunya jawaban. Atau, mungkin lebih tepatnya bukan jawaban paling tepat.

Induk Ilmu Pengetahuan
Ada fenomena lain yang saya temukan melalui survei kecil-kecilan. Berbicara dengan guru agama, mereka akan menyayangkan kurangnya jam pelajaran agama di sekolah sehingga nilai-nilai agama yang harusnya dikuasai seorang pelajar sangat kurang. Hal yang sama pun terjadi jika mengobrol dengan guru matematika, fisika, olahraga, dan sebagainya. Karena mendalami sebuah bidang, mereka cenderung merasa bidang merekalah yang sangat penting untuk dikuasai oleh para pelajar – dengan mengenyampingkan peranan bidang pelajaran yang lain.

Mereka tentu saja tidak salah. Setiap bidang ilmu pengetahuan memiliki peran masing-masing. Hanya saja, yang dilupakan adalah ada bidang yang menjadi induk semua ilmu pengetahuan: filsafat. Bidang inilah yang kemudian mengembangkan dan menjadi dasar pengembangan berbagai dasar ilmu pengetahuan di muka bumi ini. Sayangnya, perkenalan dengan bidang ini baru terjadi ketika seseorang memasuki dunia perkuliahan.

Di sekolah menengah sebenarnya sudah mulai diperkenalkan, tapi perkenalan yang terjadi hanya sekadar jabatan tangan. Tanpa diikuti dengan perkenalan yang lebih dalam, seperti bertanya nama, bertukar alamat, dan sebagainya.

Di bangku kuliah pun, perkenalan yang terjadi tidak terlalu maksimal. Sekadar tahu. Tanpa berusaha mendalami, kecuali mahasiswa Filsafat. Menjadi mata kuliah wajib memang, tapi diadakan di kelas besar dengan jumlah mahasiswa mencapai ratusan. Dosen yang tak mampu menguasai perhatian seluruh mahasiswa di dalam kelas. Hasilnya, bidang yang seharusnya menjadi dasar dan landasan berpikir semua ilmu pengetahuan pun sekadar disampaikan. Apakah dimengerti atau tidak, itu urusan lain. Yang penting mahasiswa mampu menjawab soal yang diberikan saat ujian dilakukan. Sekadar mengingat teori yang disampaikan.

Filsafat = Pusing
Tidak jarang yang mengeluh belajar filsafat memusingkan. Saya pun termasuk ke dalam kelompok itu. Saya ingat betul betapa sulitnya memahami materi yang dijelaskan dosen di depan kelas. Berusaha sekuat tenaga pun, pemahaman saya tetap tidak beranjak. Malah, rasa kantuk yang kemudian muncul.

Segitu sulitkah mempelajari filsafat?

Bertahun-tahun setelah lulus dan kemudian mengalami menjadi pengajar, saya berpikir bahwa yang utama adalah masalah penyampaian. Dongeng untuk anak-anak yang seharusnya ceria pun bisa menjadi cerita yang mencekam, film-film Tim Burton misalnya. Komunikasi menjadi yang utama.

Dengan penyampaian yang sederhana, santai, dan mungkin diselingi interaksi, materi ‘seberat’ apapun bisa diterima dengan baik. Sayangnya, saat mengikuti mata kuliah filsafat di kampus, saya berada di kelas besar dengan jumlah mahasiswa hingga ratusan. Sekeras apapun usaha seorang dosen untuk menjaga perhatian para mahasiswa, dia tidak akan maksimal. Ditambah dengan stigma materi yang disampaikan sangat memusingkan, tugas yang harus dilakukan sang dosen pun menjadi berkali lipat.

Beberapa tahun belakangan ada usaha yang cukup bagus. Filsafat disampaikan melalui media yang lebih ringan, kasual. Komik filsafat mulai bermunculan. Dengan dibantu panel-panel gambar, konsep-konsep dasar filsafat dibahas.

Menggunakan gambar sebagai media penyampaian pesan membuat pembaca memiliki ruang untuk beristirahat. Mereka tidak selalu dihadapkan pada teks. Deretan kalimat yang begitu panjang, mengisi hampir setiap ruang di semua halaman.

Hadirnya komik filsafat ini pun seharusnya diimbangi dengan penyampaian yang lebih santai di dalam kelas.

Filsafat sejak Dini
Sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan, filsafat harusnya mulai diperkenalkan sejak usia dini. Dimulai dengan materi yang bersifat pengenalan, hingga yang lebih mendalam.

Pemanfaatan komik filsafat akan sangat membantu dalam memperkenalkan filsafat ke pelajar sejak usia dini. Tentunya, usaha ini harus ditambah dengan cara penyampaian yang lebih komunikatif.

Filsafat menjadi penting diperkenalkan sejak dini. Dengan mempelajari filsafat sejak kecil, logika berpikir seorang anak akan terus diasah. Terus dan terus hingga akhirnya mereka menjadi manusia yang logis.

Logika yang benar akan membuat manusia Indonesia siap menghadapi berbagai permasalahan. Tidak hanya dalam bidang wirausaha, tapi juga semua bidang.

Sebagai wirausaha, dengan logika yang sudah diasah sejak kecil, dia akan mampu memperhitungkan berbagai kemungkinan yang terjadi. Tidak sekadar berani mengambil risiko tanpa perhitungan. Bahkan, sebelum itu, logika pun akan menuntun seseorang mengenai jalur karier yang akan diambilnya. Apakah menjadi wirausahawan atau menjadi pekerja? Semua tentu ada pertimbangan untung-ruginya.

Jadi, ya sekadar berpendapat mengenai kurikulum yang mungkin akan diperbarui di tahun depan, jangan hanya mementingkan materi wirausaha. Ada yang sepertinya jauh lebih penting dari itu, setidaknya menurut saya. Logika. Dan, bidang yang menekankan mengenai logika dibahas dalam filsafat.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s