504L 4L4Y

alay

Salah satu fenomena yang saat ini mendapat banyak perhatian dari pemerhati budaya adalah fenomena Alay. Tidak terlalu jelas sejak kapan fenomena ini mulai terjadi. Mereka tumbuh dengan cepat, dalam skala yang masif. Atau, mungkin mereka sudah tumbuh sejak lama. Berkembang di kalangan tertentu yang tidak tersentuh oleh perhatian publik dan baru pada tahun-tahun belakangan ini mereka mencuat. Menunjukkan eksistensi.

Menurut definisi yang tersedia di ranah online, Alay merupakan kependekan dari “anak layangan” atau “anak lebay”. Penggunaan istilah ini merujuk pada kelompok remaja yang bergaya norak atau kampungan. Gaya mereka berlebihan dan selalu berusaha menarik perhatian. “Alayers” merupakan sebutan bagi para Alay.

Dari sekian banyak pembahasan mengenai fenomena ini, kebanyakan (kalau tidak semua) memandang negatif kalangan muda yang disebut kaum alay. Mulai dari penampilan, cara bicara, sampai bahasa yang mereka gunakan dianggap sebagai ‘perusakan’ terhadap nilai-nilai budaya yang selama ini tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Sayangnya, ada hal penting yang terlupa dari para pemerhati budaya tersebut. Budaya merupakan produk yang dihasilkan suatu masyarakat. Di dalam masyarakat yang aktif, yang hidup, budaya akan bersifat dinamis. Setiap saat, selalu akan ada perubahan. Pengembangan dari nilai-nilai yang lama. Kreasi-kreasi baru diciptakan (rekreasi).

Sebagai masyarakat budaya, Alayers merupakan kelompok yang dinamis – salah satu yang paling hidup di tanah air ini. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, mereka terus berinovasi. Mereka kaum yang lekas bosan dan terus mencari dan membuat hal baru. Perkembangan yang sulit diikuti oleh orang-orang yang tidak berasal dari kelompok mereka – apalagi oleh orang-orang yang selalu menganggap mereka dengan pandangan negatif.

Jujur saja, sebagai pribadi, saya pun terganggu dengan Alayers. Penampilan mereka tidak enak di mata. Gaya busana yang tabrak sana, tabrak sini. Gaya rambut yang “hadohhhh….”. Begitu juga cara bicara mereka. Terlalu dilebih-lebihkan. Dalam komunikasi lisan, intonasi memegang peranan yang sangat penting. Beda intonasi akan membuat perbedaan pula pada makna yang disampaikan. Tapi yang mereka lakukan (Alayers), mempermainkan intonasi secara dramatis. Sampai pada titik ekstrim.

Bahasa yang mereka gunakan? Hmmm…. Kadang, ketika waktu senggang, saya menghabiskan waktu dengan memasuki chat room. Berkenalan dengan orang-orang baru. Beberapa kali, ketika iseng mampir di chat room, saya berkenalan dengan remaja. Ada yang masih bersekolah, ada pula yang sudah berkuliah. Mengobrol melalui Yahoo Messenger, percakapan kadang terganggu karena saya harus menanyakan ulang maksud dari pesan yang mereka kirim. “k’tHwA„„„„„„„� ��„„” yang diikuti emoticon tertawa. Saya pun harus meyakinkan dengan bertanya “Lagi ketawa?”.

Obrolan dengan remaja seperti ini biasanya tidak berlangsung lama. Mereka kesal dengan saya yang selalu bertanya di hampir setiap pesan yang mereka kirim. Kesal, mereka pun memutuskan obrolan – beberapa dibumbui makian.

Secara usia, saya tidak berbeda jauh dengan para Alayers. Jika mereka sudah duduk di bangku SMA, atau bahkan kuliah, beda usia kami tidak lebih dari setengah usia saya. Tapi, saat mengobrol dengan mereka, jujur saja, saya merasa seperti berasal dari satu-dua generasi sebelum mereka.

Mengenai bahasa yang digunakan Alayers, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Airlangga, Bramantio, SS. M.Hum mengatakan fenomena bahasa Alay berkembang sejak masuknya teknologi layanan pesan singkat atau SMS. “Awal mulanya dari layanan pesan singkat, para pengguna hanya dibatasi untuk mengirimkan pesan sebanyak 160 karakter atau kurang dari itu. Sehingga, pengguna akan didorong untuk menjadikan pesannya seringkas mungkin. Salah satu cara yang digunakan untuk meringkas pesan yakni dengan cara menyingkat kata,” tegasnya.

Kalau memang benar begitu yang terjadi, berarti fenomena Alay sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu – sebelum pergantian milenium. Padahal, saya baru ngeh dengan keberadaan mereka setelah melihat berbagai acara musik yang kembali marak di tanah air – sekitar 5 tahun terakhir. Alangkah tertinggalnya saya – atau karena saya tidak terlalu peduli pada yang terjadi di lingkungan sekitar.

D 464 DU?
Seperti yang telah dikemukakan di awal, Alayers merupakan salah satu kelompok budaya yang paling aktif. Mereka terus melakukan perkembangan pada nilai-nilai yang mereka punya. Begitu pula dengan bahasa yang mereka lakukan.

Pada awalnya, rekreasi bahasa yang mereka lakukan hanya pada ragam tulis. Mereka memadukan angka dan huruf dalam penulisan sebuah kata. “T4” untuk “Tempat” dan “6w” untuk “gua atau saya”. Tidak ada aturan baku mengenai cara pemanfaatan angka sebagai pengganti huruf. Kadang karena bentuk yang mirip dengan huruf yang digantikan, kadang pula karena pengucapannya dapat menghemat jumlah karakter.

Dalam perkembangan selanjutnya, rekreasi bahasa yang mereka lakukan menyentuh ragam lisan: intonasi, seperti yang sempat disinggung di awal. Mereka menciptakan intonasi yang menjadi ciri percakapan di antara mereka. “Lebay” begitu biasa ragam intonasi percakapan lisan Alayers ini disebut – juga didukung mimik muka yang tak kalah dramatis.

Selanjutnya, mereka kembali melakukan rekreasi pada ragam tulis. Kali ini, pemanfaatan angka mulai mereka tinggalkan. Pada sebagian kasus, prinsip menghemat karakter masih dapat dilihat. Tapi pada sebagian yang lain, rekreasi yang mereka buat malah lebih boros karakter. “Maniezt” untuk “manis” atau “nieyh” untuk “nih”.

Selain itu, mungkin masih ada lagi pengembangan yang mereka lakukan. Yang sangat mungkin tidak saya ketahui karena saya hanya ‘orang luar’ bagi kelompok ini dan saya pun tidak melakukan penelitian terhadap kelompok ini – sekadar melihat tanpa menyimak dengan seksama.

dagadu

Melihat rekreasi bahasa yang dilakukan kelompok ini, saya jadi teringat tulisan di kaos yang saya miliki ketika duduk di bangku SMP. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan “D 464 DU” di dalam kotak yang dibuat layaknya plat nomor. Dagadu, itu merek kaos tersebut. Kreasi sekelompok mahasiswa asal Yogyakarta.

Pada saat itu, Dagadu yang mulai berdiri pada 1994 sedang senang-senangnya bermain-main dengan kata. Mereka membuat cerita lucu, memlesetkan merek terkenal, atau menggabungkan angka dengan huruf seperti yang tertera di kaos tersebut.

Karenanya, saya sempat berpikir bahwa desain kaos Dagadu memiliki sumbangsih terhadap perkembangan bahasa Alayers – terutama di masa-masa awal.

Anehnya, tanggapan yang diberikan masyarakat pada dua rekreasi bahasa ini sangat berbeda, bertolak belakang. “Kreatif” disematkan kepada para mahasiswa asal Yogyakarta, sementara Alayers mendapat predikat “Perusak”.

Mungkin, dan ini hanya kemungkinan, karena media yang mereka gunakan berbeda. Dagadu hanya memanfaatkan kaos sebagai media untuk menunjukkan rekreasi bahasa yang mereka lakukan. Sementara, Alayers menuliskan kata-kata itu hampir di setiap tulisan yang mereka buat. Karena seringnya terbaca, terlebih ukuran tulisan yang sengaja dibuat berbeda tanpa aturan berarti, rekreasi bahasa yang dilakukan Alayers mendapat pandangan negatif. Artinya, pandangan negatif itu sebenarnya reaksi dari ‘teror’ yang dilakukan Alayers. Plus, penampilan dan serta gaya bicara mereka yang ‘khas’.

“Ciyus… Miapa?”
Bukannya ingin membela atau memperjuangkan hak keberadaan mereka, melihat realita saat ini, sepertinya masyarakat telah bertindak diskriminatif terhadap Alayers. Mereka dicaci, dicela. Kehadiran mereka ditolak. Eksistensi mereka tidak dipedulikan, bahkan berharap segera musnah.

Saya masih belum berubah pandangan. Saya pun merasa terganggu dengan mereka. Dengan gaya bahasa mereka, dengan penampilan mereka. Sama terganggu seperti melihat penampilan para penggemar Lady Gaga atau pecinta Cosplay. Penampilan ketiga kelompok ini berada dalam kategori yang sama: tidak enak dipandang.

Hanya saja, entah karena berasal dari luar negeri atau karena sebagian besar penggemar berasal dari kelompok yang ‘lebih kuat’, perlakuan penggemar Lady Gaga dan pecinta Cosplay tidak sediskriminatif seperti Alayers. Kalau penggemar Lady Gaga menyebut busana yang digunakan penyanyi idola mereka sebagai pernyataan sikap, kenapa tidak melakukan hal yang sama pada Alayers? Bukankah oleh sebagian golongan, penampilan The Beatles di masa awal kehadiran mereka dianggap mengganggu, liar, urakan? Tapi pada kenyataannya, mereka tetap dipuja hingga saat ini.

alay-2

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “504L 4L4Y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s