Rasa Asli Semarang

Pecel Yuk Sri, Semarang

Jika menghabiskan waktu di Simpang Lima menjadi pilihan Anda ketika berkunjung ke Semarang, jangan lupa mencicipi kuliner yang sangat terkenal di sini.

Berjalanlah mengitari sisi-sisi Simpang Lima. Perhatikan menu-menu yang disajikan pedagang sekitar. Lalu, cari satu kios yang selalu dipenuhi pengunjung. Kios dengan deretan orang yang mengantre. Kios dengan orang-orang yang sedang lahap menyantap menu yang disajikan. Dan jika Anda menemukan kios makanan seperti itu, Anda sudah sampai di tempat yang dituju: Pecel Yuk Sri.

Seperti halnya pecel-pecel yang lain, Pecel Yuk Sri menyajikan campuran berbagai sayuran-rebus dalam setiap porsi yang dihidangkan. Toge, kacang panjang, kol, serta sayur mayur lainnya. Selain campuran sayuran-rebus, Anda juga bisa menikmati berbagai menu pendamping: seperti sate telur, bakwan udang, tahu-tempe bacem, dan paru goreng.

Melihat sekilas, tidak ada sajian istimewa dari pecel yang dihidangkan di kios ini. Pecel bersiram sambel kacang di atas alas daun pisang. Banyak tempat yang menawarkan sajian serupa. Tapi, cobalah dulu dan Anda akan menemukan alasan pecel ini begitu digemari: sambel kacang.

Sambal kacang yang disajikan di tempat ini memiliki rasa yang khas. Perpaduan rasa yang berani. Rempah-rempah yang dicampurkan saat pembuatan sambal kacang tidak dalam porsi yang ‘malu-malu’ atau tanggung. Pembuat sambal sangat yakin dengan rempah yang dimasukkan serta takaran tiap-tiap rempah tersebut. Karenanya, saat disajikan, sambal kacang yang mengguyur campuran sayuran melumerkan lidah setiap penikmatnya.

Entah sejak kapan Pecel Yuk Sri ini berjualan. Sebelum datang dan duduk menikmati pecel yang disajikan malam itu, saya sudah mempunyai banyak pertanyaan mengenai pecel yang katanya menjadi menu wajib jika bertandang ke Semarang, terutama kawasan Simpang Lima. Tapi entah kenapa, ketika mulut mulai mengunyah sajian yang dihidangkan, daftar pertanyaan itu seperti hilang bersama keringat yang mulai mentes di wajah saya.

Setelah selesai menyantap seporsi pecel yang dihidangkan, kuping saya sempat menangkap sepotong pembicaraan dari meja sebelah. Tanpa bermaksud menguping, tapi pembicaraan itu menarik perhatian untuk didengar.

Salah seorang di meja sebelah berbicara, agak mengeluh. “Kok, tempatnya jadi begini, ya? Kayanya enakan dulu. Meja pendek, panjang. Bangkunya juga pendek, panjang. Gorengan ditaro di atas meja. Jadi bisa langsung ambil sambil terus nyantap pecel,” begitu kira-kira keluh orang tersebut. Saya pun lalu berimajinasi. Andaikan saat menyantap pecel tadi ada setumpuk gorengan di depan saya, setumpuk gorengan yang setiap saat siap saya ambil lalu saya nikmati, saya yakin perut saya akan terisi lebih banyak. Dan yang sangat mungkin, saya akan kesulitan bangun jika memang bangku yang digunakan adalah bangku pendek.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s