Bukan ingin Menguji Nyali, Hanya ingin Menikmati Sensasi

Lawang Sewu di waktu malam. Masih banyak misteri yang bisa ditelusuri…

Lawang Sewu, Semarang

Malam itu Kota Semarang baru saja disiram hujan. Kerikil di halaman masih basah ketika kami mulai memasuki salah satu tempat paling terkenal di Ibukota Jawa Tengah ini. Angin terasa dingin. Di depan, gedung tua berdiri tegap. Agak remang, seperti ingin menegaskan cerita seram yang kami dengar mengenai tempat ini: Lawang Sewu.

“Ini, kan, malam Jumat. Wah, seru…,” ucap seorang teman ketika berjalan menuju loket karcis.

Tiba di loket karcis, kami sempat beradu mulut dengan penjaga loket. “Kalau malam harus pakai pemandu. Kami tidak mau bertanggung jawab kalau tidak pakai pemandu. Kalau siang, kami masih bisa kasih toleransi tidak pakai pemandu.”

Memang, biaya seorang pemandu untuk berkeliling Lawang Sewu tidak mahal. Kalau tidak salah, sekitar Rp20.000. Tapi tetap saja, malam itu kami ingin menguji keberanian. Kalau dengan pemandu, nyali kami sepertinya tidak terlalu teruji. Walhasil, setelah diskusi, kami pun menyerah. Membayar sejumlah uang yang ditetapkan untuk membayar jasa pemandu. Perjalanan kami pun dimulai.

Sebelum masuk, pemandu kami memberi tahu kalau tugasnya hanya mencakup bangunan di atas tanah. Padahal, yang

Selamat datang. Selamat menikmati petuangan

paling kami inginkan adalah menelusuri penjara bawah tanah yang ada di bagian ini. “Kalau untuk itu, nanti ada pemandu khusus. Bayar lagi. Tapi ingat. Pas di bawah nanti, kalau takut, jangan lari. Diam saja. Soalnya ada yang pernah lari tapi tidak pernah ketemu.” Hmmm… baiklah. Berarti akan ada budget tambahan untuk pemandu lain.

Berjalan menelusuri Lawang Sewu, pemandu kami menjelaskan sejarah tempat ini. Mulai dibangun pada 1904, gedung yang aslinya bernama Nedherlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini selesai tiga tahun kemudian. Nama jalan tempat gedung ini berdiri dulu adalah Bodjongweg, tapi sekarang telah berganti dengan nama Jalan Pemuda.

Rancangan gedung ini dipercayakan kepada arsitektur asal Belanda, Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag. Pada cetak biru gedung, tertera tahun 1903 – yang mengindikasikan rancangan ini dibuat setahun sebelum pembangunannya dimulai.

Ada tiga gedung di Lawang Lawang Sewu. Tapi, hanya satu gedung yang dibuka untuk umum: Gedung B. Sementara, untuk Gedung A, terdapat keterangan bahwa bangunan tersebut sedang dalam perbaikan. Perbaikan yang dilakukan sejak tahun lalu dan belum juga rampung. Sementara, satu gedung lainnya tidak ada keterangan sama sekali. Kok, seperti ada yang aneh, ya…. Baiklah, lupakan saja. Mari lanjutkan perjalanan.

Gedung ini dibangun karena kebutuhan perusahaan kereta api swasta NIS. Saat itu, pertumbungan jaringan perkeretaapian cukup pesat, sehingga membutuhkan penambahan jumlah personel teknis dan administrasi. Kegiatan administrasi yang tadinya dilakukan di Stasiun Semarang pun dipindahkan ke gedung ini. Terlebih, Stasiun Semarang terletak di tengah rawa, sehingga kurang kondusif untuk kantor administrasi. Sanitasi di stasiun ini pun kurang baik.

Karena berfungsi sebagai kantor administrasi perusahaan perkeretaapian, desain bangunan pun dibuat bergaya gerbong kereta api. “Coba berdiri di sini terus lihat ke ruangan lain. Kayak di gerbong kereta, kan?” jelas pemandu kami di depan pintu sebuah ruang yang terdapat di lantai dua. Benar saja, deretan pintu-ruang terlihat seperti pintu dalam gerbong yang berderet sejajar.

Pintu-ruang yang berjajar seperti rangkaian gerbong kereta api

Desain ini pun berkaitan dengan nama Lawang Sewu yang diberikan pada gedung ini. Dalam bahasa Jawa, Lawang berarti “pintu” sementara Sewu berarti “seribu atau banyak”. Desain ruang yang berjajar, membuat setiap ruang di gedung ini tidak hanya memiliki satu pintu. “Kalau jumlah pintu, secara keseluruhan lebih dari 400 buah. Tapi, daun pintunya lebih dari 1.000. Karenanya dinamakan Lawang Sewu.”

Menyusuri lantai 2, kami tiba di ruang yang berukuran sangat besar. Menurut keterangan pemandu, ruang ini dulunya adalah ruang makan para pejabat Belanda. Selain itu, di ruang ini juga sering diadakan pesta dansa. Makanya, bagi orang yang memiliki kemampuan melihat dunia gaib, mereka akan melihat orang-orang Belanda sedang berpesta di ruang ini. Benarkah? Wallahualam.

Dalam perkembangannya, kepemilikan gedung ini beberapa kali pindah tangan. Setelah kemerdekaan, Lawang Sewu pernah dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang bernama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Selain itu, pernah juga dipakai sebagai Kantor badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Melalui Surat Keputusan Walikota Nomor 650/50/1992, Pemerintah Daerah Semarang memasukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. Terbitnya surat keputusan ini bukan karena faktor umurnya semata.

Pertengahan Oktober 1945, terjadi peristiwa yang dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945). Di gedung ini, Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) berjuang melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.

…..

Di malam hari, keadaan dalam gedung tidak terlihat jelas. Pencahayaan bagian dalam gedung kurang di sana-sini. Mungkin, jika kami datang ke sini siang hari, kondisi gedung yang sebenarnya bisa kami lihat. Malam itu, kami hanya bisa melihat bagian atap ruang makan yang sudah keropos. Eternet yang sudah rusak, berantakan. Bahkan, beberapa sarang kelelawar kami temukan di sudut-sudut ruang. “Kalau dikasih lampu, entar saingan sama mal, Mas,” bela pemandu ketika kami mengeluh kondisi dalam gedung yang sangat gelap.

Perjalanan kami malam itu pun tiba di sebuah ruang yang sangat lembab. Ada sebuah meja di salah satu sisi ruang. Di sebelah kiri meja, sebuah rak sepatu dari kayu bersandar pada tembok. Deretan sepatu terpampang di situ.

Tangga menuju penjara bawah tanah. Setelah melalui tangga ini, dilarang ragu. Berpikirlah dulu sebelum menapaki setiap anak tangganya.

Tidak jauh dari rak sepatu, terdapat pintu yang mengarah pada sebuah tangga di lantai. Lantai inilah yang menghubungkan ke bagian penjara bawah tanah. Inilah tempat yang kami tuju.

Berbeda dengan loket di gerbang masuk tadi, masuk ke penjara bawah tanah, meski dikenakan tarif masuk plus biaya pemandu, pengunjung tidak akan mendapatkan karcis tanda masuk. Menurut pengakuan pemandu kami, hal itu karena penjara bawah tanah sebenarnya bukan area wisata. “Yang dibuka untuk umum sebenarnya yang di atas (gedung). Yang di sini dikelola sendiri. Jadi kalau ada apa-apa di penjara bawah tanah, PT KAI (pengurus Lawang Sewu) enggak bertanggung jawab.” Tetap berani? Hajar….

Namun, ada sedikit masalah ketika kami tiba di sini. Bukan karena nyali kami yang tiba-tiba menghilang ketika melihat tangga gelap di lantai.

Penjara bawah tanah selalu digenangi air. Untuk menjelajahi bagian ini, pengunjung diharuskan menggunakan sepatu boot berbahan karet. Tapi, meski mengenakan sepatu karet, bukan berarti air tidak dapat merembes masuk ke dalam sepatu. Dan di ruang ini, semua pengunjung yang ingin masuk atau keluar dari penjara bawah tanah berkumpul. Memakai dan melepas sepatu karet di sini. Bayangkan puluhan orang yang berkumpul dan melepas sepatu yang lembab. Ah…. Baunya menyeruak. Memadati penjuru ruang. Beruntung saat itu saya tak sampai muntah. Saya langsung bergegas ke luar ruang untuk mencari udara segar ketika hidung mencium aroma yang sangat menyesakkan dada.

Setelah sebatang rokok dan diyakinkan oleh teman-teman, saya pun mulai mengganti sepatu dengan sepatu karet yang disediakan pengelola – tentunya sambil menahan napas. Pemandu kami berganti. Beberapa senter diberikan pemandu sebagai alat bantu penerangan selama perjalanan di penjara bawah tanah.

Rumah lampu masih asli seperti yang digunakan pada masa kolonial Belanda.

Langkah demi langkah kami tapaki menuruni anak tangga yang terbuat semen tersebut. Saat tiba di bawah, tepat di depan pintu menuju penjara bawah tanah, pemandu mengajak kami berdoa agar tidak ada gangguan yang kami alami selama dalam perjalanan.

Selesai berdoa, perjalanan kami pun dimulai. Melintasi sebuah lubang agak besar di dinding. Lubang itu kira-kira berukuran 0,5 x 1,2 meter. Air sudah menggenang sejak kami tiba di penjara bawah tanah.

Jujur, saat pertama menginjakkan kaki di penjara bawah tanah, saya agak kecewa. Bukan ingin meremehkan, tapi tempat

Lorong penjara bawah tanah selalu digenangi air. Walau pengelola menyediakan sepatu karet, air tetap saja masuk. Senter menjadi benda yang sangat penting di dalam sini.

ini tidak semenyeramkan seperti yang saya bayangkan. Gelap memang, karena hanya ada beberapa lampu yang menerangi sepanjang lorong ruang. Lampu-lampu ini merupakan lampu yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Udara di sini pun sangat lembap. Dan setelah beberapa lama berjalan di dalamnya, saya mencium bau anyir yang cukup kuat, bau darah. Tapi entahlah, saya tidak merasa setakut yang saya kira. Mungkin juga karena saya tidak berniat buruk ketika masuk ke tempat ini. Atau mungkin, karena malam itu pengunjung penjara bawah tanah sedang ramai. Setiap berjalan menyusuri sebuah lorong, kami akan berpapasan dengan rombongan lain. Terus terang, banyaknya pengunjung malam itu cukup menganggu meresapi suasana yang ditawarkan tempat ini. Padahal, kan, ini malam Jumat. Kok, banyak ya yang ingin mencari sensai seperti kami.

Ruang-ruang penjara bawah tanah ini sebagian besar merupakan penjara duduk. Kotak-kotak dari semen berukuran sekitar 2×2 meter dengan tinggi sekitar 0,5 meter. Di atas kotak-kotak itu, dipasang jeruji besi. Sayang jeruji besi itu sudah hilang. Tahanan yang ada di dalamnya selalu dalam posisi duduk. Setiap saat, apapun yang mereka lakukan. Sampai akhirnya mereka dipindahkan, atau sampai mereka menyerah bertahan hidup.

Menurut penjelasan pemandu, setiap kotak tersebut diisi oleh sekitar 5-6 orang tahanan. Dalam ruang sekecil itu, imajinasi saya tidak dapat membayangkan ada 5-6 orang yang duduk di dalamnya. Tak terbayang yang dialami oleh para tahanan di masa itu.

Tempat pemenggalan para tahanan

Perjalanan kami pun tiba di sebuah lubang. Dari lubang itu, kami bisa melihat ada sepasang besi-melengkung yang tertanam di lantai. Pemandu menjelaskan sepasang besi-melengkung itu berfungsi sebagai pengikat tahanan yang akan dijagal. Besi yang berukuran agak kecil merupakan tempat mengikat leher tahanan. Yang mengejutkan, pemenggalan tidak hanya dilakukan pada tahanan yang masih hidup. Tahanan yang sudah mati pun dipenggal di tempat ini. Entah apa maksudnya.

Mayat yang sudah dipisahkan kepala dari tubuhnya, kemudian dibawa ke luar penjara melalui lubang-lubang yang menghubungkan dalam penjara dengan bagian luar. Potongan tubuh ini kemudian dibuang ke sebuah parit yang ada di samping gedung. Dulunya, parit yang lebarnya sekitar 2 meter ini memiliki kedalaman hingga 5 meter. Tapi kini, kedalaman parit ini hanya sekitar 2 meter.

Bagian lain yang menarik dari penjara bawah tanah ini adalah penjara berdiri. Meski tingginya seukuran orang dewasa, tapi lebar dan panjangnya hanya 0,5×0,5 meter. Dan di setiap ruangnya, diisi sekitar lima tahanan. Dua orang teman bertubuh agak gemuk coba masuk ke dalam salah satu penjara. Setelah mereka berdua masuk, hanya tersisa sedikit ruang. Semakin tak terbayang penderitaan yang dialami para tahanan. Apalagi ditambah mereka buang air juga di situ.

Berjalan menyusuri lorong-lorong di penjara bawah tanah, saya tidak heran jika pemandu berpesan “Kalau takut, jangan lari. Lebih baik diam atau berteriak.” Lorong-lorong di penjara bawah tanah ini memang terlihat serupa. Jika tanpa pemandu, saya yakin akan tersesat di dalam sini. Tapi jika benar ada yang hilang dan tidak berhasil ditemukan di dalam sini, ah, itu di luar logika saya.

Penjara berdiri. Di dalamnya, diisi sampai lima tahanan. Mereka selalu di dalam situ, bahkan saat buang air.

…..

Di sepanjang salah satu lorong, terdapat pipa besi berukuran cukup besar yang terhubung dengan pipa-pipa kecil. Pipa-pipa ini merupakan pipa pembuangan limbah domestik. Uniknya, Belanda tidak menyediakan kakus di setiap ruang. Mereka membangun gedung sendiri untuk keperluan buang air. Bangunan ini letaknya terpisah dengan bangunan utama.

Selesai menyusuri pipa-pipa pembuangan kotoran, kami keluar dari penjara bawah tanah. Kembali menapaki anak-anak tangga yang terbuat dari semen, kami tiba lagi di ruang yang sesak dengan aroma menyesakkan.

Sepatu karet satu persatu dilepaskan. Bau kaki yang lembap menyeruak. Dan, itulah akhir perjalanan kami menyusuri Lawang Sewu. Tapi, masih ada rasa belum puas. Gedung A yang masih dalam renovasi sepertinya menyimpan misteri yang lebih menarik. Semoga saja renovasinya cepat diselesaikan dan kami bisa menikmati petualangan menjelajahi setiap sudut ruangnya. Lalu, bagaimana dengan Gedung C? Mengapa tidak ada informasi mengenai keberadaannya? Apa yang ada di dalamnya? Sejarah apa yang terjadi di gedung itu?

Pos penjaga yang terdapat di antara gedung dengan parit pembuangan mayat.
Monumen pengingat bahwa di tempat ini pernah terjadi sesuatu yang sangat kelam. The Killing Field.
Pemberitahuan renovasi yang sedang dilakukan terhadap Gedung A, entah kapan selesainya.
Lubang pembuangan. Melalui lubang ini, mayat yang telah dipisahkan kepala dengan tubuhnya dibuang ke parit yang ada di dekat gedung.
Gedung kamar mandi yang terletak di samping gedung utama.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s