“Yang Nolak itu Bodoh”

Perkataan itu saya dengan saat menghadiri press conference sebuah program beasiswa. Sebelumnya, seorang wartawan bertanya kepada direktur program beasiswa tersebut. Wartawan ini menanyakan tanggapan sang direktur mengenai beberapa institusi pendidikan yang menolak program beasiswa tersebut. Alasan beberapa institusi pendidikan menolak program beasiswa tersebut adalah karena adanya embel-embel produk tembakau yang mendanai program ini. Setelah mendengar pertanyaan itulah, seorang pria yang duduk di belakang saya mengeluarkan komentar “Yang nolak itu bodoh”.

Saya pun tersenyum mendengar perkataan pria yang duduk tidak jauh dari saya itu. Saya lalu berpikir, apakah benar pihak yang menolak itu telah bertindak bodoh? Seketika, dalam hati saya menjawab: tidak!

Berbagai institusi pendidikan memang gencar mencari kerjasama dengan program beasiswa. Selain menambah pamor institusi tersebut, karena bekerjasama dengan berbagai program beasiswa, minat masyarakat terhadap institusi pendidikan tersebut pun akan meningkat. Lalu, kenapa bisa ada institusi pendidikan yang menolak bekerjasama dengan program beasiswa? Apakah mereka terlalu bodoh?

Ini berkaitan dengan sikap. Setiap institusi pendidikan, juga semua institusi lainnya, tentu memiliki peraturan, undang-undang, atau sebagainya. Peraturan atau undang-undang ini tentu berkaitan dengan sikap institusi tersebut yang kemudian tertuang dalam visi dan misi mereka.

Saya ingat kejadian beberapa tahun lalu. Masih berhubungan dengan perusahaan tembakau tapi bukan dengan instansi pendidikan. Saat itu, Sampoerna menawarkan kontrak yang sangat besar kepada Manchester United untuk menjadi sponsor utama klub Liga Inggris tersebut. Kalau saja saat itu Manchester United menerima, mereka akan menjadi klub dengan kontrak sponsor terbesar sepanjang sejarah. Tapi, klub berjuluk “Setan Merah” tersebut menolak. Alasannya? Karena yang menawarkan kontrak adalah perusahaan tembakau dan perusahaan jenis ini sangat sempit ruang lingkupnya di dunia olahraga. Lalu, apakah manajemen Manchester United telah melakukan tindakan bodoh karena menolak tawaran yang sangat menggiurkan tersebut – padahal saat itu klub asuhan Sir Alex Ferguson sedang mengalami krisis keuangan?

Sekali lagi, tidak!

Yang ditunjukkan Manchester United saat itu adalah sikap mereka. Mereka memang membutuhkan uang agar keluar dari krisis ekonomi yang sedang dihadapi. Tapi, kondisi itu bukan serta merta menjadi alasan bagi mereka untuk menerima sodoran kontrak dari manapun. Mereka menunjukkan perhatian mereka terhadap anjuran badan sepakbola dunia mengenai kerjasama dengan perusahaan tembakau. Dan, itu pula yang ditunjukkan oleh institusi pendidikan yang menolak program beasiswa tersebut.

Seperti yang sudah dikatakan, institusi pendidikan memang sangat menerima berbagai tawaran program beasiswa. Dengan bekerja sama dengan berbagai program beasiswa, mereka dapat membantu meningkatkan kualitas pelajar. Meski begitu, bukan berarti mereka serta merta menerima semua tawaran yang datang. Visi dan misi pun harus tetap diperhatikan. Jika tidak sejalan, kenapa diterima?

Jadi, hai, mas, yang duduk di belakang, Anda salah. Mereka tidak bodoh. Mereka hanya konsisten pada pendirian. Tidak mau mengorbankan idelis sekadar demi memenuhi kebutuhan.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s