Kalau Telat, Enggak Jadi Gol, Dong…

Penggemar olahraga, terutama sepakbola, mungkin tidak asing dengan istilah “gol telat”. Istilah ini biasanya dipakai untuk menyebut gol yang tercipta di menit-menit terakhir pertandingan. Dua contoh penggunaan istilah ini di media nasional adalah sebagai berikut:

“Gol Telat Torino Paksa Napoli Bermain Imbang”

“Dramatis, Gol Telat Moses Menangkan Chelsea”

Kedua contoh itu merupakan judul artikel dari dua media nasional. Yang pertama merupakan judul artikel Kompas.com, sementara yang kedua di Liputan6.com. Istilah “gol telat” pada kedua artikel tersebut mengacu pada momen yang sama: gol yang terjadi di masa waktu tambahan, setelah waktu permainan 90 menit lewat.

Dapat dipahami, istilah ini merupakan pengindonesiaan istilah asing, “late goal”. Dalam artikel berbahasa Inggris, penggunaan istilah ini pun memiliki makna yang sama.

Gol yang terjadi di penghujung laga memang memiliki arti tersendiri. Bukan karena semata terciptanya gol, tapi lebih dari itu. Bayangkan penantian yang lama sampai akhirnya terciptanya gol. Apalagi jika tim gol tersebut diciptakan oleh tim yang kita dukung dan hampir sepanjang pertandingan tim yang kita dukung tertinggal oleh lawan. ‘Gol telat’ yang terjadi seperti oase di tengah padang pasir. Kenikmatan yang tiada duanya. Teriakan yang melegakan.

Masih terekam di kepala saya Final Liga Champhions Eropa 1999. Sampai menit 90, Bayern Munich masih unggul 1-0. Tapi, di sisa waktu tambahan, Manchaster United ternyata bisa menciptakan dua “gol telat”. Terbayang bagaimana kencangnya teriakan para pendukung Manchaster United, juga kesedihan dan kekecewaan pendukung Bayern Munich.

Hanya saja, yang aneh, kenapa “late goal” diindonesiakan menjadi “gol telat”?

Dalam kamus, “telat” berarti “kasip, terlambat.” Artinya sesuatu terjadi setelah waktu yang ditetapkan berakhir. Penumpang kereta dikatakan telat ketika saat dia datang ke stasiun, kereta yang ingin dinaikinya sudah melaju. Begitu juga misalnya dengan penumpang pesawat terbang atau moda transportasi lainnya.

Memang, “telat” kadang digunakan untuk sesuatu yang tidak benar-benar bisa dilakukan lagi. Telat datang ke sekolah misalnya. Setelah bel masuk berbunyi, ternyata ada siswa yang baru tiba. Siswa ini dikatakan telat, tapi bukan berarti sekolah sudah tutup. Siswa ini tetap bisa masuk sekolah setelah meminta izin dari guru yang bertugas. Tapi secara umum, “telat” lebih sering dipergunakan dalam makna pada kondisi yang pertama tadi, sesuatu terjadi setelah waktu yang ditetapkan.

Nah, dengan referensi itu, agak lucu membayangkan makna “gol telat”. Berarti gol ini terjadi setelah waktu permainan berakhir. Dan dalam sepakbola, meski waktu pertandingan resmi adalah 90 menit, pertandingan baru akan dinyatakan benar-benar berakhir ketika wasit meniupkan peluit panjang. Ada yang namanya waktu tambahan, sebagai waktu pengganti karena suatu kejadian saat pertandingan berlangsung. Karenanya, pertandingan berlangsung tidak murni 90 menit.

Pada kenyataannya, “late” tidak hanya berarti “telat”. Dalam “late 90’s”, kata “late” berarti “akhir”. Makna inilah yang sepertinya lebih tepat untuk digunakan dalam istilah “late goal”. Anehnya, kenapa jurnalis di Indonesia lebih memiliki makna “telat” dibanding “akhir”? Biar dapet unsur dramatis atau gimana? Sayangnya, kalau emang unsur dramatis yang ingin didapatkan, berarti unsur dramatis yang kebablasan. Wong, pertandingannnya sudah selesai, kenapa baru bikin gol. Jadi enggak berlaku, dong, golnya…. Salam. :d

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “Kalau Telat, Enggak Jadi Gol, Dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s