Benang Adi Kusut

Siang itu, hujan turun tiba-tiba. Cukup deras. Anak-anak yang sedang asyik bermain layang-layang di lapangan bergegas menurunkan layang-layang mereka. Masing-masing berlomba. Tidak hanya dengan sesama, tapi juga dengan air yang turun cukup deras.

Tidak perlu waktu lama bagi anak-anak untuk menurunkan layang-layang mereka. Dalam sekejap, layang-layang yang tadinya melayang-layang di ketinggian, kini sudah ada di genggaman. Merapikan sebentar benang yang masih terulur, anak-anak pun lari ke tepi, berteduh.

Ketika anak-anak sudah berteduh di sisi lapangan, di sebuah pos kosong, ada salah satu dari mereka yang masih sibuk di tengah lapangan. Adi masih berusaha merapikan benangnya. Menggulung benang yang tadi dia gunakan untuk menerbangkan laying-layang.

Hujan turun semakin deras. Layang-layang Adi sudah robek terkena hujan. Sementara, benangnya tak juga terurai. Malah, karena ingin secepat mungkin merapikannya, benang semakin kusut. Membentuk gumpalan yang sangat sulit diurai.

Teman-teman Adi memperhatikan dari pos. Berteriak kepada Adi agar cepat berteduh. “Bawa ke sini aja!” Tapi Adi tetap di tempatnya. Berusaha mengurai benangnya sendiri. Tak peduli pakaian dan tubuhnya yang telah basah karena hujan. Tak peduli pada kenyataan layang-layangnya kini hanya tinggal rangka yang permukaannya telah habis digerus hujan.

Hujan turun hanya sesaat. Ketika Adi masih sibuk mengurai benangnya, matahari telah kembali. Hujan berhenti. Anak-anak pun keluar dari tempat berteduh. Melihat ke langit. Memperhatikan cuaca. Cerah. Satu per satu mereka mulai kembali menaikkan kembali layang-layang mereka. Kecuali, Adi. Keadaannya tidak lebih baik. Benang itu menggumpal semakin rumit.

Adi pun lalu membawa benangnya ke pos. Duduk bersandar di dindingnya sambil memperhatikan teman-temannya yang sedang berusaha menaikkan layang-layang.

Sempat terpikir olehnya untuk membuang benang yang telah kusut itu. Melihat kondisinya, sepertinya Adi tidak akan mampu mengurai kembali benang itu. Dia buang benang itu lalu meminta yang baru pada ibunya. Tapi, terlalu sayang untuk membuang benang itu begitu saja. Walaupun dia sudah kusut dan kehujanan, bersama benang ini, kemarin Adi memutuskan tiga layang-layang. Masih teringat dengan jelas perasaannya saat itu. Ketika teman-temannya berdecak kagum melihat Adi berhasil memutuskan layang-layang yang diterbangkan anak-anak dari lapangan sebelah. Layang-layang yang dipakainya untuk memutuskan tiga layang-layang lain sudah rusak, tergerus air hujan. Hanya benang itu yang mengingatkan Adi pada kebanggaan yang pernah dia lakukan. Dia akan mengurai benang itu dan menyimpannya.

Cukup lama Adi duduk bersandar di dinding pos. Tidak bisa dia menipu dirinya. Dia sangat ingin bermain layang-layang bersama teman-teman yang lain. Tapi, untuk melakukan itu, dia harus mengurai benangnya terlebih dulu. Adi pun bangkit. Berjalan menuju rumahnya dengan benang kusut di tangannya.

Tiba di rumah, Adi tidak peduli pada perkataan Ibu untuk mengganti pakaian yang basah. Dia berjalan terus menuju kamarnya. Dia ingin secepatnya bisa mengurai kembali benang kebanggaannya. Dia ingin mengulang kembali masa-masa membanggakannya bersama benang itu.

Satu per satu benang mulai diurai oleh tangan-tangan kecil Adi. Tidak mudah. Karena sampai malam, ketika Ibu memanggil untuk makan malam, benang masih menggumpal. Atas paksaan Ibu, Adi pun mandi lalu makan malam.

Malam itu, yang ada dalam pikiran Adi hanya cara untuk mengurai benangnya. Sepanjang malam dia memikirkan cara untuk mengurai benang itu. Haruskah dipotong lalu disambung kembali? Kalau begitu, dia pasti akan kalah jika nanti bertarung lagi dengan layang-layang anak lain. Dia harus mengurai benang itu tanpa memotongnya sedikit pun. Adi pun akhirnya terlelap dengan pikirannya itu.

©

Sepulang sekolah, Adi langsung menyibukkan diri di dalam kamar. Diambilnya benang kusut yang kemarin belum selesai dia urai. Jari-jari kecilnya mulai coba mengurai kekusutan itu satu per satu. Ditariknya bagian yang ini, lalu yang itu, lalu bagian yang lain, dan seterusnya.

Rumah Adi tidak terlalu jauh dari lapangan tempatnya bermain. Dia bisa mendengar dengan jelas suara teman-temannya yang mulai menaikkan layang-layang. Suara mereka saling meledek satu sama lain. Saling memberi semangat ketika ada di antara mereka yang mengadu layang-layang dengan anak-anak dari lapangan lain.

Sesaat, terpikir oleh Adi untuk meninggalkan benang kusut itu dan pergi ke lapangan. Melihat teman-temannya bermain dan ikut dalam keseruan permainan layang-layang. Tapi, dia sadar. Jika dia lakukan itu, dia hanya menjadi penonton di sisi lapangan. Dia hanya bisa melihat. Dia tidak akan memainkan layang-layangnya sendiri. Sementara di rumah, benangnya akan tetap kusut. Berarti akan semakin lama baginya untuk bisa memainkan layang-layangnya sendiri. Tidak. Dia tetap di kamarnya, berusaha mengurai benang yang kusut.

Dia sadar betul kekusutan benang itu adalah kesalahannya. Dia menurunkan layang-layang begitu tergesa-gesa sampai-sampai tidak memperhatikan benang yang mengular di tanah. Kaki-kakinya bergerak ke sana-ke mari. Kadang menginjak benang itu. Mendorong mereka, menyatukan mereka menjadi gumpalan yang sulit diurai. Dan sekarang, tugasnyalah untuk mengurai kembali benang kusut itu.

Satu per satu bagian benang berhasil dia urai. Dikeluarkannya dari gumpalan yang membuat pusing orang yang melihatnya. Adi semakin bersemangat. Ada kemajuan. Usahanya tidak sia-sia. Dia terus berusaha. Jari-jari kecilnya semakin cepat bergerak ke sana-ke mari.

Hari sudah gelap ketika Adi berhasil mengurai semua benang itu. Dia gulung kembali benang itu seperti semula. Tidak pernah terbayang ada momen kebanggaan seperti itu. Momen yang tidak kalah membanggakan dari berhasil memutuskan tiga layang-layang lawan. Tapi, hari sudah gelap. Tidak ada lagi yang bermain layang-layang di lapangan. Mereka semua sudah kembali ke rumah masing-masing.

Adi menyimpan benang yang baru saja dia rapikan. Diletakkannya gulungan benang itu di atas meja belajarnya. Di sampingnya, dua buat layang-layang siap untuk diterbangkan. “Besok. Besok akan kuterbangkan layang-layang itu. Akan kukalahkan semua musuhku,” tekad Adi dalam hati.

©

Tiba di rumah, Adi bergegas mengganti seragamnya lalu makan siang. Semua dilakukan dengan cepat. Selesai dengan itu, dia mengambil benang dan layang-layang lalu berlari ke lapangan. Dia menjadi yang pertama tiba di lapangan. Dia dengan leluasa menerbangkan layang-layangnya.

Satu per satu teman-temannya kemudian datang. Mereka tersenyum melihat Adi sudah kembali bermain layang-layang. Tidak ada kata yang terucap, hanya senyum ketika melihat Adi mengendalikan layang-layangnya menggunakan benar.

Hari itu, cukup banyak layang-layang yang diterbangkan. Anak-anak dari lapangan sebelah juga ramai bermain layang-layang. Adi menantang mereka. Layang-layangnya didekatkan, tanda mengajak untuk mengadu. Tantangan itu pun diterima. Layang-layang lawan digerakkan mendekat layang-layang Adi. Pertempuran dimulai. Masing-masing berusaha mengalahkan lawan. Benang ditarik sekuat tenaga, coba memutuskan benang lawan. Selang berapa lama, layang-layang Adi putus. Melayang-layang bebas di udara. Kesal? Sedikit. Tidak ada yang tidak kesal ketika layang-layang miliknya putus. Tapi hanya sesaat. Benang yang terurai dia rapikan. Digulung. Di ujungnya, dia ikatkan layang-layangnya yang lain. Adi siap menerbangkan lagi layang-layangnya.

Jakarta
22 Oktober 2012

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s