Menjual Bicara

Setelah sekian lama hanya mendengar dari cerita teman-teman dan orang-orang di sekitar, saya akhirnya punya kesempatan untuk datang ke seminar James Gwee. Sebenarnya, saya tidak tahu pasti mengenai tokoh ini. Dalam bayangan saya, dia adalah motivator – macam Mario Teguh dengan “Salam Super”-nya. Ternyata, setelah cari info di sana-sini, saya baru tahu bahwa James Gwee bukanlah seorang motivator. Hmmm… beberapa memang ada yang menyebut dia sebagai motivator. Tapi mungkin lebih tepat dia sebagai pembekal presentasi – entah apa dari mana muncul ide istilah ini. Trainer. Intinya, pria asal Singapura ini mengajarkan tehnik-tehnik melakukan presentasi.

Dan, hari itupun tiba juga. Pagi-pagi benar saya sudah datang di tempat acara. Peserta yang lain juga sudah berkumpul. Beberapa bahkan terlihat tak sabar ingin mengikuti seminar yang kata orang tiketnya cukup mahal. Oh, ya. Saya mengikuti seminar James Gwee tanpa harus membayar. Saya cukup mengeluarkan uang untuk transportasi dan sebungkus rokok. Maklum, ada unsur pekerjaan di sini.

Beberapa saat sebelum acara dimulai, James Gwee berjalan bergegas masuk ke dalam ruang acara. Wajahnya terlihat ceria, penuh semangat. Langkahnya mantap, penuh percaya diri. Kepada orang-orang yang sudah menunggu di depan pintu tempat berlangsungnya acara, dia tebarkan senyum.

Pintu ruang pun dibuka. Dari dalamnya, terdengar musik yang menghentak. Keras. Pagi itu, suasana menjadi sangat bersemangat. Penuh gairah. Satu per satu peserta masuk sambil menggerakkan tubuh mereka sesuai dengan irama musik yang dimainkan. Ruang menjadi gegap gempita. Tak terbayang bahwa sekitar kurang dari 1 jam yang lalu saya masih harus berjuang dengan kantuk, berbekal beberapa batang rokok dan segelas kopi hitam.

James Gwee pun memulai seminarnya. Penuh semangat. Tidak sedetikpun dia biarkan semua orang yang ada di dalam ruang untuk kehilangan fokus pada dirinya. Senyum selalu terpajang di wajahnya. Semangat selalu dia tularkan kepada setiap orang di dalam ruang.

Satu pengakuan, saya orang yang mudah bosan jika mengikuti acara seperti ini. Seminar hanya akan membuat saya mengatuk, dan berjuang sekuat tenaga untuk melawan rasa kantuk itu karena tidak enak pada yang punya acara. Tapi di sini, James Gwee membuat saya tidak merasakan kebosanan yang biasanya saya derita.

Rangkaian demi rangkaian acara berlangsung. Hingga pada salah satu sesi menjelang sore hari, saya terpikir sesuatu. Apa yang membuat James Gwee menjadi seorang trainer hebat dan banyak orang yang bersedia mengluarkan uang dalam jumlah cukup besar untuk mengikuti seminarnya. Saya pun mulai berpikir dan mengingat berbagai hal yang saya jalani sejak pertama memasuki ruang seminar. Akhirnya, saya menemukan sebuah pemikiran.

James Gwee adalah tipikal orang modern. Orang-orang dari negara maju. Orang-orang dari negeri yang minim sumber daya alam. Orang-orang yang mengandalkan kemampuannya untuk bisa ‘menjual sesuatu’.

Mengikuti berbagai sesi dalam seminar James Gwee, saya menyadari yang dia ajarkan adalah cara mengemas sebuah presentasi agar menjadi menarik. Semua orang yang datang ke presentasi itu terus menyimak tanpa merasa tersiksa dalam melakukannya. Dalam hal ini, hal utama yang diajarkan oleh James Gwee adalah cara mengemas. Kemasan. Yang dia tawarkan adalah proses tambahan setelah kita memiliki bahan dasar. Kemasan yang membuat bahan yang kita miliki menjadi lebih menarik.

Saya pun jadi teringat pada suatu kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat itu, saya berbincang dengan seorang Public Relation (PR) salah satu kafe ternama di Jakarta. Karena kafe itu menjual berbagai hasil olahan teh, perbincangan yang terjadi pun seputar teh. Ketika itu, PR ini berbicara mengenai berbagai produk teh yang berasal dari luar negeri. Dia menyayangkan ketidakmampuan bangsa Indonesia dalam mengembangkan bahan dasar yang dimiliki. Menurut pengakuannya, berbagai produk yang berasal dari luar itu bahan dasarnya diambil dari Indonesia. “Mereka beli bahan dasarnya lalu diolah di sana. Setelah itu, dijual kembali di Indonesia dengan harga yang tinggi.” Itulah yang dilakukan oleh James Gwee.

Dia tahu bahwa yang mengikuti seminar-seminarnya adalah orang-orang pintar. Orang-orang yang memiliki bahan dasar luar biasa. Hanya saja, seringnya orang-orang ini tidak mau membuat kemasan yang menarik pada bahan dasar luar biasa yang mereka miliki. Padahal, pada kenyataannya, kemasan memiliki peran yang juga penting dibanding kualitas produk yang ditawarkan.

Sayangnya, setelah mengikuti berbagai sesi seminar ini, saya berpikir bahwa James Gwee tidak membahas apapun tentang yang dinamakan sebuah presentasi yang berkualitas, mengenai isi. Dia berkutat pada cara penyampaian dan menjaga agar pendengar presentasi tetap fokus dan tidak merasa bosan.

Secara tanpa sadar, saya pun kemudian membandingkan ilmu yang diberikan James Gwee dengan seseorang yang, secara tidak langsung, membahas mengenai presentasi. Handry Satriago, CEO GE Indonesia. Saat itu, pria ini memang tidak khusus membahas soal cara atau tehnik berpresentasi. Dia sebenarnya sedang membahas pola pikir manusia global. Tapi dalam pembahasannya, dia menyisipkan sedikit cara/tehnik presentasi yang baik menurutnya. Saat itu, sesi bicara Handry hanya sekitar 1 jam. Sementara, saya mengikuti seminar James Gwee dari jam 9 pagi sampai menjelang magrib. Tapi, satu hal, yang dibicarakan Handry jauh lebih membekas di kepala saya dibandingkan yang dijejalkan oleh James Gwee. Kenapa? Mungkin, dan ini hanya kemungkinan menurut logika saya, Handry lebih menitikberatkan pada isi dengan sedikit pembahasan mengenai kemasan, sementara James Gwee hanya menitikberatkan pada cara mengemas.

Ingatan saya pun coba menggali setiap detail kejadian ketika mengikuti sesi Handry Satriago. Yang saya ingat, ketika sesi itu berakhir, saya merasa seperti baru. Pikiran saya cerah. Ada semangat optimis yang menggebu di dalam diri saya. Apa dia seorang motivator? Tidak. Dia seorang CEO. Tapi, yang saya rasakan dia memberikan efek yang jauh lebih besar dibanding dengan yang diberikan James Gwee, atau bahkan Mario Teguh yang nyata-nyata memproklamirkan dirinya sebagai motivator.

Saya ingat betul saat itu Handry tidak berbicara dengan intonasi yang menggebu-gebu seperti James Gwee atau penuh penekanan seperti yang selalu dilakukan Mario Teguh. Bicaranya santai. Memang, dia diuntungkan dengan karakter suaranya yang begitu khas, berkarakter, membuat semua orang untuk terus memperhatikannya. Tapi, lebih dari itu. Yang dia tawarkan saat itu adalah sebuah gagasan. Sebuah kail untuk memancing. Sisanya, tergantung si orang yang diberi akan diapakan kail itu. Dia tidak menjanjikan tiap orang yang diberikan kail akan mendapatkan ikan besar. Semua tergantung pada si pemancing itu sendiri. Sekali lagi, yang dia berikan hanya gagasan awal yang sangat mungkin untuk dikembangkan oleh orang-orang yang mendengarkannya.

Tulisan ini bukan ingin bilang bahwa kualitas James Gwee dan Mario Teguh serta para motivator lainnya jelek. Tidak. Sebagai orang yang berprofesi di bidang itu, mereka sangat profesional – setidaknya James Gwee karena saya pernah mendatangi seminarnya. Mereka menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Mereka tidak membiarkan sedikitpun orang yang datang melihat ada cela dari seminar yang dilakukan. Semua kru bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kasus James Gwee, dia sepertinya tidak pernah merasa lelah. Dia selalu penuh semangat. Dari awal acara hingga akhir. Dia selalu bergairah dan menularkan gairahnya itu kepada orang-orang yang ada di dalam ruangan – dan itu sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Hanya saja, ya itu tadi. Yang mereka tawarkan hanya sisi luar. Layaknya make up artist atau penata busana, mereka mampu membuat orang terlihat cantik. TERLIHAT. Sementara, ada sisi yang tidak kalah penting. Dan bagi orang seperti saya merupakan hal yang sangat penting. Sesuatu yang ada di dalamnya. Bukan saja menyajikan presentasi yang menarik, tapi juga menyajikan sesuatu yang berharga. Ada ilmu yang disajikan, selain penampilan yang menarik.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s