Musik Tanpa Lirik

Kalau mungkin melakukan riset mengenai apa yang membuat orang menyukai suatu lagu, mungkin lirik hanya akan menempati porsi yang kecil. Sok tahu? Mungkin. Tapi, kondisi yang terjadi sekarang menunjukkan kecenderungan itu.

Akrab dengan “Gangnam Style”? Lagu milik musisi asal Korea, PSY. Awalnya, saya tidak tahu apapun ketika orang-orang di sekitar saya membicarakan lagu ini. Tapi, karena lagu ini begitu populer, diputar di televisi, radio, berbagai acara, dan lain-lain, akhirnya saya pun menjadi akrab dengan lagu ini – bahkan hampir pada tahap terteror karena begitu seringnya mendengar lagu ini.

Mendengar lagunya, jujur, saya tidak mengerti maksud yang mau disampaikan – kecuali pada bagian kecil yang menggunakan bahasa Inggris. Maklum, saya sama sekali tidak mengerti bahasa Korea. Saya pun lalu coba mencari lirik lagu ini d Google. Ternyata, lagu ini tentang pemujaan seorang pria terhadap wanita yang disukainya. Lalu, pertanyaan kemudian: apakah karena tema ini yang membuat lagu “Gangnam Style” menjadi begitu populer, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh penjuru dunia? Tidak.

Sepertinya semua orang akan setuju bahwa lirik bukanlah alasan lagu ini menjadi begitu populer. Lalu apa? Koreografi yang unik. Berani menawarkan sesuatu yang baru. Walaupun dengan gerakan yang sederhana, jauh lebih sederhana dari koreografi yang dipakai Agnes Monica. Justru karena kesederhanaan itu, mungkin ditambah karena merupakan hal baru, yang membuat “Gangnam Style” begitu cepat menyebar ke penjuru dunia.

Saya pun teringat fenomena yang hampir sama tahun lalu. Masih ingat dengan “Party Rock Anthem” dari LMFAO? Tak apa kalau ternyata Anda tidak ingat dengan lagu ini, karena lagu-lagu seperti ini memang sangat mudah untuk dilupakan. Tapi, mungkin Anda masih ingat dengan fenomena “shuffle dance”, yang sisanya masih bertahan hingga sekarang.

“Party Rock Anthem” menjadi lagu yang kembali mempopulerkan “shuffle dance”, setelah hanya menjadi salah satu bagian dari catatan sejarah dance.

Walaupun lagu ini berbahasa Inggris, yang tidak asing bagi masyarakat internasional, tapi apakah orang-orang yang mendengarnya peduli dengan lirik yang dinyanyikan? Sebagian besar orang lebih menikmati koreografi yang ditawarkan. Memang, pernyataan ini tanpa bukti empiris. Tapi, ya, ada keyakinan yang sangat besar bahwa pernyataan itu memang benar adanya. Dan, anggaplah pernyataan itu benar, lalu kita akan sampai pada pertanyaan utama: seberapa penting peran lirik dalam membuat sebuah lagu menjadi populer atau diterima di masyarakat?

Beberapa bulan lalu, saya pernah membaca artikel tentang popularitas “Someone Like You”-nya Adele. Menurut penulis artikel tersebut, yang membuat lagu “Someone Like You” menjadi begitu populer adalah karena dia dipersiapkan untuk seperti itu. Dalam hal ini, rangkaian nada. Saya tidak mengerti musik, tapi yang saya tangkap dari tulisan itu adalah ada formula tertentu yang bisa membuat orang sangat tersentuh ketika mendengar sebuah lagu. Dan, formula itu yang digunakan Adele – plus dengan lirik yang ‘bikin galau’.

Dalam kasus Adele, lirik memang memiliki peran. Tapi, hanya sedikit. Sebagai pelengkap. Layaknya “4 Sehat 5 Sempurna”, lirik dalam “Someone Like You” adalah bagian “5 Sempurna”. Apa itu berarti peran lirik sangat bisa diabaikan pada lagu-lagu saat ini?

Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan seorang teman. Singkat cerita, teman ini sedang galau. Penyebabnya, lagu “Watch How You Go” dari Keane. Saya pun mendengar lagu ini. Tidak semenarik “Gangnam Style”, “Party Rock Anthem”, atau “Someone Like You”. Tapi setelah membaca liriknya, maklum kemampuan mendengar bahasa Inggris saya di bawah standar, saya tahu penyebab kegalauan teman saya itu. Liriknya. “The things that we have shared will soon be left behind now,” begitu penggalan lirik lagu “Watch How You Go” yang ditulis teman saya di status salah satu akun media sosialnya.

Sebenarnya, menurut analisis dangkal saya, lagu ini berada di wilayah yang sama dengan “Someone Like You”-nya Adele. Lagu-lagu galau. Sayangnya, Keane tidak menggunakan “formula-lagu-populer” seperti yang digunakan Adele. Makanya, setidaknya di lingkungan saya, “Watch How You Go” tidak banyak diketahui. Bahkan, saya pun baru mendengar lagu ini setelah diberi tahu teman yang galau tadi.

Akhir kata, saya berpikir bahwa musik memang kesenian yang menggabungkan berbagai unsur. Nada dan lirik. Dan ketika mulai dikenal video klip, ditambah dengan visual. Seiring dengan perkembangannya, harus diakui bahwa unsur audio dan visual memegang peran besar dalam kepopuleran sebuah lagu. Audio yang dimaksud di sini adalah nada/irama/not yang ditawarkan, sedangkan visual adalah pengemasan yang dilakukan (video klip). Sementara lirik, dia hanya menjadi pelengkap. Audio dan visual bagus, ya syukur-syukur liriknya juga bagus. Kalaupun tidak, tetap bisa membuat orang joget-joget atau merenung sendiri di dalam kamar. Hmm…. Jadi kangen sama “By Your Side”-nya Sade.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s