Anak-anak Tanpa Kelamin

Tidak jarang, baik di media cetak maupun elektronik, ketika memberitakan suatu kejadian yang menyebabkan adanya korban jiwa, penyebutan jumlah korban akan dilakukan seperti ini: korban meninggal 112 orang (52 pria, 50 wanita, dan 10 anak-anak).

Menggolongkan pria dan wanita dalam penyebutan jumlah korban tidak masalah, tapi kenapa penggolongan yang ketiga adalah anak-anak?

Secara kelas bahasa, ‘pria’ setara dengan ‘wanita’. Keduanya merupakan pembedaan berdasarkan jenis kelamin. Sementara, ‘anak-anak’ berada dalam kelas yang berbeda. ‘Anak-anak’ setara dengan ‘remaja’, ‘orang tua’, dan lain sebagainya – pembedaan berdasarkan usia.

Di sisi lain, adanya tiga penggolongan tersebut juga menimbulkan pertanyaan lain. Kecuali pada kasus tertentu, jenis kelamin manusia sudah dapat diketahui ketika mereka lahir – bahkan dengan bantuan teknologi sudah dapat diketahui sejak sebelum lahir – apakah seseorang berkelamin pria atau wanita. Pemberitaan semacam itu seperti menafikan bahwa anak-anak sudah memiliki jenis kelamin. Bahwa jenis kelamin seseorang hanya baru dapat diketahui setelah mereka bukan lagi ‘anak-anak’.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s