Loyalty??? (2)

Dengan invasi besar-besaran yang dilakukan taipan minyak ke sepakbola Eropa, uang adalah godaan yang sangat besar. Dalam sekejap, seorang pemain bisa menjadi miliuner. Melepaskan kakinya dari pijakan di tanah. Melayang dan hidup dalam bergelimangan kekayaan. Dan karenanya, kesetiaan merupakan sesuatu yang sangat mahal harganya, baik bagi klub maupun bagi si pemain.

Sudah sejak lama Eropa menjadi impian para pesebakbola dunia. Persaingan yang ketat, kompetisi dengan kualitas yang sangat baik, plus uang yang melimpah. Dan dalam satu dekade terakhir, impian tersebut mengerucut menjurus beberapa klub kaya.

Klub-klub seperti Chelsea, Manchester City, juga PSG – ada pula Malaga, yang sayangnya harus berkorban demi saudara tuanya – sangat mudah mendapatkan pemain yang mereka inginkan. Belum lagi, klub-klub yang memang didukung manajemen dan finansial yang sangat baik, seperti Real Madrid dan Manchester United. Iming-iming gaji yang besar terlalu sulit untuk ditolak untuk pemain manapun. Biaya transfer yang selangit menjadi godaan yang sangat hebat bagi klub-klub lain untuk melepaskan pemain andalan mereka.

Besarnya godaan uang terlihat nyata pada beberapa klub, Ajax Amsterdam contoh paling mudah. Pada suatu masa, Ajax pernah menjadi klub besar di Eropa, juga dunia. Pemain-pemain berbakat dilahirkan dan bermain di sini. Johan Cruyff, Edgar Davids, Clarence Seedorf, Dennis Bergkamp, Marc Overmars, dan lain-lainnya. Sayangnya, mereka harus pergi dari klub yang telah membina dan membesarkan nama mereka. Uang salah satu alasannya.

Dengan besarnya uang yang mengalir, tak mudah menghalau pandangan negatif bahwa banyak pemain yang hanya mementingkan uang. Mereka rela berpindah-pindah klub selama klub yang baru tersebut mampu membayar lebih tinggi dari klub yang lama. Terutama, bagi para pemain yang tidak berasal dari Eropa – Asia, Amerika, dan Afrika. Padahal, dalam kasus tertentu, kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Uang memang menjadi pemikat yang sangat menarik, tapi beberapa di antara mereka menunjukkan royalitas yang luar biasa bagi klub yang dibelanya.

Beruntung bagi Paolo Maldini, Steven Gerrard, atau Ikar Casillas yang tumbuh di daerah yang memiliki klub besar dengan sejarah dan dukungan finansial yang juga tak kalah besar. Tapi, keberuntungan seperti itu hanya dimiliki oleh segelintir pemain hebat. Bayangkan Cristiano Ronaldo jika harus bertahan di liga Portugal, atau Modric di Kroasia, atau nama-nama berkualitas lain yang hidup di negara dengan iklim sepakbola dan sokongan dana yang seadanya.

Tapi, pertanyaan besar yang muncul adalah apakah loyalitas hanya semata milik para pemain Eropa? Tidak.

Dua nama yang patut dijadikan contoh dalam loyalitas mereka kepada klub, dan mereka bukan berwarga negara Eropa, adalah Javier Zanetti dan Lionel Messi. Kebetulan, keduanya berasal dari negara yang sama, Argentina.

Ditolak oleh tim yunior Independiente, Zanetti mengawali karier di Talleres RE. Dia lalu pindah ke Armenia Banfield. Pada 1995, Zanetti memulai karier di Eropa, bersama Inter Milan. Dan, di klub inilah dia bertahan hingga kini. Melakukan lebih dari 800 pertandingan untuk klub biru hitam serta meraih 16 trofi hingga musim 2012-1013 dimulai.

Sebagai pesepakbola, dia bukan tipikal pemain yang menjadi pusat perhatian. Tidak seperti Roberto Carlos atau Douglas Maicon yang permainannya mampu menyedot perhatian publik. Dia tidak memiliki kecepatan yang luar biasa atau tendangan yang sangat keras. Boleh dibilang, dalam dua hal itu, dia biasa-biasa saja. Bahkan, kemampuannya mencetak gol pun sangat minim. Selama sekitar 17 tahun barmain untuk Inter Milan, Zanetti baru membuat 17 gol. Sangat minim untuk ukuran seorang pemain bertahan di zaman sepakbola modern. Tapi, meski begitu, bukan berarti dia pemain yang biasa saja. Kemampuan membaca serangan lawan, menghalau serangan, juga me-drible bola sangat luar biasa. Dia pemain yang sangat sulit dilewati oleh lawan – bahkan di usianya yang sudah 39.

Bertahan selama 17 tahun di Inter Milan bukan berarti dia tidak diminati oleh klub besar lain. Banyak klub yang sangat menginginkan jasanya. Kepemimpinannya di lapangan serta mampu bermain di berbagai posisi menjadi nilai lebih dari pemain ini. Tapi, dia bukan tipe pemain yang mudah tergiur oleh tawaran gaji yang lebih besar.

Sudah banyak yang dilaluinya di Inter Milan. Dia sudah ada di klub ini saat Inter menjadi tim yang sangat ambisius di Eropa. Dua kali memecahkan rekor transfer pemain. Menjadi klub yang sangat serius dalam perebutan gelar juara. Dia tetap bertahan ketika klub ini mengalami masa keterpurukan. Dan, dia menjadi kapten tim ketika tim ini mengalami masa kejayaan. Menjadi juara di Eropa, juga di dunia. Kesetiaannya pada Inter terbayar dengan berbagai gelar yang diperolehnya. Untuk masalah gaji, dia jauh di bawah pemain-pemain mahal yang ada saat ini – bahkan di antara pemain-pemain mahal di Inter Milan. Tapi, sebagai pesepak bola, dia salah satu yang paling dihormati.

Kesetiaan juga ditunjukkan oleh yuniornya di tim nasional Argentina, Lionel Messi. Mengawali karier di tim yunior Newell’s old Boys, perjalanan Messi ke Eropa sempat mengalami halangan yang sangat besar. Bakat luar biasa yang dimiliki Messi muda tak cukup untuk meyakinkan klub-klub Eropa untuk merekrutnya. Masalah fisik menjadi penyebabnya. Tubuh mungil Messi dianggap membuatnya tidak akan kompetitif bermain di kompetisi Eropa. Tapi, Barcelona berpikir lain. Klub Catalan ini bersedia melakukan investasi yang luar biasa terhadap bakatnya. Dengan bantuan suntikan hormon dan berbagai treatment, Messi menjadi salah pemain terhebat di dunia saat ini.

Kecepatan, kemampuan mengolah bola yang luar biasa, penyelesaian akhir yang sangat ciamik menjadi kelebihannya. Dua kali menjadi pemain terbaik dunia, pencetak gol terbanyak. Tak pelak, berbagai klub sangat berhasrat untuk bisa mengontraknya. Tapi, sepertinya keinginan para klub itu tidak akan berhasil – setidaknya dalam waktu dekat. Messi tidak menunjukkan hasrat untuk pindah dari Barcelona. Dan lagi, dia memiliki salah satu kontrak terbesar di dunia sepakbola. Juga, sepertinya dia termasuk tipe yang tidak mengagungkan uang. Kalaupun Messi sangat membutuhkan uang dalam jumlah besar, dia bisa mendapatkan dari kontrak berbagai sponsor. Sementara untuk klub, sepertinya hutangnya pada Barcelona tidak akan pernah lunas.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s