Komik?

Tiba-tiba saya terpikir suatu hal ketika datang ke pameran komik di Goethe Haus, Menteng, Jakarta. Bagaimana komik yang baik?

Mengenai pengertian, sejarah, dan segala hal tentang komik ada banyak referensi yang bisa dibaca. Tinggal minta Pak Google untuk mencari, akan ada banyak literatur yang bisa memberikan kejelasan tentang segala hal itu. Dan di tulisan ini, saya bukannya ingin sok menggurui atau membuat pernyataan yang paling benar dari segala referensi yang sudah ada. Saya hanya ingin mengemukakan pendapat, sekadar berbagi pemikiran.

Melihat kualitas karya komikus Indonesia yang dipamerkan di Goethe lalu membandingkan dengan karya para komikus asal Jerman, rasanya tidak perlu ada rasa minder kepada karya anak negeri. Masing-masing dari mereka dengan cara penceritaan dan gaya sendiri – tentunya dengan kualitas yang bagus. Hanya saja, yang kemudian jadi pertanyaan, kenapa komik Indonesia terasa seperti tama di rumah sendiri? Sebelumnya, saat membuka website komikindonesia.com, ada yang menulis keberhasilan membujuk pihak Gramedia Margonda, Depok, untuk menyediakan rak khusus untuk komik-komik Indonesia. Bukannya tidak menghargai yang dilakukan orang-orang ini atau pihak Gramedia Margonda, Depok, hanya saja, perlunya bujukan agar disediakan rak khusus untuk komik Indonesia, berarti belum ada kesadaran dari pihak penjual (Gramedia) bahwa komik lokal sudah memiliki kualitas yang baik – juga nilai jual. Yang kemudian, saya menghubungkan dengan pertanyaan di paragraf pertama tadi.

Salah satu hal yang saya pelajari ketika kuliah – saya kuliah di fakultas sastra – adalah yang penting dalam komunikasi adalah ketepatan cara berkomunikasi. Bukan tentang baku, formal, sesuai EYD, atau segala macam nilai yang ditetapkan, tapi yang utama adalah tepat sehingga komunikatif.

Saat kuliah, ada mata kuliah bahasa yang berjenjang. Harus menyelesaikan yang satu baru bisa mengikuti yang lain. Mulai dari pengantar umum, soal bunyi, kata, kalimat, hingga wacana. Segala hal, aturan, teori, penemuan, dan lainnya, yang berkaitan tentang bahasa dibahas di semua mata kuliah ini. Dan sebagai penutup dari rangkaian ini, adalah mata kuliah Pragmatik – bahasa dalam penggunaan. Di mata kuliah inilah, segala aturan, teori, dan sebagainya, yang dipelajari di semester-semester sebelumnya terasa tidak berarti. Hancur, remuk, lalu diterbangkan angin.

Contoh yang paling saya ingat saat mengikuti mata kuliah ini adalah kalimat “Bang, biasa, ya.” Secara struktur, kalimat ini salah. Mengandung kerancuan. Tapi, bila melihat konteks kalimat ini diucapkan, kalimat ini akan sangat mudah dipahami.

Kalimat ini diucapkan seorang pelanggan kepada penjual langganannya. Sehingga, kata “biasa” dalam kalimat itu mengandung makna yang jelas bagi mereka – pelanggan dan penjual. Itulah bentuk komunikasi yang tepat. Singkat dan jelas – tentunya sesuai dengan konteks. Pelanggan tidak perlu menjelaskan secara detail menu yang diinginkan dan penjual pun tidak perlu menjabarkan menu yang disediakan. Kata “biasa” cukup untuk menggantikan semua detail yang diperlukan. Lalu, apa hubungannya dengan komik?

Sebagai salah satu media komunikasi, komik juga harus memiliki bentuk penyampaian yang tepat. Tidak perlu berlebihan. Seperlunya saja, secukup yang dibutuhkan agar yang menerima informasi dapat mengerti maksud yang ingin disampaikan. Dalam hal ini, saya teringat karya duet, mungkin, terbaik di dunia komik nasional, Beny dan Mice – sayangnya mereka sudah berpisah.

Di akhir ’90-an, mereka menerbitkan “Lagak Jakarta” dalam beberapa seri. Yang menjadi istimewa dari rangkaian “Lagak Jakarta” adalah pengkhususan komunikasi yang dilakukan: bahwa yang menjadi topik karya tersebut adalah segala hal yang terjadi di Jakarta. Dengan memberikan judul “Lagak Jakarta”, pembaca akan segera mengetahui semua yang dibicarakan berkaitan dengan yang terjadi di Jakarta – sehingga secara otomatis pembaca akan menyiapkan dirinya dengan segala pengetahuan tentang Jakarta. Dalam proses ini, pembaca dan komikus sudah memiliki pengetahuan bersama tentang komunikasi yang dilakukan. Tidak heran jika kemudian komik ini laku keras dan sangat digemari.

Adanya pengetahuan bersama sangat menguntungkan bagi kedua pihak. Komikus dapat membuat karya yang simpel, sederhana, ringkas, langsung pada maksud yang ingin disampaikan. Mereka tidak perlu diribetkan dengan masalah harus memberikan detail yang diperlukan agar karya mereka bisa dimengerti oleh pembaca. Sementara, bagi pembaca, pengetahuan bersama sangat membantu mereka memahami maksud yang ingin disampaikan komikus. Mereka tidak perlu merasa khawatir tidak dapat mengerti komik yang mereka baca. Lagipula, berhadapan dengan kenyataan bahwa komik merupakan bentuk komunikasi satu-arah – hanya komikus yang ‘berbicara’, sementara pembaca tidak dapat berdiskusi dengan komikus ketika mereka tidak mengerti komik yang dibaca – serta keterbatasan media yang sangat dibatasi oleh panel dan jumlah halaman, pengetahuan bersama sangat membantu terjalinnya kominikasi yang baik. Sebagai perbandingan, coba perhatikan “Panji Koming” yang terbit setiap hari Minggu di harian Kompas. Dengan menggunakan latar belakang zaman Kerajaan Majapahit dalam setiap ceritanya, sangat mungkin ada pembaca yang tidak mengerti maksud yang ingin disampaikan – karena ketidakpahaman mereka tentang latar belakang sejarah yang digunakan.

Melihat perkembangan komik Indonesia, sayangnya sangat minim karya lokal yang memanfaatkan pengetahuan bersama ini. Bahkan, seringkali ditemukan komikus yang hanya mengandalkan ‘joke lokal’ dalam karyanya. ‘Joke’ yang hanya dimengerti oleh kalangannya, tanpa ada pemberitahuan kepada pembaca – seperti pada kata “Jakarta” pada karya Beny dan Mice. Karenanya, tidak jarang pembaca yang kurang bisa memahami komik yang mereka baca – setidaknya itu yang kerap terjadi pada saya.

Selain itu, melihat perkembangan komik Indonesia – tentunya sesempit yang saya ketahui –, sepertinya boleh dibilang mayoritas komikus lokal menggabungkan gaya manga dengan komik Amerika dan Eropa. Mereka menggabungkan gaya penggambaran tokoh-tokoh manga dengan detail yang dimiliki komik Amerika dan Eropa. Yang akhirnya, saya berkesimpulan kebanyakan komikus lokal adalah pelukis realis yang memindahkan kreasinya dari kanvas ke kertas.

Jelek? Tidak. Mereka menghasilkan karya-karya yang sangat bagus, bahkan terlalu bagus bagi saya.

Komik merupakan pertemuan dua bentuk komunikasi – aksara dan gambar. Kedua bentuk komunikasi awalnya berasal dari satu sumber. Berawal dari lukisan sederhana di dalam gua, perjalanan waktu membawa lukisan-lukisan sederhana itu menjadi bentuk-bentuk lain, aksara dan gambar. Bahkan, keterkaitan aksara dan gambar masih bisa ditemukan di beberapa bahasa yang menggunakan aksara kanji – yang bentuknya sangat erat kaitannya dengan segala benda yang dilambangkannya. Dan di komik, dua perkembangan itu bergabung. Bersatu menjadi bentuk komunikasi yang baru.

Keduanya menempati porsi yang sama penting. Gambar tidak lebih penting dari aksara. Semuanya berhubungan. Saling menjelaskan. Saling melengkapi. Sayangnya, yang terjadi di Indonesia (sepertinya) gambar menempati posisi lebih penting. Gambar lebih diutamakan dari aksara.

Alasannya, jika memperhatikan karya-karya komikus lokal, banyak di antara mereka yang sangat intens memberikan detail pada gambar yang dibuat. Di setiap panel, di setiap halaman yang dibuat. Pemberian detail seperti ini banyak terjadi di komik Amerika dan Eropa – kecuali salah satunya Herge dengan “Tintin”. Pembaca disuguhkan gambar-gambar yang sangat realis. Begitu dramatis. Karenanya, saya menyebut mereka pelukis realis yang memindahkan media lukisan dari kanvas ke kertas. Lalu, apa itu jelek? Tidak. Saya sudah bilang itu. Hanya saja, yang kemudian terjadi adalah pembaca seperti disuguhkan oleh lukisan realis (yang sangat detail) padahal yang mereka hadapi adalah komik.

Saya teringat penjelasan mengenai “komik” yang dikemukakan Scott McCloud. Sependek ingatan saya, McCloud menjelaskan gaya gambar pada komik adalah konsep yang kita terima atau ada di kepala kita. Karenanya, sah-sah saja jika gambar pada komik tidak terlalu detail. Sebuah bulatan untuk kepala, dua titik sebagai mata, garis vertikal untuk hidung, dan garis horizontal untuk mulut. Gabungan bulatan, titik, dan garis itu sudah bisa disebut sebagai wajah seorang tokoh. Untuk hal ini, mungkin referensi yang bisa digunakan adalah “Mafalda” karya Joaquin Salvador Lavado (Quino). Gaya gambarnya sangat sederhana, cenderung ‘bersih’ tanpa banyak arsiran. Tapi, dengan gaya yang seperti itu, dia berhasil melakukan komunikasi yang diinginkan. Pembaca dapat memahami maksud yang disampaikan. Karyanya tidak hanya menitikberatkan pada gambar. Quino memaksimalkan dua unsur yang ada dalam komik, gambar dan aksara.

Kecenderungan yang terjadi pada para komikus lokal adalah sepertinya mereka ingin menunjukkan (show off) kemampuan menggambar mereka. Bahwa mereka mampu membuat gambar yang sangat bagus, sangat detail, sangat mengagumkan. Tapi, kembali ke soal komunikasi yang baik, apakah pemberian detail (pada gambar) akan semerta-merta membuat komunikasi berhasil?

Sebagai penikmat komik, detail yang berlebihan pada gambar membuat mata saya cepat lelah. Jujur, berhadapan dengan karya-karya seperti itu, hanya membuat saya memilih untuk hanya membaca teks pada setiap panel – dengan sangat minim meluangkan untuk menikmati gambar. Bayangkan ada empat panel dalam satu halaman dan setiap panel menghadirkan detail gambar yang berlebihan. Hasilnya? Satu halaman yang penuh dengan garis, dan itu sangat tidak nyaman untuk mata – setidaknya, lagi-lagi, untuk saya.

Tapi, ya itu sekadar pendapat saya. Lagipula, tulisan ini tidak bermaksud untuk memformulakan apalagi membatasi kreasi para komikus. Ini sekadar berpendapat. Semoga ada manfaat dari pendapat di sini.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s