Arbitrer

Pada awalnya, hanya unsur-unsur mineral. Mengisi ruang bersama mineral-mineral yang lain. Bergerak bersama alam. Lalu, alam memberi tekanan. Menyatukan sebagian mineral-mineral menjadi sebuah bentuk. Panas menyatukan mineral-mineral yang awalnya merupakan benda-benda terpisah. Menjadi sebuah benda padat.

Tak terlalu besar. Tak lebih besar dari biji buah salah. Bentuknya pun tak bisa dibilang bulat. Agak bulat di satu sisi, sedang di sisi lain lain agak lonjong.

Alam bukanlah pabrik, dia adalah seniman. Dengan panas dan tekanan, tanpa cetakan. Setiap yang dibuat adalah amung. Tak bisa ditiru dan tak akan ada yang sama.

Keras di dalam, terasa lembut di sekujur bagian luar. Berwarna kelam dan terlihat kokoh, tapi sekaligus mengesankan kehalusan.

Waktu pun menggerakkannya. Selesai terbentuk di dalam, bergerak menuju permukaan. Mengikuti arus pergerakan, dalam pergerakan yang sangat lambat untuk diikuti. Perlahan. Tanpa motivasi. Tanpa ambisi. Hanya menjalani peran dan mengikuti arus yang sudah dibuat.

Tiba di permukaan, warna hitamnya berkilau diterpa matahari. Noda tanah-cokelat telah dihapus oleh hujan yang baru saja usai. Tanah di sekeliling masih basah. Udara terasa lembab. Kadang aliran air masih mengalir di atasnya. Sisa-sisa air yang menempel di sisinya semakin mempertegas kehadirannya terpancar sinar matahari.

Hari demi hari. Malam-malam yang sunyi berlalu. Melewati pergantian musim. Angin dan air membuatnya kini sepenuhnya berada di atas permukaan. Hanya sedikit sisinya yang menyentuh permukaan. Berada di tengah padang yang gersang, hanya karena ukurannya sajalah penampakannya tidak terlalu mencolok.

Sampai kemudian, ada seorang manusia yang mengambilnya. Berjalan bersama kelompoknya, tiba-tiba manusia ini merasakan mulas yang luar biasa. Dan dengan kenyataan tempat dia berada, tak etis rasanya untuk melepaskan rasa itu. Mencari tempat yang memungkinkan akan membuatnya tertinggal dari kelompok. Dia harus melakukannya ketika kelompok berhenti nanti. Dan hingga saat itu tiba, dia harus bersahabat dengan rasa mulas.

Teringat olehnya sebuah perkataan orangtuanya, “Simpanlah batu di dalam saku jika mereka mulas.” Di arahkannya pandangan ke bawah. Dan di antara debu yang berhamburan, di situlah dia melihat yang dicarinya. Tak terlalu besar untuk disimpan di dalam kantung, juga tidak terlalu kecil untuk mampu menyimpan rasa mulas yang dialaminya.

Berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Melintasi waktu-waktu. Manusia itu masih menyimpan benda kelam yang telah membantunya melalui rasa mulas. Bahkan, dia mulai berpikir, bahwa batu hitam itu merupakan keberuntungannya. Walaupun tak jarang hanya dianggap masalah sepele, rasa mulas bisa menjadi hal yang rumit bagi sekelompok pejalan. Menahan akan membuat tersiksa dan menghabiskan tenaga, sementara berhenti dan mencari tempat untuk melampiaskan akan membuat terpisah dari kelompok. Dan bagi manusia itu, batu yang ditemukannya sangat membantunya ketika mengalami saat-saat seperti itu.

Sampai ketika berkeluarga dan memiliki keturunan, batu itu masih disimpannya. Menceritakan kepada anak-anaknya tentang hal-hal yang pernah dilalui bersama batu itu. Menjadikannya dongeng sebelum tidur.

Kisah menahan rasa mulas dalam perjalanan kadang terasa kurang menegangkan, dan bukankah akan membosankan jika yang diceritakan kisah tentang itu terus? Imajinasi dan kreasi bermain. Ditambahkannya unsur-unsur yang dianggap menarik di sana-sini. Dirangkainya cerita-cerita imajinatif yang menegangkan. Dibuatnya seakan-akan baru kecil itu memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari ukurannya. Jauh lebih dalam dari warna kelamnya.

Hari, minggu, bulan, tahun, cerita-cerita imajinatif itupun melekat kuat di dalam kepala anak-anaknya. Mereka percaya bahwa batu kecil itu merupakan hal penting dalam kehidupan orangtuanya. Tak jarang mereka mengemis agar diperlihatkan batu itu sebelum tidur, setelah mereka mendengar cerita-cerita imajinatif tentang perjalanan bersama batu kecil.

Sang pemilik selalu menyimpan batu itu di dalam saku celananya, termasuk ketika dia sedang tidur. Secara berkala, batu itu dicucinya. Dimulai hanya dengan diusap menggunakan air, lalu mulai ditambahkan dengan bunga-bunga agar memberi keharuman, lalu ditambah dengan kekhusyukkan, serta dilanjutkan dengan hal-hal lain yang membuat kegiatan itu menjadi semacam upacara yang sakral.

Waktu mengubah manusia. Yang muda menjadi tua, bayi-bayi dalam kandungan menjadi anak kecil yang riang berlari. Sang pemilik batu meninggal dunia. Anak-anaknya tumbuh dewasa. Mereka menjaga baik-baik batu yang ditinggalkan orangtuanya. Cerita-cerita imajinatif begitu melekat di dalam kepala mereka, batu itu mereka simpan di dalam sebuah kotak kayu. Tidak di dalam saku, karena mereka merasa tak layak untuk menyimpan benda sespesial itu di dalam saku. Karenanya, mereka membuat sebuah kotak kayu yang indah. Di bagian luar, mereka membuat ukiran sederhana sebagai penghias. Di bagian dalam, mereka melapisinya dengan kain termahal yang mampu mereka beli.

Kotak kayu itu disimpan di dalam lemari. Mereka hanya membuka dan mengeluarkan isi kotak kayu di saat-saat khusus, seperti ketika mereka akan melakukan upacara pembersihan atau saat mereka akan pergi menuju tempat yang mereka anggap berbahaya. Cerita-cerita imajinatif pun kembali diulang. Dari kuping-kuping yang dulu mendengar, masuk ke dalam kepala, lalu dikeluarkan melalui mulut kepada anak-anak mereka. Walau jarak kuping-otak-mulut tak sampai satu meter, tapi itu merupakan rangkaian yang sangat rumit. Dan di perjalanan tiga organ itu, cerita-cerita imajinatif berkembang. Membuat kreasi baru. Memasukkan imajinasi baru. Menambahkan ketegangan baru. Membuat ketertarikan orang-orang baru. Menyebar. Tidak lagi hanya menjadi dongeng sebelum tidur. Tidak lagi menjadi kisah keluarga. Masyarakat mendengarnya. Mempercayainya. Bahkan, memujanya.

Terus dan terus. Semakin bertambah luas seiring waktu. Tersebar bersama angin dan detak setiap detik jarum jam. Kotak kayu bahkan sudah terlihat lebih usang dari isinya. Kain

  • -kain pelapis bagian dalam sudah beberapa kali diganti karena usang. Batu kecil berwarna kelam bukan lagi gabungan mineral yang dipadatkan oleh alam. Dia lebih dari itu. Dialah legenda. Batu sakti yang telah melakukan berbagai hal luar biasa, yang dikisahkan dari mulut ke mulut, secara turun-temurun, entah sampai kapan.

    Contribute to Simple Survey

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s