Maret-April 2012

Maret diakhiri dengan keresahan. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak memicu permasalahan. Berbagai tentangan timbul dari masyarakat. Mahasiswa, pekerja, bergabung dengan organisasi masyarakat melakukan demonstrasi. Di berbagai kota, jalan-jalan dipenuhi para demonstran, yang tak jarang diakhiri dengan kerusuhan.

Beberapa tokoh melakukan konferensi pers. Menyebut beberapa kecil demonstrasi yang berakhir ricuh pada menjelang akhir Maret sudah direncakan. Berbagai alasan dikemukakan. Salah satunya, reaksi cepat yang diberikan dinas kesehatan dalam mengirimkan ambulance ketika mulai jatuh korban. Aneh, bukankah itu bagus. Mereka melakukan reaksi yang cepat seperti yang sudah seharusnya. Lagipula, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, bukankah lebih baik menyediakan unit ambulance di setiap demonstrasi yang dilakukan. Bukannya berharap akan ada korban, tapi bukankah lebih banyak demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan dan menimbulkan korban? Kenapa reaksi cepat yang diberikan malah mengundang pandangan negatif? Seperti halnya, bukankah sudah selayaknya pertandingan sepakbola dijaga oleh pasukan huru-hara? Pengalaman mengajarkan demikian. Unit kepolisian biasa rasanya sudah cukup. Bukan berharap penonton yang ada di stadion akan melakukan kerusuhan, tapi bukankah pengalaman mengajarkan seperti itu? Entahlah, ada begitu banyak mulut dan kepentingan yang berbicara.

Harga minyak menjadi isu yang sensitif. Empat belas tahun lalu, kenaikan harga minyak juga menjadi salah satu pemicu demonstrasi besar-besaran. Aksi yang akhirnya mengakhiri sebuah era. Soeharto menyatakan pengunduran diri sebagai Presiden. Ada luapan emosi ketika pernyataan itu dikemukakan. Kegembiraan, kepuasan atas perjuangan yang telah dilakukan, dan sebagainya. Tapi, kali ini berbeda. Pemerintah ahirnya menunda rencana kenaikan bahan bakar minyak. Entah karena demonstrasi yang terjadi di berbagai kota yang membuat mereka berpikir untuk ‘mempertimbangkan suara rakyat’, atau karena ada alasan khusus yang tidak mungkin diketahui masyarakat umum. Tapi, apapun itu, satu hal yang pasti. Para anggota dewan tidak menunjukkan sikap yang layak sebagai perwakilan/orang kepercayaan rakyat. Tidak ada kedewasaan. Semua egois. Merasa menang sendiri. Memaksakan kehendaknya. Bahkan ketika seorang anggota bicara, akan ada anggota dewa lainnya yang mengintrupsi. Menyela di antara pernyataan. Bukankah sebaiknya biarkan orang selesai bicara agar jelas yang ingin diungkapkan baru setelah itu orang lain memberikan tanggapan. Jika semua orang ingin bicara di saat bersamaan, bukankah malah hanya membuat ruwet suasana. Ketegangan memang terjadi, tapi ruang sidang bukanlah adegan dalam sinetron yang setiap scene harus menyajikan ketegangan kepada penontonnya agar mereka selalu setia menyaksikan.

Tak bertahan lama. Isu lalu berganti. Seperti biasa yang terjadi di negara ini, sangat jarang ada kasus yang terselesaikan. Satu masalah akan segera ditutupi dengan masalah lain. Layaknya cerita sinetron yang selalu ada konflik baru dalam setiap episode, inilah negara yang sangat kreatif dalam menciptakan masalah, tapi entah dengan cara penyelesaiannya.

April mulai datang. Hujan turun dengan lebat, walaupun seharusnya sudah tiba saatnya musim kemarau. Cuaca memang aneh. Tidak hanya di Indonesia, seorang teman di Korea bilang dia sedang menikmati bermain salju di Bulan April.

Namun, tidak seperti salju di Korea yang bisa menghibur masyarakat, hujan yang turun, khususnya di Jakarta, merupakan permasalahan baru. Banjir melanda. Biasanya, banjir dialami di awal tahun, antara Januari-Februari. Dan tahun ini, lewat Bulan Februari, tidak ada banjir yang terjadi di Jakarta. Masyarakat pun lega. Tapi, ketika rasa waswas itu tak lagi dihiraukan, tibalah hujan yang membawa banjir. Jakarta seperti kota lemah yang tak mampu menghadapi banjir setinggi 1 meter. Televisi ramai memberitakan kemacetan yang terjadi di berbagai jalan utama Ibukota. Jam operasi kantor terpaksa dimundurkan karena para pekerja masih terjebak di kemacetan.

Ya, terlihat jelas yang sesungguhnya: Jakarta adalah kota yang rapuh. Tak perlu mega-tsunami seperti yang menghancurkan Aceh, atau gempa besar yang mengoyang Sumatera Barat dan Yogyakarta. Cukup hujan deras setidaknya 1 jam, dan kota terbesar di Indonesia ini pun akan seperti kota lumpuh, tapi tidak sunyi.

Kembali soal bahan bakar minyak. Penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak berlanjut pada aturan pembatasan penggunaan bahan bakar bersubsidi. Menurut rancangan, hanya mobil dengan mesin di bawah 1.300 cc saja yang boleh mengkonsumsi premium. Selebihnya, harus menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus. Shit, maaf kalau agak kasar, tapi ini sepertinya rancangan undang-undang yang bodoh. Bodoh karena seharusnya tidak perlu ada undang-undang seperti ini. Biarkan rakyat bebas memilih bahan bakar yang diinginkannya. Premium, Pertamax, atau Pertamax Plus. Masalah jika pengguna mobil-mobil mewah yang menggunakan Premium akan menjadi penambah beban subsidi yang seharusnya dialokasikan bagi masyarakat yang membutuhkan, itu abaikan saja. Setahu saya, walaupun ber-cc di bawah 1.300, mobil-mobil baru dalam lima tahun terakhir sepertinya tidak cocok dengan Premium.

Salah satu pengembangan teknologi otomotif yang dilakukan belakangan ini adalah penggunaan mesin kecil tapi tetap mendapatkan kemampuan yang maksimal. Salah satu dampaknya, kompresi mesin menjadi lebih tinggi. Tingginya kompresi selaras dengan penggunaan bahan bakar dengan kandungan oktan yang tinggi. Dan sepertinya, sangat sulit untuk mendapatkan mobil yang tingkat kompresi mesinnya sepadan dengan kandungan oktan dalam Premium. Setidaknya, mobil-mobil tersebut mengkonsumsi Pertamax.

Memang, bukan berarti Premium sama sekali tidak bisa digunakan untuk mobil-mobil seperti ini. Tetap bisa. Hanya saja, menggunakan bahan bakar dengan kandungan oktan yang lebih rendah dari yang dibutuhkan hanya akan merusak kendaraan dalam jangka panjang. Terasa hemat di awal, tapi ketika kerusakan terjadi, akan lebih mahal dari rasa hemat yang dirasa di awal.

Lagipula, bagaimanapun, harus diakui sebagian (jika tidak bisa dibilang sebagian besar) masyarakat Indonesia merupakan tipe orang yang terlalu memaksakan keadaan. Tidak bercermin pada kemampuan. Menginginkan berbagai hal yang sebenarnya belum layak untuk kemampuannya.

Sebuah kenyataan, seseorang yang memiliki pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan berani melakukan kredit mobil – dengan bantuan dari orangtua untuk membayar uang muka. Walau dengan fakta bahwa orang ini masih tinggal dengan orangtua dan belum berkeluarga, sepertinya agak sulit menerima kenyataan ini. Dengan standar hidup masyarakat Jakarta, terutama kaum mudanya, pendapatan per bulan tersebut sepertinya tidak akan mencukupi kehidupan sehari-hari plus harus membayar cicilan mobil.

Hal-hal seperti inilah, salah satunya, yang menyebabkan penggunaan Premium sangat tinggi. Mbok ya jangan ngoyo. Kalau memang belum mampu jangan dipaksakan. Kalau mampunya ngebiayain perawatan Avanza/Xenia, mbok ya jangan maksa beli Alphard.

Yang sering dilupakan adalah membeli mobil bukan sekadar membayar uang muka, membayar cicilan per bulan, dan membayar pajak tahunan (atau mungkin juga membayar gaji bulanan sopir). Masih ada hal lain yang harus diperhitungkan, bahan bakar yang digunakan dan biaya perawatan misalnya. Sesuatu yang sangat konyol melihat Alphard yang diisi Premium.

Walau sebenarnya, sifat seperti itu seharusnya tidak terlalu asing lagi. Melihat sejarah, harus diakui bahwa memaksakan keadaan memang sudah menjadi sifat masyarakat negeri ini sejak lama.

Dalam pelajaran Sejarah di sekolah dulu, guru mengatakan kemerdekaan negeri ini merupakan hasil jerih payah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Doktrin yang mungkin masih terus ditanamkan kepada pelajar saat ini.

Tanpa mengurangi penghargaan terhadap perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para pejuang di masa lalu, sepertinya dengan lapang dada harus disadari Proklamasi pada 17 Agustus 1945 merupakan perwujudan sikap masyarakat bangsa ini yang memaksakan keadaan, juga memanfaatkan situasi (oportunis). Ketika tidak ada kekuasaan yang berkuasa di negeri ini. Jepang telah menyatakan kekalahannya dari pihak Amerika dan sekutunya. Pemerintah Inggris yang diberi mandat untuk mengurus wilayah-wilayah bekas jajahan Jepang belum tiba di tanah air. Di saat itulah, pernyataan kemerdekaan dibuat, tanpa persiapan yang matang. Masa-masa awal kemerdekaan merupakan masa yang sangat melelahkan. Konflik terjadi di sana-sini. Satu pihak merasa lebih layak untuk menjadi pemimpin dibanding pihak yang sedang berkuasa. Itulah yang terjadi jika sekelompok orang yang ambisius mendirikan sebuah negara tapi tanpa pengalaman dan tanpa pembimbing. Sok tahu. Sotoy. Kurang perhitungan. Bahkan ketika berpuluh tahun menjadi negara, sikap itu pun masih tetap melekat. Lupa bahwa segala sesuatu harus melalui yang namanya proses. Tahap demi tahap harus dilalui. Tidak bisa instan, karena sesuatu yang instan akan berakhir secara instan pula. Tapi, ya, begitulah. Mental orang-orang yang menu favorit sehari-harinya adalah mie instan.

Bulan April masih berlangsung. Hujan masih turun dengan deras. Banjir masih menjadi masalah. Kemacetan masih menempati urutan teratas dalam daftar menu harian masyarakat Ibukota. Transportasi umum masih jauh dari tepat waktu dan bisa diandalkan, juga berbahaya dan penuh ancaman. Pemimpin yang mencari citra tetap berkeliling di masyarakat, menunjukkan sikap sok peduli dan memahami permasalahan yang sebenarnya. Kisah April kali ini masih agak mirip dengan kisah April sebelumnya. Atau, apakah bahkan juga akan mirip dengan kisah April yang akan datang?

Maret diakhiri dengan keresahan. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak memicu permasalahan. Berbagai tentangan timbul dari masyarakat. Mahasiswa, pekerja, bergabung dengan organisasi masyarakat melakukan demonstrasi. Di berbagai kota, jalan-jalan dipenuhi para demonstran, yang tak jarang diakhiri dengan kerusuhan.

Beberapa tokoh melakukan konferensi pers. Menyebut beberapa kecil demonstrasi yang berakhir ricuh pada menjelang akhir Maret sudah direncakan. Berbagai alasan dikemukakan. Salah satunya, reaksi cepat yang diberikan dinas kesehatan dalam mengirimkan ambulance ketika mulai jatuh korban. Aneh, bukankah itu bagus. Mereka melakukan reaksi yang cepat seperti yang sudah seharusnya. Lagipula, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, bukankah lebih baik menyediakan unit ambulance di setiap demonstrasi yang dilakukan. Bukannya berharap akan ada korban, tapi bukankah lebih banyak demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan dan menimbulkan korban? Kenapa reaksi cepat yang diberikan malah mengundang pandangan negatif? Seperti halnya, bukankah sudah selayaknya pertandingan sepakbola dijaga oleh pasukan huru-hara? Pengalaman mengajarkan demikian. Unit kepolisian biasa rasanya sudah cukup. Bukan berharap penonton yang ada di stadion akan melakukan kerusuhan, tapi bukankah pengalaman mengajarkan seperti itu? Entahlah, ada begitu banyak mulut dan kepentingan yang berbicara.

Harga minyak menjadi isu yang sensitif. Empat belas tahun lalu, kenaikan harga minyak juga menjadi salah satu pemicu demonstrasi besar-besaran. Aksi yang akhirnya mengakhiri sebuah era. Soeharto menyatakan pengunduran diri sebagai Presiden. Ada luapan emosi ketika pernyataan itu dikemukakan. Kegembiraan, kepuasan atas perjuangan yang telah dilakukan, dan sebagainya. Tapi, kali ini berbeda. Pemerintah ahirnya menunda rencana kenaikan bahan bakar minyak. Entah karena demonstrasi yang terjadi di berbagai kota yang membuat mereka berpikir untuk ‘mempertimbangkan suara rakyat’, atau karena ada alasan khusus yang tidak mungkin diketahui masyarakat umum. Tapi, apapun itu, satu hal yang pasti. Para anggota dewan tidak menunjukkan sikap yang layak sebagai perwakilan/orang kepercayaan rakyat. Tidak ada kedewasaan. Semua egois. Merasa menang sendiri. Memaksakan kehendaknya. Bahkan ketika seorang anggota bicara, akan ada anggota dewa lainnya yang mengintrupsi. Menyela di antara pernyataan. Bukankah sebaiknya biarkan orang selesai bicara agar jelas yang ingin diungkapkan baru setelah itu orang lain memberikan tanggapan. Jika semua orang ingin bicara di saat bersamaan, bukankah malah hanya membuat ruwet suasana. Ketegangan memang terjadi, tapi ruang sidang bukanlah adegan dalam sinetron yang setiap scene harus menyajikan ketegangan kepada penontonnya agar mereka selalu setia menyaksikan.

Tak bertahan lama. Isu lalu berganti. Seperti biasa yang terjadi di negara ini, sangat jarang ada kasus yang terselesaikan. Satu masalah akan segera ditutupi dengan masalah lain. Layaknya cerita sinetron yang selalu ada konflik baru dalam setiap episode, inilah negara yang sangat kreatif dalam menciptakan masalah, tapi entah dengan cara penyelesaiannya.

April mulai datang. Hujan turun dengan lebat, walaupun seharusnya sudah tiba saatnya musim kemarau. Cuaca memang aneh. Tidak hanya di Indonesia, seorang teman di Korea bilang dia sedang menikmati bermain salju di Bulan April.

Namun, tidak seperti salju di Korea yang bisa menghibur masyarakat, hujan yang turun, khususnya di Jakarta, merupakan permasalahan baru. Banjir melanda. Biasanya, banjir dialami di awal tahun, antara Januari-Februari. Dan tahun ini, lewat Bulan Februari, tidak ada banjir yang terjadi di Jakarta. Masyarakat pun lega. Tapi, ketika rasa waswas itu tak lagi dihiraukan, tibalah hujan yang membawa banjir. Jakarta seperti kota lemah yang tak mampu menghadapi banjir setinggi 1 meter. Televisi ramai memberitakan kemacetan yang terjadi di berbagai jalan utama Ibukota. Jam operasi kantor terpaksa dimundurkan karena para pekerja masih terjebak di kemacetan.

Ya, terlihat jelas yang sesungguhnya: Jakarta adalah kota yang rapuh. Tak perlu mega-tsunami seperti yang menghancurkan Aceh, atau gempa besar yang mengoyang Sumatera Barat dan Yogyakarta. Cukup hujan deras setidaknya 1 jam, dan kota terbesar di Indonesia ini pun akan seperti kota lumpuh, tapi tidak sunyi.

Kembali soal bahan bakar minyak. Penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak berlanjut pada aturan pembatasan penggunaan bahan bakar bersubsidi. Menurut rancangan, hanya mobil dengan mesin di bawah 1.300 cc saja yang boleh mengkonsumsi premium. Selebihnya, harus menggunakan Pertamax atau Pertamax Plus. Shit, maaf kalau agak kasar, tapi ini sepertinya rancangan undang-undang yang bodoh. Bodoh karena seharusnya tidak perlu ada undang-undang seperti ini. Biarkan rakyat bebas memilih bahan bakar yang diinginkannya. Premium, Pertamax, atau Pertamax Plus. Masalah jika pengguna mobil-mobil mewah yang menggunakan Premium akan menjadi penambah beban subsidi yang seharusnya dialokasikan bagi masyarakat yang membutuhkan, itu abaikan saja. Setahu saya, walaupun ber-cc di bawah 1.300, mobil-mobil baru dalam lima tahun terakhir sepertinya tidak cocok dengan Premium.

Salah satu pengembangan teknologi otomotif yang dilakukan belakangan ini adalah penggunaan mesin kecil tapi tetap mendapatkan kemampuan yang maksimal. Salah satu dampaknya, kompresi mesin menjadi lebih tinggi. Tingginya kompresi selaras dengan penggunaan bahan bakar dengan kandungan oktan yang tinggi. Dan sepertinya, sangat sulit untuk mendapatkan mobil yang tingkat kompresi mesinnya sepadan dengan kandungan oktan dalam Premium. Setidaknya, mobil-mobil tersebut mengkonsumsi Pertamax.

Memang, bukan berarti Premium sama sekali tidak bisa digunakan untuk mobil-mobil seperti ini. Tetap bisa. Hanya saja, menggunakan bahan bakar dengan kandungan oktan yang lebih rendah dari yang dibutuhkan hanya akan merusak kendaraan dalam jangka panjang. Terasa hemat di awal, tapi ketika kerusakan terjadi, akan lebih mahal dari rasa hemat yang dirasa di awal.

Lagipula, bagaimanapun, harus diakui sebagian (jika tidak bisa dibilang sebagian besar) masyarakat Indonesia merupakan tipe orang yang terlalu memaksakan keadaan. Tidak bercermin pada kemampuan. Menginginkan berbagai hal yang sebenarnya belum layak untuk kemampuannya.

Sebuah kenyataan, seseorang yang memiliki pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan berani melakukan kredit mobil – dengan bantuan dari orangtua untuk membayar uang muka. Walau dengan fakta bahwa orang ini masih tinggal dengan orangtua dan belum berkeluarga, sepertinya agak sulit menerima kenyataan ini. Dengan standar hidup masyarakat Jakarta, terutama kaum mudanya, pendapatan per bulan tersebut sepertinya tidak akan mencukupi kehidupan sehari-hari plus harus membayar cicilan mobil.

Hal-hal seperti inilah, salah satunya, yang menyebabkan penggunaan Premium sangat tinggi. Mbok ya jangan ngoyo. Kalau memang belum mampu jangan dipaksakan. Kalau mampunya ngebiayain perawatan Avanza/Xenia, mbok ya jangan maksa beli Alphard.

Yang sering dilupakan adalah membeli mobil bukan sekadar membayar uang muka, membayar cicilan per bulan, dan membayar pajak tahunan (atau mungkin juga membayar gaji bulanan sopir). Masih ada hal lain yang harus diperhitungkan, bahan bakar yang digunakan dan biaya perawatan misalnya. Sesuatu yang sangat konyol melihat Alphard yang diisi Premium.

Walau sebenarnya, sifat seperti itu seharusnya tidak terlalu asing lagi. Melihat sejarah, harus diakui bahwa memaksakan keadaan memang sudah menjadi sifat masyarakat negeri ini sejak lama.

Dalam pelajaran Sejarah di sekolah dulu, guru mengatakan kemerdekaan negeri ini merupakan hasil jerih payah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan. Doktrin yang mungkin masih terus ditanamkan kepada pelajar saat ini.

Tanpa mengurangi penghargaan terhadap perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para pejuang di masa lalu, sepertinya dengan lapang dada harus disadari Proklamasi pada 17 Agustus 1945 merupakan perwujudan sikap masyarakat bangsa ini yang memaksakan keadaan, juga memanfaatkan situasi (oportunis). Ketika tidak ada kekuasaan yang berkuasa di negeri ini. Jepang telah menyatakan kekalahannya dari pihak Amerika dan sekutunya. Pemerintah Inggris yang diberi mandat untuk mengurus wilayah-wilayah bekas jajahan Jepang belum tiba di tanah air. Di saat itulah, pernyataan kemerdekaan dibuat, tanpa persiapan yang matang. Masa-masa awal kemerdekaan merupakan masa yang sangat melelahkan. Konflik terjadi di sana-sini. Satu pihak merasa lebih layak untuk menjadi pemimpin dibanding pihak yang sedang berkuasa. Itulah yang terjadi jika sekelompok orang yang ambisius mendirikan sebuah negara tapi tanpa pengalaman dan tanpa pembimbing. Sok tahu. Sotoy. Kurang perhitungan. Bahkan ketika berpuluh tahun menjadi negara, sikap itu pun masih tetap melekat. Lupa bahwa segala sesuatu harus melalui yang namanya proses. Tahap demi tahap harus dilalui. Tidak bisa instan, karena sesuatu yang instan akan berakhir secara instan pula. Tapi, ya, begitulah. Mental orang-orang yang menu favorit sehari-harinya adalah mie instan.

Bulan April masih berlangsung. Hujan masih turun dengan deras. Banjir masih menjadi masalah. Kemacetan masih menempati urutan teratas dalam daftar menu harian masyarakat Ibukota. Transportasi umum masih jauh dari tepat waktu dan bisa diandalkan, juga berbahaya dan penuh ancaman. Pemimpin yang mencari citra tetap berkeliling di masyarakat, menunjukkan sikap sok peduli dan memahami permasalahan yang sebenarnya. Kisah April kali ini masih agak mirip dengan kisah April sebelumnya. Atau, apakah bahkan juga akan mirip dengan kisah April yang akan datang?

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s