Haruskah Berkaca pada Diri Sendiri?

Kita sering mendengar ungkapan “Berkaca pada diri sendiri”. Ungkapan ini mengingatkan kita untuk melihat diri sendiri sebelum menilai atau menghakimi orang lain. Sudah layakkah kita menganggap orang lain tidak baik atau justru kita lebih buruk dari orang lain.

Tulisan-tulisan yang bersifat memotivasi sering menggunakan ungkapan seperti ini. Ungkapan agar orang yang membacanya dapat melakukan introspeksi. Introspeksi, ya, sepertinya itu makna kiasan utama dari “berkaca”. Tapi, haruskah kita berkaca agar bisa menilai diri sendiri?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kaca” memiliki arti “benda yang keras, biasanya bening dan mudah pecah (untuk jendela, botol, dsb).” Dari pengertian tersebut, salah satu sifat yang dimiliki kaca adalah bening, transparan. Karenanya, coba bayangkan Anda berada di depan kaca lalu menatap ke arahnya (berkaca). Apa yang akan Anda lihat?

Bayangan Anda memang akan terlihat di kaca tersebut, tapi hanya samar. Objek yang lebih jelas terlihat adalah benda (-benda) yang ada di seberang kaca. Kalau begitu, kekuatan “berkaca pada diri sendiri” menjadi sangat lemah. Karena, bayangan diri yang dipantulkan oleh kaca hanya samar. Begitu halnya, ketika kita berintrospeksi dengan berkaca pada diri sendiri, maka hanya samar diri sendiri yang terlihat.

Kaca sebenarnya memiliki berbagai jenis, salah satunya adalah cermin. Dalam kamus yang sama, “cermin” memiliki makna “kaca bening yang salah satu mukanya dicat dengan air raksa dsb sehingga dapat memperlihatkan bayangan benda yang ditaruh di depannya.” Dari pengertian tersebut, cermin lebih dapat memantulkan bayangan benda yang ada di depannya – karena salah satu sisinya telah dicat – dibanding kaca. Karenanya, mungkin ungkapan yang lebih tepat untuk mengajak orang berintrospeksi adalah “Bercermin pada diri sendiri”.

Sebenarnya, kedua kalimat tersebut sudah banyak digunakan. Hanya saja, “berkaca” jauh lebih sering digunakan dibanding “bercermin”. Coba saja cari di Google kalimat “bercermin pada diri sendiri” lalu “berkaca pada diri sendiri”. Saya sudah melakukannya. Hasilnya, kalimat pertama hanya menghasilkan sekitar 600 ribu, sedang kalimat kedua menghasilkan sekitar 1,4 juta. Hmmm… pantas saja banyak yang gagal berintrospeksi diri.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s