Mungkinkah Ubah Berubah Jadi Rubah?

bukan rubah yang ini

“Ya rubah, dong,” suatu saat seorang temen menasihati saya.
“Ubah. Kalo rubah itu binatang,” balas saya.
Mendengarnya, teman saya jadi agak bete. “Tapi ngerti, kan, maksud gw?” begitu balasnya lagi.

Memang, saya termasuk orang yang agak usil. Suka sok benar, terutama jika ada orang yang menyebut kata satu itu. Karena, pada kenyataannya, kata yang benar adalah “ubah” dan bukan “rubah”. Tapi, yang juga kenyataan, kata “rubah” yang lebih sering digunakan oleh masyarakat. Malah, kadang ada yang malah merasa asing dengan kata “ubah”.

Dapat dipahami, ini disebabkan karena bentukan dari kata itu, “berubah”. Karenanya, ada yang kemudian menggunakan bentuk “merubah” untuk hasil perpaduan dengan awalan “me-“ – padahal seharusnya “mengubah”. Tapi, ya, itulah kenyataan yang terjadi. Masyarakat akan menggunakan bahasa yang sudah biasa mereka pakai – atau biasa mereka dengar.

Aturan baku memang ada. Di Indonesia, ada Pusat Bahasa sebagai lembaga yang mengurusi persoalan bahasa Indonesia. Untuk mencari kata-kata yang baku, ada kamus. Tapi sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia sangat malas membuka kamus untuk mencari kata yang baku. Mereka akan lebih berpegangan pada bahasa yang sehari-hari mereka dengar dan gunakan. Jadilah, banyak yang memakai “rubah” alih-alih untuk menyebut “ubah”. Lalu, apa itu salah?

Saat kuliah dulu, dosen mengajarkan salah satu fungsi bahasa adalah untuk berkomunikasi. Dan, bahasa untuk berkomunikasi itu dibuat berdasar kesepakatan bersama. Artinya, jika masyarakat mengakui suatu bentuk, maka dia sah untuk digunakan. Dalam hal ini, “rubah” yang lebih sering dipakai daripada “ubah” sepertinya lebih diakui oleh masyarakat. Kalau begitu, bagaimana dengan kata baku yang ada di kamus? Apakah kamus kemudian akan menjadi daftar usang hasil obsesi sekelompok orang yang mengaku pemerhati dan ahli bahasa?

Yang saya tahu, kamus dibuat berdasarkan kata-kata yang digunakan di masyarakat – dalam hal ini, sumber utama yang digunakan adalah media cetak dan buku. Karenanya, akan sangat mungkin di masa nanti “rubah” akan mengalami penambahan makna di dalam kamus. Dia bukan saja merujuk pada salah satu jenis jenis binatang, tapi juga memiliki makna seperti kata “ubah”.

Lagipula, kalau memang terjadi, itu bukanlah kali pertama. Sebelumnya, pernah terjadi hal serupa.

Apa kata dasar “memohon”? saya yakin, sebagian besar masyarakat akan menjawab “mohon”. Tidak dapat disalahkan, karena kalau merujuk kamus, jawaban itu pula yang tertera. Tapi, kalau berdasarkan sejarah, “memohon” berasal dari kata “pohon”.

Pada suatu masa, ketika agama belum dikenal di Nusantara, masyarakat menyakralkan pohon-pohon besar – selain benda-benda lain yang dianggap memiliki kekuatan. Masyarakat datang ke pohon-pohon besar itu untuk berdoa, memohon. Lalu, ketika agama mulai masuk, kata “memohon” masih tetap digunakan. Hanya saja, tidak lagi dilakukan kepada pohon yang dianggap sakral – melainkan kepada Tuhan yang maha esa.

Seiring perjalanan waktu, masyarakat pun lupa bahwa “memohon” berdasar pada kebiasaan masyarakat Nusantara yang datang ke pohon-pohon yang dianggap sakral untuk berdoa. Masyarakat pun menganggap “mohon” sebagai kata dasar “memohon”. Padahal, “memohon” terjadi karena proses peluluhan. Kata dasar berawalan “p” akan luluh ketika bergabung dengan “me-”. Pusat Bahasa pun mengakui “mohon” sebagai kata dasar “memohon” dan memasukkannya ke kamus. Lalu?

Ya, yang harus berubah adalah orang-orang seperti saya. Yang selalu merasa benar. Kaku pada peraturan. Bukankah bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang perkembangannya ditentukan oleh masyarakat dan masyarakat berkembang menurut kehendak mereka?

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s