Pirlo’s Kick: Humiliated

Italia menghadapi Inggris di perempat final, Senin dini hari WIB, 25 Juni 2012, menjadi pertandingan pertama di Piala Eropa kali ini yang harus diakhiri dengan adu penalti. Tiga pertandingan perempat final lainnya hanya cukup dengan waktu normal 90 menit.

Beberapa hari sebelum pertandingan, banyak media yang mengabarkan tim nasional Inggris memasukkan latihan penalti dalam jadwal persiapan mereka. Bahkan, Joe Hart, kiper utama, menyatakan siap untuk menjadi salah satu penendang jika memang pertandingan melawan Italia harus diakhiri dengan adu penalti. Persiapan serta pernyataan Joe Hart menandakan kesiapan tim nasional Inggris. Sementara, dari pihak tim nasional Italia, tidak terdengar kabar mereka memasukkan latihan penalti dalam persiapan menghadapi tim nasional Inggris.

Dan, sepertinya pertandingan berjalan sesuai dengan keinginan tim nasional Inggris. Sepanjang pertandingan, mereka lebih memilih untuk bertahan dengan mengandalkan serangan balik. Waktu 90 menit pun berakhir dengan kedudukan 0-0. Dalam perpanjangan waktu, tidak juga skor berubah sehingga harus dilakukan adu penalti. Tim nasional Inggris dalam kepercayaan diri yang tinggi.

Kepercayaan diri tim nasional Inggris, terutama Joe Hart, semakin tinggi setelah penendang penalti kedua dari tim nasional Italia, Ricardo Montolivo, gagal melakukan tugasnya dengan baik. Tendangannya melebar ke sisi gawang. Sementara, Wayne Rooney sebagai penendang penalti berikutnya, berhasil menaklukkan Gianluigi Buffon.

Inggris berada di depan. Tapi, tidak untuk waktu yang lama. Pada penendang berikutnya, keadaan berubah drastis. Andrea Pirlo – sang pengatur serangan tim nasional Italian – yang menjadi penendang ketiga. Inilah titik balik, yang mengubah keadaan 180 derajat. Pirlo tidak menendang bola dengan keras. Dia hanya mengarahkan bola pelan. Agak mencongkel dan diarahkan ke bagian tengah gawang. Tapi, karena datangnya bola pelan dan melambung, kiper yang sudah melompat tidak bisa mengantisipasinya. Gol. Gol yang menyakitkan.

Sotoy memang, tapi ampuh menghancurkan mental lawan

Kejadian yang hampir serupa terjadi beberapa waktu lalu. Di final Liga Champions Eropa, Chelsea menghadapi Bayern Munich. Pemenang pertandingan harus ditentukan dengan adu penalti. Bayern Munich, terutama Manuel Nueur, berada dalam kepercayaan diri yang tinggi. Di pertandingan sebelumnya, saat semi final, mereka mengalahkan Real Madrid dalam adu penalti. Bahkan, Neuer menggagalkan dua penendang utama Real Madrid, Kaka dan Ronaldo. Kepercayaan diri Neuer semakin membuncah ketika dia berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai penendang penalti. Tapi, hanya dalam beberapa saat kemudian, keadaan berubah.

Frank Lampard menjadi penendang ketiga dari Chelsea. Tidak seperti para penendang sebelumnya, Lampard mengarahkan bola tepat ke tengah. Hanya saja, bola yang ditendangnya sangat keras. Begitu keras. Tendangan keras ke arah tengah gawang ini bukan hanya berarti Chelsea terus menempel skor, tapi lebih dari itu. Dia mampu meruntuhkan kepercayaan diri tim lawan, terutama penjaga gawang. Itupula yang terjadi dengan tendangan penalti Andrea Pirlo. Tidak hanya membuat tim nasional Italia menyamakan kedudukan – walaupun mereka telah lebih banyak menendang penalti – tapi juga meruntuhkan kepercayaan diri lawan, terutama Joe Hart. Hanya saja, yang Pirlo melakukannya dengan cara yang ‘amat menyakitkan’ bagi tim nasional Inggris.

Runtuhnya kepercayaan diri Joe Hart sangat terlihat. Menghadapi Balotelli, Montolivo, dan Pirlo, Hart memberikan ekspresi mengejek. Senyum meremehkan terpasang di wajahnya. Tapi, ketika menghadapi penendang keempat, Noccerino, ekspresi itu berubah. Wajahnya berubah menjadi tegang. Penuh amarah. Amarah karena baru saja dia dipermalukan dengan cara yang amat merendahkan bagi seorang penjaga gawang.

Saya ingat, beberapa tahun lalu, saat masih membela AC Milan, Pirlo pernah melakukan tendangan penalti serupa ketika berlaga di Serie A. Bukan dalam adu penalti, tapi dalam tendangan penalti karena terjadinya pelanggaran. Saya ingat, saat itu AC Milan melawan Bologna, dan yang menjadi penjawa gawang Bologna adalah Ginluca Pagliuca – mantan kiper tim nasional Italia. Seperti yang dilakukannya ke gawang Joe Hart, Pirlo mengangkat bola, tidak kencang. Arahnya pun mirip, ke bagian tengah gawang. Penjaga gawang terkecoh. Gol.

Setelah menendang, sontak para pemain Bologna mengerubungi Pirlo. Mereka marah, karena tendangan Pirlo dianggap sebagai hinaan. Apalagi, penjaga gawang yang dihadapinya adalah salah seorang penjaga gawang senior di Italia. Bahkan, para pemain Bologna sempat memaksa Pirlo meminta maaf kepada Pagliuca. Dan kalau tidak salah, Pirlo sempat mengangkat tangan tanda meminta maaf ke arah Pagliuca. Dalam pengkastaan, tendangan keras seperti yang dilakukan Lampard lebih manusiawi daripada tendangan Pirlo. Bukan hanya mengecoh, tendangan mencongkel seperti yang dilakukan Pirlo juga sangat merendahkan penjaga gawang.

Persiapan dan kepercayaan diri memang sangat penting ketika menghadapi adu penalti. Itu yang terjadi pada tim nasional Inggris, juga Bayern Munich. Tapi, jangan berlebih. Karena, ketika seseorang terlalu percaya diri, akan sangat mudah untuk menjatuhkan mentalnya. Dan, itu yang dilakukan Andrea Pirlo, dengan cara yang sangat ‘tidak manusiawi’.

NB: Pagi hari, sekitar jam 8, TVOne masih menayangkan berita persiapan menjelang laga Italia vs Inggris. Ampun…. Telat banget, bang One. Katanya “terdepan mengabarkan”, kok lebih mirip kayak “pacar ketinggalan kereta” atau “koran pagi yang terbit sore hari”. Whahahaha….

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s