Elegi Redknapp

Musim 2011-2012 berakhir. Inter Milan memiliki tiga pelatih dalam satu musim. Di Spanyol, tugas Jose Mourinho akan ‘sedikit ringan’ karena Pep Guardiola tidak mau memperpanjang kontraknya. Dan yang paling panas, terjadi di Inggris. Chelsea harus membuang uang sia-sia. Membayar transfer yang cukup mahal untuk ukuran pelatih. Pelatih muda yang digadang-gadang memiliki kemampuan seperti Mourinho ternyata gagal memberikan performa terbaik dan harus terdepak di tengah jalan. Sebagai pengganti, orang Italia yang pernah manjadi pemain di Chelsea – Roberto di Matteo. Dalglish, sang legenda yang dipanggil kembali, juga dinilai gagal. Menjadi juara Piala Carling dan menjadi finalis Piala FA ternyata tidak cukup untuk menutupi hasil buruk di liga. Berada di posisi 8 dengan meraih poin terendah sepanjang sejarah klub. Brendan Rodgers terpilih menjadi pengganti. Tapi, jika semua kisah itu terasa menyedihkan, masih belum seberapa dibanding nasib yang dialami pelatih satu ini: Harry Redknapp.

Sampai pergantian tahun, sebenarnya tidak ada yang salah dengan kisah pelatih yang satu ini. Tottenham berada di jalur yang benar. Menjadi salah satu pesaing yang memperebutkan tiket Liga Champions Eropa. Tapi, seperti tag sebuah iklan, life is never flat.

Kisah berawal pada 9 Februari 2012. Setelah FA secara sepihak mencopot jabatan John Terry sebagai kapten tim nasional Inggris, Fabio Capello pun memutuskan untuk mengundurkan diri. Dia merasa FA tidak menghargai posisinya sebagai pelatih dalam pengambilan keputusan tersebut. Lalu, muncullah nama Harry Redknapp sebagai calon kuat pelatih tim nasional Inggris berikutnya. Dan, ini merupakan titik balik ‘kedataran’ hidup Redknapp.

Ditambah dengan gugatan penggelapan pajak, pikiran Redknapp semakin terbelah. Sementara dia masih menangani Spurs, tapi gembar-gembor sebagai pelatih tim nasional Inggris menempati ruang tersendiri di dalam kepalanya. Akibatnya, Spurs pun sempat keluar dari zona Liga Champions. Tapi, tidak lama. Karena, performa Spurs lambat laun membaik. Lalu kemudian, di awal Mei, berita buruk itu pun muncul. FA memutuskan Roy Hodgson sebagai pelatih baru tim nasional Inggris. “SH*T”, “F*CK”, “D*MN”, atau four letters words lainnya pasti keluar dari mulut Redknapp. Isu yang selama ini santer dibicarakan ternyata sekadar kicauan burung gereja semata. Roy Hodgson, pelatih yang di musim sebelumnya dipecat dari Liverpool karena dinilai gagal dan prestasi bersama WBA juga tidak bagus-bagus amat, dipilih menjadi pelatih tim nasional Inggris.

Sayangnya, itu bukan akhir dari kisah sedihnya. Bahkan, itu hanya awal dari rentetan kesedihan yang akan dialaminya.

Tak mau lama larut dalam kegagalan menjadi pelatih tim nasional Inggris, Redknapp semakin menggenjot penampilan Spurs. Akhirnya, di minggu terakhir Barclays Premier League, Spurs berhasil menempati posisi 4 – zona Liga Champions. Hanya saja, mereka belum tentu mendapatkan tiket tersebut. Pasalnya, Chelsea masuk final Liga Champions. Jika Chelsea menjadi juara, Spurs harus merelakan tiket mereka kepada London Biru. Dan, itulah yang terjadi. Seminggu menanti, akhirnya Spurs dipastikan tidak akan mengikuti Liga Champions Eropa di musim depan.

Belum selesai sampai di situ. Ketika perhatian semua penggemar sepakbola tertuju pada Ukraina dan Polandia, tiba-tiba kabar itu tersiar. Redknapp dipecat dari jabatannya di Spurs. Gagal meraih tiket Liga Champions Eropa dinilai sebagai salah satu penyebab utama pemecatannya. Tidak sepenuhnya gagal, memang, karena Spurs menempati posisi 4 dan berhak mendapatkan tiket Liga Champions Eropa. Dan bukan salah Chelsea pula yang menjadi juara Liga Champions Eropa dan mengambil jatah tiket milik Spurs. Spurs hanya berada di waktu yang salah. Kalau saja situasi ini terjadi sebelum tahun 2005, dapat dipastikan Spurs tetap akan mengikuti Liga Champions Eropa musim depan. Sayangnya, Inggris pernah mengalami kejadian serupa – yang membuat mereka mengirimkan 5 tim di kompetisi tersebut. Jadi, kalau ada yang mau disalahkan, salahkan Liverpool karena lebih dulu berada di posisi seperti ini. Atau, Benitez yang membawa Liverpool juara Liga Champions di musim pertamanya. Atau, Dudek yang tiba-tiba jadi jago di babak kedua partai final. Atau, Redknapp karena sempat tidak fokus pada Spurs karena isu menjadi pelatih tim nasional Inggris.

Namun, di luar semua itu, anthem Liverpool memang benar: “You’ll never walk alone”. Bukan hanya Dalglish yang dipecat di akhir musim ini. Mau main catur bersama sambil menunggu lowongan?

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s