Tiga Singa dan Ayam Jantan

Lewat tengah malam. Tiga ekor singa berbaring lesu di balik jeruji besi kandang mereka. Angin bertiup sepoi dari sela-sela dahan. Bergerak membawa hawa dingin ke tubuh raja hutan yang mulai renta. Mereka terlihat lelah benar. Potongan-potongan daging yang disediakan tak juga mereka sentuh. Bukan karena mereka tidak lapar. Dalam cuaca seperti ini, perut yang terisi sangat membatu untuk melewati malam yang dingin. Hanya saja, mereka sudah sangat kepayahan. Tenaga mereka sudah terkuras. Jangankan untuk berjalan menuju tempat potongan daging, mengangkat tubuh untuk berdiri pun mereka tak mampu.

Hidup sebagai singa kebun binatang tidak senyaman yang mereka harapkan, terutama di usia senja. Setiap hari, ada beberapa pertunjukkan yang harus dilakoni. Satu per satu dari mereka masuk ke dalam panggung. Di sana, pengunjung sudah memenuhi bangku penonton. Mereka bertepuk, berteriak. Dan sudah menjadi tugas ketiga singa ini untuk menyuguhkan atraksi.

Mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti yang sedang dilakukan. Mereka hanya melakukan hal-hal yang sering diajarkan oleh para pawang pelatih mereka. Yang mereka tahu, dengan mengikuti semua yang diajarkan, mereka akan mendapatkan potongan-potongan daging segar. Hanya itu. Tapi, waktu perlahan mengubah segalanya. Tenaga mereka tidak sekuat ketika mereka masih muda dulu. Mereka sudah renta. Mungkin sudah saatnya untuk pensiun. Tapi, apakah bintang kebun binatang bisa mengajukan pensiun?

Pertunjukan demi pertunjukkan. Bahkan, ketika akhir pekan, ketika pengunjung yang datang ke kebun binatang sangat ramai, jadwal pertunjukan menjadi lebih banyak. Lebih banyak kegiatan yang harus dilakukan. Lebih banyak aksi yang harus dipertunjukkan. Lebih banyak tenaga yang harus dikeluarkan. Seperti yang mereka lakukan hari ini. Enam pertunjukkan harus mereka lakukan hari tadi. Yang pertama dimulai pada jam 10 pagi, sementara yang terakhir dimulai pada jam 9 malam.

Beberapa ekor lalat terbang di atas kepala mereka. Ketiga singa hanya mampu menggerakkan kepala mereka untuk coba mengusir lalat-lalat itu. Itu pun hanya kadang dilakukan. Lebih sering mereka membiarkan lalat-lalat itu terbang dan mendengung di atas kepala mereka. Berusaha mengusir mereka hanya akan menghabiskan tenaga yang tak lagi tersisa.

Ketiga singa kadang saling melirik. Melihat kondisi yang lain. Dalam kepala, mereka berharap ada di antara mereka yang masih memiliki cukup tenaga untuk berjalan ke arah tempat potongan daging. Memakan beberapa potong lalu membawakan potongan-potongan kepada dua singa lainnya. Tapi itu hanya khayalan mereka. Khayalan yang semakin menguras tenaga mereka.

Angin yang berhembus semakin dingin. Tidur secepatnya adalah pilihan yang terbaik bagi ketiga singa renta. Tapi, perut yang kelaparan dan suara dengungan lalat-lalat yang terbang di atas kepala menahan mereka untuk bisa tidur. Baru setelah udara terasa semakin dingin, lalat-lalat itu pergi. Menghilang. Suara dengungan mereka tidak terdengar lagi. Kini, hanya rasa lapar yang menahan para singa untuk belum terlelap. Kembali, mereka saling melirik. Pandangan mata mereka sangat sayu. Masing-masing dari mereka saling mengiba, berharap ada keajaiban yang bisa membuat potongan-potongan daging itu ada di dalam mulut mereka. Mereka hanya perlu mengunyah dan serat-serat merah itu pun lalu masuk ke dalam lambung.

Malam berlalu semakin jauh, sementara pagi semakin dekat. Udara semakin dingin. Angin yang berhembus sebenarnya cukup merayu untuk memejamkan mata, tapi rayuannya tidak mampu menghilangkan rasa lapar ketiga singa. Seberapa pun mereka berusaha mengalihkan perhatian, rasa itu selalu muncul. Suara perut yang kosong memecah kesunyian. Mata yang tadinya hampir terpejam kembali tersadar.

Terdengar suara gemerisik dari balik semak-semak di bagian belakang kandang. Semakin lama, suara gemerisik itu semakin jelas, untuk kemudian hilang sama sekali. Digantikan dengan sebuah sosok. Seekor ayam jantan yang kini berdiri di sisi luar kandang singa. Ketiga singa hanya bisa melirik ke arah ayam jantan itu. Lemah, lesu, pandangan mereka semakin kehilangan semangat. “Satu lagi pengganggu,” begitu keluh para singa dalam hati.

Ayam jantan masih berdiri di sisi luar kandang. Kepalanya digerak-gerakkan, mengawasi kondisi sekitar. Di hadapannya, tiga ekor singa yang sedang terbaring lesu, dengan setumpuk potongan daging yang belum tersentuh. Ayam jantan itu masih terus mengawasi. Beberapa kali dia kepakkan kedua sayapnya. Ketiga hanya bisa melirik. Tidak lebih dari itu.

Ketiga singa tidak pernah tahu tentang sang ayam jantan. Apakah dia juga penghuni kebun binatang ini? Kalau iya, dimana kandangnya? Lalu, bagaimana dia bisa keluar dari kandangnya? Yang mereka tahu hanya sudah beberapa bulan ayam jantan itu selalu datang ke kandang mereka. Di waktu seperti ini, ketika pagi menjelang. Ketika hawa dingin sedang mencapai puncaknya. Dia akan berkokok. Beberapa kali sampai kemudian pergi begitu saja. Dan, ketiga singa itu pun tahu masih akan beberapa saat hingga sang ayam jantan masuk ke kandang mereka. Entah apa yang dia tunggu, tapi sang ayam jantan selalu melakukan hal yang sama. Berdiri beberapa menit di luar jeruji kandang sampai kemudian berjalan perlahan melewati sela-sela jeruji kandang.

Benar saja. Masih beberapa menit hingga ayam jantan berjalan perlahan masuk ke dalam kandang melalui sela-sela jeruji kandang. Dia berjalan dengan sangat tenang, seakan kandang yang dimasukinya bukan kandang singa, binatang yang terkenal dengan kegarangannya. Sangat tenang hingga dia bisa meluangkan waktu untuk memperhatikan ketiga singa yang berbaring di dekatnya. Dia bahkan menyempatkan berdiri di hadapan ketiga singa tersebut. Berpikir dan memilah di singa mana dia akan berkokok kali ini. Satu per satu dia perhatikan singa-singa yang ada di hadapannya. Dia lalu mengepakkan kedua sayapnya ketika sudah menentukan pilihan. Singa yang terbaring di tengah yang dipilihnya kali ini. Dibanding yang lain, kepala singa ini berada di posisi lebih tinggi. Itu pilihan yang sempurna.

Ayam jantan itu mulai melangkah ke arah singa yang telah dia pilih. Satu per satu langkahnya semakin dekat dengan singa itu. Hingga jarak mereka hanya kurang dari 10 centi, ayam jantan menghentikan langkahnya. Di sebelah kanan singa itu, dia berdiri. Dapat dengan jelas terlihat olehnya bekas luka di beberapa bagian tubuh singa itu. Luka-luka kecil, yang sangat dia kenali. Itu bekas luka karena cakar-cakarnya. Luka itu pasti sudah beberapa hari yang lalu. Mereka sudah mengering, hampir tersamar karena tertutup rambut-rambut halus. Tapi tetap saja, ayam jantan mengenal setiap bekas luka yang dia buat. Setelah menatap bekas-bekas luka, ayam jantan sempat melirik ke arah wajah singa tersebut. Singa pun sedang mengarahkan pandangan kepada ayam jantan. Tidak ada yang terjadi. Saat beradu pandang, singa mengalihkan pandangannya. Semakin menundukkan kepalanya.

Sekali lagi, sebelum melangkah menaiki tubuh singa, ayam jantan menyempatkan mengepakkan kedua sayapnya. Ketiga singa memalingkan wajah mereka. Menghindar dari debu-debu yang terbang karena kepakan sayap itu. Setelahnya, ayam jantan mulai menaiki tubuh singa. Perlahan, dia tiba di atas kepala singa. Sang punya kepala hanya tertunduk. Meletakkan kepalanya di atas kedua kaki depan. Matanya terpejam, begitu pula dengan dua singa yang lain. Tak patut bagi mereka melihat ayam jantan yang berdiri di atas kepala temannya. Tapi begitu, itulah yang terjadi dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya terjadi.

“Masih beberapa saat lagi”, begitu ucap ayam jantan dalam hati ketika berada di atas kepala singa. Sementara menunggu, dia persiapkan dirinya. Matanya terpejam. Dia berdiri terpaku. Lalu, dadanya mulai membusung. Nafasnya dalam. Dan, saat itu pun tiba. Ayam jantan mulai berkokok. Suaranya lantang. Menyebar bersama udara dingin dini hari. Ketiga singa semakin dalam tunduknya. Suara kokok itu membuat kantuk mereka pergi. Mata mereka terbuka lebar, padahal belum sekejap pun mereka menutupnya.

Beberapa kali ayam jantan melantangkan suaranya. Dan, yang paling keras adalah yang terakhir. Seluruh udara di dadanya dikosongkan untuk kokok terakhir itu. Setelahnya, dia menutup dengan kepakkan sayap. Kepakkan yang semakin membuat ketiga singa merasa terganggu dengan kehadiran ayam jantan di kandang itu.

Ayam jantan pun turun dari kepala singa. Tidak melalui jalan yang tadi, kali ini dia akan melompat dari kepala singa. Kedua kakinya ditekuk untuk memberi ancang-ancang. Dan… hop, lompatlah dia kepala singa. Meninggalkan beberapa luka baru di kepala singa itu. Kedua sayapnya dikepak-kepakkan untuk mengontrol lompatannya. Kencang, hingga membumbungkan begitu banyak debu ke udara. Nafas ketiga singa menjadi sesak karenanya. Ayam jantan tidak peduli. Setelah mendarat, dia goyang-goyangkan tubuhnya. Membersihkan debu-debu yang menempel. Dia lalu berjalan menunju jeruji kandang. Tidak langsung ke luar, tapi dia sempatkan berhenti di dekat potongan-potongan daging. Dia ingin meninggalkan
sesuatu di situ. Dia buang kotorannya di atas potongan-potongan daging itu. Lau setelahnya, dia berjalan ke luar kandang. Melintasi kembali jeruji kandang dan menghilang di balik semak-semak.

Sementara, ketiga singa masih dalam keheningan. Berdiam, serta terus coba memejamkan mata mereka. Keadaan semakin tidak bagus bagi mereka. Sebentar lagi matahari akan muncul dan itu artinya mereka akan kembali menjadi binatang penghibur. Akhir pekan belum berakhir. Masih ada satu hari lagi. Artinya, masih akan ada enam pertunjukkan yang harus mereka lakukan. Sementara mereka belum juga sempat istirahat dan perut belum lagi terisi, entah hari seperti apa yang akan mereka jalani. Udara masih saja dingin, kantuk masih menggerayangi ketiga singa, tapi lelap tak juga mereka dapat. Hari baru hampir saja dimulai, meski ketiga raja yang uzur belum lagi siap untuk menghadapinya.

* Rencananya tulisan ini mau di-posting kalau Prancis ngalahin Inggris. Eh, ternyata Bonaparte tidak sebengis dulu. Ya, udah. Terpaksa ditunda deh.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s