Final Kepagian?

Minggu, 10 Juni 2012. Media ramai memberitakan pertandingan yang akan berlangsung pada malam harinya: tim nasional Spanyol melawan tim nasional Italia di ajang Piala Eropa 2012. Mulai dari rekaman sejarah pertemuan kedua tim, prediksi pemain yang akan diturunkan, sampai prediksi skor. Tidak jarang, media menyebut pertandingan ini sebagai “final kepagian”.

Tiga hari kemudian, media kembali ramai dengan pembahasan pertandingan lainnya. Kali ini, tim nasional Jerman bertemu dengan tim nasional Belanda. Lagi-lagi, tidak jarang yang menyebut pertandingan ini sebagai “final kepagian”. Lho, bagaimana mungkin ada dua partai final dalam sebuah kejuaraan? Lagipula, dua “final kepagian” itu terjadi bahkan sebelum fase penyisihan grup berakhir.

Memang, dapat dimengerti, penyebutan “final kepagian” digunakan untuk menggambarkan keseruan pertandingan yang akan berlangsung. Spanyol dan Italia merupakan dua negara yang berhasil menjadi juara dunia di dua Piala Dunia terakhir. Bahkan, Spanyol merupakan juara Piala Eropa yang lalu. Ditambah dengan sejarah dan materi pemain yang mumpuni, pertandingan antara kedua negara ini merupakan pertemua dua kekuatan besar di Eropa. Tapi, tetap saja, pertandingan ini terjadi di fase penyisihan grup.

Begitu pula saat tim nasional Jerman bertemu dengan tim nasional Belanda. Keduanya merupakan finalis Piala Eropa dan Piala Dunia terakhir – yang sama-sama dikalahkan Spanyol di partai puncak. Juga, keduanya memiliki materi pemain yang mumpuni. Tapi, lagi-lagi, pertemuan keduanya terjadi di fase penyisihan grup. Bahkan, setelah kalah di pertandingan tersebut, tim nasional Belanda dipastikan tidak akan lolos ke fase berikutnya – yang berarti tidak mungkin mereka akan tampil di partai final.

Begitulah, sebagai olahraga yang paling digemari, sepakbola menjadi bagian dari bisnis. Tidak hanya bisnis olahraga itu sendiri, tapi juga bisnis hiburan. Dan sayangnya, di Indonesia, penyajian sepakbola sebagai bagian dari bisnis hiburan terkadang ‘sangat berlebih’. Tidak hanya dalam ajang Piala Eropa, tapi juga dalam ajang lainnya.

ANTV, stasiun televisi yang memegang hak siar Liga Super Indonesia, misalnya. Dalam setiap laga yang disiarkan, sang pembawa acara akan menyebut pertandingan tersebut sebagai “big match” – tak peduli dengan kenyataan, misalnya, salah satu tim yang bertanding sedang berada di zona degradasi. Atau, di kesempatan yang lain, jika kedua tim yang bertanding merupakan tim besar yang sedang dalam persaingan merebut gelar juara (Sriwijaya FC melawan Persipura, misalnya), sang pembawa acara akan menyebut pertandingan tersebut sebagai “super big match”.

Ketika masuk ke dalam bisnis hiburan, terutama di Indonesia, kata-kata tertentu sepertinya telah kehilangan kekuatannya. “Final” bukan lagi laga akhir yang menentukan juara dalam sebuah kejuaraan. “Final” bisa terjadi kapan saja dan di fase mana saja, tergantung pada tim yang bertanding. Hal serupa terjadi juga pada “big match”.

Setahu saya, penyebutan “big match” dalam sebuah kompetisi hanya dilakukan jika kedua tim yang bertanding memang tim besar dan kuat – dari materi pemain, sejarah, serta posisi mereka di klasemen liga tersebut. Di Liga Inggris (Barclays Premier League), misalnya. “Big match” hanya digunakan jika yang bertanding merupakan tim yang berada di peringkat atas klasemen, atau ketika Liverpool bertemu Manchaster United – keduanya merupakan tim yang paling sering menjuarai liga, walau beberapa musim terakhir Liverpool terlempar dari zona Liga Champions.

Lagipula, liga-liga di Eropa memiliki sebutan khusus untuk pertandingan besar. “El Clasico” di Spanyol dan “Derby Milan” dan “Derby Roma” di Italia. Mereka tidak secara serta merta membumbui setiap laga dengan sebutan “big match” terlebih lagi dengan ditambahkan “super”. Media-media di sana sangat menjaga ‘kesakralan’ pertandingan-pertandingan besar, sehingga penamaan-penamaan khusus hanya diberikan pada pertandingan-pertandingan yang memang benar-benar layak diberikan sebutan khusus.

Kembali ke “final kepagian”. Kalaupun ada pertandingan yang layak disebut dengan istilah ini, maka itu adalah pertandingan antara tim nasional Portugal melawan tim nasional Yunani di Piala Eropa 2004. Kedua tim nasional ini menjadi tim yang paling pertama sekaligus paling terakhir bertanding di Piala Eropa kali itu. Mereka bertemu di partai pembuka dan partai final. Jadi, “final kepagian” layak diberikan untuk menyebut pertandingan tim nasional Portugal melawan tim nasional Yunani di partai pembuka Piala Eropa 2004.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s