Kisah Kehidupan di Padang-padang Keemasan (Kim Dong Hwa)

Bagi pria, dunia wanita merupakan sebuah misteri. Sebuah gua gelap yang sulit untuk mengetahui isinya. Banyak buku, banyak petuah, banyak cerita, banyak penelitian yang dilakukan untuk memberi sedikit penerangan pada gua gelap itu, tapi tetap saja, ketika berjalan ke dalamnya, lentera yang dibawa seketika padam.

Yang menjadi masalah adalah kebanyakan lentera dibuat oleh pria. Bagaimana mungkin bisa memahami sesuatu jika pencerahan yang didapat berasal dari sesama pencari pencerahan?

Melalui tiga buku ini, Kim Dong Hwa memberikan pencerahan mengenai dunianya, dunia wanita. Dari kata pengantar yang dibuat, tidak ada maksud sedikit pun ketiga buku ini dibuat untuk memberikan pencerahan tentang dunia wanita. Trilogi ini merupakan romantismenya kepada sang nenek. Tetapi, karenanya, cerita yang dikisahnya menjadi sangat jujur. Agak vulgar, tapi bukankah itulah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Ehwa dan ibunya merupakan penduduk sebuah desa sederhana di salah satu sudut Korea. Kehilangan sang suami yang meninggal dunia, ibu Ehwa terpaksa mencari penghidupan sebagai pedagang di kedai minuman. Setiap hari, penduduk desa maupun orang-orang dari desa lain mampir ke kedainya. Hanya saja, karena statusnya sebagai janda (muda dan cantik) serta hanya tinggal dengan seorang putri yang masih kecil, pikiran para pria yang mengunjungi kedai minuman ini tak lepas dari hasrat untuk bisa meniduri ibu Ehwa. Sesuatu yang sangat berat. Bukan saja dorongan kebutuhan, tapi juga melawan pandangan masyarakat yang menganggap rendah status seorang janda. Tapi, itulah kehidupan yang harus dijalani oleh kedua wanita ini.

Dua naluri alamiah manusia: bertahan hidup dan berkembang biak. Kedua hal ini, bagaimanapun, merupakan tanggung jawab orangtua untuk mengajarkannya pada anak (-anak) mereka. Hanya saja, sayangnya, naluri yang kedua dianggap terlalu tabu untuk dibicarakan, sehingga tidak jarang orangtua yang memilih enggan membicarakannya dengan anak (-anak) mereka. Tapi, tidak dengan ibu Ehwa. Dengan caranya sendiri, dia memberikan pengetahuan yang dimilikinya.

Dia tidak berperan sebagai guru yang mengajari, atau orang suci yang mengetahui segalanya. Dia hanya menjadi seorang manusia. Yang telah memiliki pengalaman, yang juga memiliki hasrat untuk dipenuhi.

Tidak hanya kehidupan yang memiliki siklus, hasrat birahi manusia pun memiliki arusnya sendiri. Sebermula layaknya tanah. Benda padat yang tidak memiliki motivasi untuk bergerak. Hanya diam di tempatnya dan mengamati sekitar. Lalu, hujan mulai turun. Tetes-tetes air membasahi tanah. Sedikit demi sedikit aliran air mengikis tanah. Merangkulnya, mengajaknya untuk ikut bersama aliran yang ada. Menjelajahi berbagai tempat, berbagai permukaan, berbagai hal yang ada di sekitarnya. Tidak sekadar melihat, tapi juga ikut merasakan – atau setidaknya mengetahui yang terjadi di sekitar.

Aliran-aliran kecil masuk ke sungai. Satu sama lain bergabung menjadi sebuah aliran yang besar. Aliran yang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar, cukup untuk mengikis tanah di tepi sungai. Aliran yang terus mengalir. Penuh tenaga. Arusnya membentuk gelombang yang menghantam tepian. Sampai akhirnya, musim panas pun tiba. Matahari bersinar dengan terik. Panasnya membakar sungai. Menguapkan air-air yang ada di dalamnya. Terangkat. Tidak ada lagi gelombang. Tidak ada lagi riak. Perlahan-lahar cairan itu berubah menjadi uap. Mengambang bersama tiupan angin musim panas yang kering. Dan ketika itu, hasrat pun telah usai. Dari ketinggian, hanya bisa memandang lekukan-lekukan sungai yang dulu pernah dialiri. Mengingat berbagai gelombang yang pernah terjadi. Lekukan-lekukan itupun mulai kering. Tidak ada lagi kebiruan yang mengalir di atasnya. Di dalamnya, hanya tanah coklat yang retak serta kubangan-kubangan kecil di beberapa bagiannya.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s