Kenapa Dialihbahasakan?

Ada satu perilaku yang biasa dilakukan oleh hampir (alih-alih) semua stasiun televisi di Indonesia, mengalihbahasakan (dubbing) film asing yang mereka tayangkan. Memang, ada banyak hal yang biasa dijadikan alasan untuk melakukan hal ini. Membuat para penonton televisi lebih mudah memahami isi tayangan. Juga, pengalihbahasaan dianggap proses kreatif tersendiri, yang memerlukan keahlian.

Ya, memang alasan-alasan seperti itu dapat dipahami, dan diterima. Tapi, ada hal lain yang sepertinya perlu dipertimbangkan untuk tidak melakukan pengalihbahasaan pada tayangan asing.

Kalau diperhatikan, hampir semua tayangan yang mengalami pengalihbahasaan merupakan tayangan yang diperuntukkan bagi anak-anak, terutama film animasi. Alasannya, ya itu tadi, agar penonton (anak-anak) dapat lebih mudah memahami isi tayangan. Dan, itu masalahnya. Kenapa harus dialihbahasakan? Kenapa tidak mempertahankan bahasa aslinya dan menggunakan terjemahan (subtitle)?

Pengalihbahasaan terasa sebagai kebijakan yang bertentangan dengan kenyataan saat ini. Ketika perkembangan zaman menuntut manusia-manusia global yang menguasai bahasa global (bahasa inggris) dan pengajaran bahasa inggris pun sudah diberikan di tingkat dini, pengalihbahasaan tayangan asing merupakan sesuatu yang sulit diterima. Mempertahankan bahasa asli tayangan asing itu, bagaimanapun, bisa menjadi sarana yang membantu perkembangan kemampuan berbahasa asing (bahasa inggris) anak-anak. Selain fakta bahasa inggris yang sudah diajarkan sejak tingkat dini, jangan dilupakan fakta tidak sedikit keluarga di Indonesia yang menyisipkan bahasa inggris dalam percakapan mereka sehari-hari. Lagipula, bukankah anak-anak ditemani oleh orangtua mereka ketika menyaksikan acara-acara di televisi, sehingga ketika anak-anak mengalami kesulitan memahami atau ada istilah yang membuat mereka bingung, mereka bisa bertanya pada orangtua mereka.

Pengalihbahasaan dapat diterima jika tayangan itu menggunakan bahasa yang memang ‘asing’ bagi masyarakat. Misal film asterix yang menggunakan bahasa prancis – sepertinya sulit menemukan sekolah yang menjadikan bahasa prancis sebagai muatan utama layaknya bahasa inggris. Tapi, kalau tayangan asing itu masih menggunakan bahasa inggris, terutama film animasi untuk anak-anak, ada baiknya tidak dialihbahasakan. Toh, para pembuat film itu paham kemampuan berbahasa segmen yang mereka tuju, sehingga pemilihan kata (diksi) benar-benar diperhatikan.

Satu lagi alasan tidak perlu megalihbahasakan tayangan asing:kualitas pengalihbahasaan. Bukannya tidak menghargai usaha yang dilakukan untuk mengalihbahasakan, tapi jujur, kualitas pengalihbahasaan di Indonesia malah menghilangkan keinginan untuk menyaksikan tayangan asing tersebut. Dan malah, kadang pengalihbahasaan yang dilakukan kebablasan. Tidak hanya dialog, tapi juga nyayian (lagu) dalam tayangan itu pun dialihbahasakan. Dan sungguh, ini sangat memuakkan. Tidak ada indah-indahnya. Terdengar memaksa. Hanya bikin sakit telinga. Dan, itu juga yang harus diperhatikan: kenyamanan. Kenyamanan yang sebenarnya. Bukan sekadar kenyamanan menyaksikan tayangan dalam bahasa Indonesia, tapi juga kenyamanan menyaksikan keseluruhan tayangan.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s