Mana Lebih Terlarang: Alkohol atau Nikotin?

Senin, 5 Maret 2012. Sesaat selepas tengah malam. Karena bosan dengan tayangan sepakbola, saya pun memindah-mindah channel televisi, berharap menemukan tayangan yang menarik. Dan setelah beberapa kali melihat tayangan yang disiarkan semua stasiun televisi, akhirnya saya memilih RCTI yang menayangkan film Face Off – film lama yang sudah saya lihat berkali-kali, tapi inilah pilihan yang paling ‘mending’ dibanding tayangan yang lain. Karena sudah beberapa kali menontonnya, perhatian saya pun tidak terlalu fokus pada film ini, bahkan saya lebih antusias memainkan game yang ada di handphone sementara siaran televisi hanya sebagai ‘teman’ agar tidak terasa terlalu sunyi.

Hingga kemudian, perhatian saya beralih pada televisi ketika terdapat adegan merokok. Di adegan tersebut, Nicholas Cage sedang merokok, dan oleh RCTI tampilan rokok yang sedang dihisap dibuat terlihat kabur (blur). Tapi kemudian, hal tersebut tidak dilakukan ketika ada tokoh yang menenggak minuman beralkohol.

Kemudian, muncul pertanyaan di kepala saya: apakah rokok lebih terlarang dibanding minuman beralkohol sehingga adegan orang merokok harus diburamkan sementara adegan orang menenggak minuman beralkohol tidak perlu diburamkan?

Dengan berdasarkan kenyataan yang bisa dilihat sehari-hari, sepertinya tidak seperti itu. Sederhana saja, saya bisa dengan mudah mendapatkan rokok. Di warung-warung kelontong yang banyak ada di pinggir jalan, di mini market, dan berbagai tempat lainnya. Sementara untuk minuman beralkohol, tidak semudah itu untuk mendapatkannya. Tempat yang dituju untuk mendapatkan minuman beralkohol biasanya adalah mini market. Tapi, itu pun tidak semua mini market menjual minuman beralkohol dan kalaupun ada, paling sekadar bir atau dengan tingkat alkohol tidak lebih dari 5%. Untuk mendapatkan yang lebih dari itu, semisal Vodka, harus mencari di tempat-tempat tertentu. Bahkan, pemerintah Depok melarang mini market menjual minuman beralkohol – tapi tidak dengan rokok.

Jadi, apa artinya? Bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia, minuman beralkohol lebih terlarang dibanding rokok – walaupun kita juga dapat dengan mudah menemukan tanda “Dilarang Merokok” tapi tidak ada tanda “Dilarang Minum Minuman Beralkohol”.

Lalu, kenapa RCTI mengaburkan gambar rokok ketika ada seorang tokoh merokok?

Sensor merupakan hal penting, agar nilai-nilai yang dianggap negatif tidak menular di masyarakat. Tapi sayangnya, kenapa sensor yang dilakukan terlihat pilih-pilih, tanggung. Anggaplah rokok dan minuman beralkohol sama-sama memiliki nilai negatif. Rokok menimbulkan ketagihan dan merusak kesehatan, sementara minuman beralkohol dapat memabukkan. Berarti, ketika ada adegan seorang tokoh sedang menghisap rokok atau menenggak minuman beralkohol, keduanya harus disensor. Walaupun, menurut saya, hal itu merupakan perbuatan sia-sia, atau setidaknya tidak efektif.

Biasanya, sensor yang dilakukan adalah dengan memburamkan rokok yang sedang dihisap. Ketika rokok tersebut sudah selesai dihisap, gambar kembali normal. Nah, di situlah letak ketidakefektivan sensor seperti ini. Ada beberapa hal yang membuatnya tidak efektif.

Pertama, penonton tetap dapat dengan mudah tahu bahwa sang tokoh sedang merokok. Walaupun sudah diburamkan, tapi nyala bara dapat terlihat cukup jelas. Lalu, asap yang dihembuskan oleh tokoh pun menjadi penanda lainnya. Dan, ketika sang tokoh menghembuskan asap inilah yang menjadi alasan kedua ketidakefektivan sensor seperti ini.

Di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika dengan Hollywood sebagai pusat hiburan sinema, ruang gerak promosi rokok sangat dibatasi. Iklan-iklan rokok yang dibuat tidak boleh secara lugas menyatakan bahwa iklan tersebut merupakan iklan rokok. Industri rokok pun kemudian berusaha mencari berbagai cara untuk bisa tetap mempromosikan produk mereka, dan bukan rahasia lagi kalau film merupakan salah satu sarana yang paling dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut. Karenanya, jika diperhatikan, ada kesan tertentu yang coba ditampilkan ketika misalnya seorang tokoh pada sebuah film sedang merokok. Bukan ketika sang tokoh sedang menghisap rokoknya, tapi setelah itu. Ketika sang tokoh menghembuskan asap rokok. Kesan yang biasa ditampilkan adalah kenikmatan merokok. Bagaimana pembebasan yang didapatkan sang tokoh ketika asap dihembuskan dari mulutnya. Kelegaan. Terbebas dari tekanan. Dan, di saat inilah rasa ingin merokok timbul dengan sangat besar.

Trik ini sebenarnya tidak asing lagi, kalau tidak bisa dibilang meniru, dari film porno. Apa yang membuat film porno sangat laku dan orang selalu mencarinya? Tubuh seksi? Payudara yang besar? Bokong yang berisi? Ya, semua itu benar. Tapi, lebih dari semua itu adalah ekspresi yang ditampilkan oleh para pemain ketika mereka sedang berhubungan seks. Lenguhan dan desahan yang tak pernah berhenti di sepanjang film – bahkan terkadang terlalu berlebih. Lenguhan dan desahan inilah, ditambah ekspresi ‘kenikmatan’, yang menimbulkan persepsi bahwa seks itu enak, mengasyikkan, nikmat, melegakan. Dan semua itu berpuncak di akhir, ketika para pemain ‘mengalami’ ejakulasi, klimaks. Frekuensi lenguhan dan desahan meningkat. Berpacu. Menggebu-gebu. Semua pemain yang terlibat dalam adegan seakan saling berlomba untuk mendapatkan kepuasan dan diakhiri dengan sebuah lenguhan panjang, atau kadang jeritan panjang. Semua terasa lepas. Bebas. Kaki seakan tidak lagi menapak di tanah. Melayang. Meresapi kenikmatan yang tiada batas.

Trik yang sama pun sebenarnya digunakan oleh minuman beralkohol. Tidak jarang sang tokoh akan menghembuskan napas panjang setelah dia menenggak minuman beralkohol. Hembusan yang melegakan. Atau, tidak jarang sebuah pernyataan penting dibuat setelah sang tokoh menenggak minuman beralkohol. Seakan-akan, rasa kepercayaan dirinya langsung meningkat setelah cairan beralkohol mengalir melalui tenggorokan.

Kesan yang ditimbulkan memang tidak diungkapkan dengan sangat jelas, karena memang dibuat demikian. Penonton dibuat tidak secara sadar, tapi lama-kelamaan persepsi itu melekat di dalam kepala mereka dan keinginan untuk melakukannya timbul dengan kuat.

Jadi, ya, kalau ada pihak pertelevisian yang membaca tulisan ini, ada satu saran yang mungkin bisa diperhatikan: yang sebenarnya harus disensor adalah adegan setelah sang tokoh menghisap rokok, atau menenggak minuman beralkohol. Buramkan ekspresi yang ditampilkan, atau samarkan audio yang diperdengarkan, karena pada bagian inilah manifestasi dilakukan.

Namun, kembali ke soal sensor yang dilakukan RCTI di film Face Off. Di luar permasalahan mana yang lebih terlarang, nikotin atau alkohol, ada hal lain yang sepertinya luput dari pertimbangan RCTI ketika melakukan sensor: jam tayang. Film tersebut ditayangkan hanya beberapa saat lewat tengah malam. Artinya, pada jam seperti itu, penonton dewasalah yang dituju oleh setiap stasiun televisi yang masih melakukan siaran. Dan karenanya, sensor pada acara-acara pada jam seperti ini tidak terlalu ketat. Jadi, dibanding melakukan sensor yang pilih-pilih dan total, ada lebih baik jika sama sekali tidak usah dilakukan sensor pada adegan menghisap rokok atau menenggak minuman beralkohol. Karena, jika itu dilakukan, saya, dan mungkin orang-orang iseng lainnya, tidak akan terpikir dan mempermasalahkan soal sensor. Pada akhirnya, tidak ada masalah yang perlu dibicarakan.

7 Maret 2012

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s