Seri, kok, senang?

Sebenarnya, judul tulisan ini terasa kurang pas. Karena, hasil seri pada momen tertentu merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan sebuah kesebelasan, serta para pendukungnya. Misalnya kalau saat ini Indonesia bertanding melawan Jepang di Tokyo. Hingga pertandingan berakhir, ternyata hasilnya seri (berapapun hasil seri tersebut). Hasil ini tentunya akan membuat bangga para pemain, pelatih, pengurus, serta pendukung tim nasional. Tapi, bukan seri seperti itu yang dimaksud dalam tulisan ini.

Minggu malam, 4 Maret 2012, karena terlalu bosan melihat pertandingan Totenham Hotspurs versus Manchaster United, sudah hampir bisa dipastikan tim tamulah yang akan menjadi pemenang – seperti pada musim-musim sebelumnya –, saya memindah-mindah channel televisi. Kebetulan, GlobalTV menyiarkan pertandingan tunda antara Newcastle United melawan Sunderland. Karena pertandingan tunda dan tim yang bertanding pun tidak terlalu menarik, saya coba mencari tahu skor akhir pertandingan ini di MetroTV. Dan dari running text MetroTV, saya mengetahui kalau pertandingan ini berakhir seri 1-1. Iseng, saya kembali memindahkan channel ke GlobalTV. Saya lihat pertandingan sudah memasuki menit 86 dan skor 0-1 untuk keunggulan tim tamu. “Wow, pasti ada drama,” begitu pikir saya karena menjelang pertandingan selesai skor masih 0-1 sementara hasil akhir yang saya tahu adalah 1-1. Benar saja, sampai menit 90, skor masih belum berubah. Baru setelah dua menit memasuki perpanjangan waktu, tim tuan rumah berhasil mencetak gol dan membuat skor menjadi imbang. Pemain, pelatih, dan pendukung Newcastle United, semuanya bersorak gembira. Bahkan, kamera sempat memperlihatkan seorang pria yang kemungkinan merupakan sosok penting dalam manajemen Newcastle United. Pria ini terlihat sangat puas dengan gol penyeimbang. Seperti informasi yang saya dapatkan sebelumnya, pertandingan berakhir 1-1. Usai pertandingan, para pemain Newcastle melambaikan tangan kepada para pendukungnya sambil menunjukkan ekspresi kepuasan, sementara hal yang sebaliknya terjadi pada para pemain Sunderland. Tim asuhan Martin O’Neil berjalan lesu menuju ruang ganti dengan muka tertunduk.

Situasi yang sangat aneh, setidaknya menurut saya. Seharusnya, lagi-lagi menurut saya, keadaan yang terjadi adalah sebaliknya. Para pemain Sunderland yang menunjukkan ekspresi gembira, sementara para pemain Newcastle yang berjalan lesu dengan muka tertunduk. Tetapi, mereka (para pemain, pelatih, serta pendukung kedua kesebelasan) sepertinya melupakan kondisi yang sebenarnya.

Sebelum pertandingan berlangsung, Newcastle mengumpulkan poin 42 sementara Sunderland baru 32. Dengan raihan poin tersebut, sudah jelas bahwa peringkat Newcastle lebih tinggi dari Sunderland di klasemen liga. Plus, Newcastle menjadi tuan rumah pada pertandingan ini. Dukungan para suporter merupakan penambah motivasi bagi setiap tim yang menjadi tuan rumah. Karenanya, dengan berbagai pertimbangan tersebut, Newcastle merupakan tim yang lebih diunggulkan (superior) dibanding Sunderland. Dan karena itu, kemenangan merupakan hasil yang mereka targetkan dalam pertandingan ini – bukan sekadar seri. Tapi, yang terjadi tidak seperti itu. Gol Ameobi di tambahan waktu babak kedua membuat Newcastle melakukan selebrasi layaknya mereka berhasil memenuhi target yang mereka tetapkan.

Memang, lewat perjuangan yang berat, Newcastle berhasil menyeimbangkan kedudukan dan itu terjadi di perpanjangan waktu babak kedua. Mereka berhasil terhindar dari kekalahan di saat-saat akhir pertandingan, dan itu sesuatu yang layak untuk disyukuri – tapi tidak cukup sebagai alasan melakukan selebrasi. Dengan berbagai superioritas yang dimiliki, hasil seri merupakan kerugian bagi Newcastle – dan keuntungan bagi Sunderland. Tapi sepertinya, pertandingan selama kurang lebih 90 menit mengubah pandangan tersebut. Segala superioritas yang dimiliki Newcastle sebelum pertandingan menghilang seiring detik-detik berjalannya pertandingan. Dan dengan semakin tipisnya waktu pertandingan yang tersisa, nilai-nilai superioritas tadi pun berubah. Dari target kemenangan yang ditetapkan, berubah menjadi mengimbangkan kedudukan – dan jika berhasil mencetak gol penyeimbang, baru kemudian kembali lagi ke target awal.

Agak munafik memang jika berpikir sepakbola mudah diprediksi – begitu juga sebenarnya dengan berbagai hal lain. Tim yang lebih superior tidak begitu saja bisa memenangkan pertandingan. Tapi, satu hal yang seharusnya tetap diingat. Bagaimanapun kondisinya, target merupakan suatu hal yang harus dihormati. Dalam kondisi seperti yang dialami Newcastle pada pertandingan tersebut, mereka harus ingat bahwa mereka berada dalam posisi superior dan kemenangan merupakan target mereka. Berhasil menyeimbangkan skor dengan dramatis bukanlah alasan untuk melupakan target tersebut, karena tetap saja mereka tidak berhasil mencapai target yang ditetapkan – walaupun sudah menyajikan drama yang menarik. Karenanya, tidak ada alasan bagi para pemain untuk bertepuk tangan sambil memamerkan ekspresi gembira usai pertandingan.

Sementara, sebaliknya, walaupun gagal meraih kemenangan di saat-saat akhir pertandingan, para pemain Sunderland harusnya menampilkan ekspresi yang positif. Bagaimanapun, posisi inferior sebelum pertandingan berhasil mereka ubah, dan itu merupakan suatu hal yang positif dan layak dihargai dengan senyuman – bukan dengan menunduk lesu.

Namun, ya, begitulah. Kadang waktu membuat kita lupa terhadap target yang sebenarnya kita buat di awal. Kadang kita merasa mendapat hasil negatif padahal sebenarnya kita sudah melebihi yang ditargetkan, pun sebaliknya. Hmmm….

5 Maret 2012

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s