Adolf: Komik Orang Kidal?

Kepustakaan Populer Gramedia kembali menghadirkan salah satu karya Osamu Tezuka. Setelah pada tahun 2007 mereka menerbitkan Budha, kali ini Adolf yang dipilih untuk dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai sebuah karya, tidak banyak komentar yang bisa diberikan kepada lima seri Adolf. Seperti pada karya-karya lainnya, Osamu Tezuka menghadirkan cerita yang menarik. Bahkan, sangat menarik. Dan saking menariknya cerita yang disajikan, saya menyangka seluruh kisah yang disajikan pada karya ini berdasarkan kejadian yang sebenarnya (fakta). Seringkali, untuk memulai sebuah bab, Osamu Tezuka memberikan keterangan waktu dan tempat kejadian tersebut berlangsung. Bahkan, pada bagian akhir beberapa bab, disajikan daftar peristiwa yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Plus, beberapa tokoh yang disajikan di karya ini merupakan tokoh nyata, sebut saja Adolf Hitler sebagai salah satu dari tiga tokoh Hitler yang diceritakan di karya ini. Dan sebagai pembaca, ketika menemui karya-karya yang memberikan hal-hal tersebut, saya akan beranggapan karya tersebut dibuat berdasarkan kisah nyata. Semua kejadian dan orang-orang yang terlibat di dalamnya merupakan fakta. Terlebih, pengetahuan saya tentang sejarah, terutama seputar Perang Dunia II, sangat lemah.

Saat pertama membeli, saya hanya mendapatkan seri 1 sampai 4. Ketika selesai membaca keempat seri tersebut, ternyata masih ada satu seri yang tersisa. Di sela antara selesai membaca keempat seri hingga saya membeli dan selesai membaca seri yang kelima, saya sempat bertanya kepada seorang teman yang sangat intens mencari tahu berbagai hal yang berhubungan dengan Perang Dunia II. Tapi, teman tersebut mengernyitkan dahi ketika saya menyebutkan beberapa tokoh yang terdapat di karya ini, seperti Adolf Kaufmann. Tapi kemudian, saya akhirnya baru sadar bahwa tokoh Adolf Kaufmann hanyalah fiktif, juga beberapa tokoh lainnya beserta kejadian-kejadian yang dibahas di karya ini. Setelah membaca tulisan Osamu Tezuka di bagian akhir seri 5, saya menyadari saya telah terkecoh olehnya. Di karya ini, dia menggabungkan tokoh-tokoh nyata dengan tokoh-tokoh fiktif, begitu pula dengan berbagai peristiwa yang terjadi. Dan, ya, Osamu telah berhasil meyakinkan saya dan membuat saya berpikir bahwa semua hal yang ada di karya ini merupakan kisah nyata.

Namun, bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini.

Setelah selesai membaca kelima seri dan menyadari kekeliruan saya, saya pun iseng membuka kembali lembar demi lembar karya ini. Sampai akhirnya saya menyadari satu hal: ada ‘keanehan’ pada berbagai kegiatan yang menggunakan tangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam karya ini. ‘Keanehan’ ini pertama kali saya sadari ketika melihat adegan bersalaman di halaman 84 (seri 4).

Apa orang Soviet bersalaman dengan tangan kiri?

Perhatikan tangan yang digunakan saat kedua tokoh bersalaman.

Kejadian yang serupa, ternyata, juga terjadi di bagian yang lebih awal. Berikut salah satu panel yang terdapat halaman 65 (seri 4).

Orang Jepang juga bersalaman dengan tangan kiri?

Ya, apakah mata saya yang salah atau memang mereka bersalaman menggunakan tangan kiri? Ya, sebenarnya, tidak ada salahnya bersalaman dengan tangan kanan maupun tangan kiri – yang bermasalah justru ketika bersalaman menggunakan kaki. Hanya saja, sepertinya hampir dalam semua budaya di dunia ini, tangan kanan yang digunakan ketika kita bersalaman. Lalu, kenapa tokoh-tokoh tersebut bersalaman menggunakan tangan kiri?

Saya pun membuka lembar-lembar yang lain dan menemukan ternyata tidak hanya bersalaman bukanlah satu-satunya kegiatan yang dilakukan oleh para tokoh dengan menggunakan tangan kiri. Menulis, makan, dan menembak pun menggunakan tangan kiri.

Kalau menulis, menembak, dan makan dengan tangan kiri sih mungkin sudah lumrah. Biasa disebut Kidal.

Karena penasaran, saya pun memindai beberapa halaman yang terdapat ‘keanehan-keanehan’ tersebut, lalu melakukan sesuatu di Photoshop. Setelah saya flip semua panel tersebut, ternyata mereka melakukan kegiatan-kegiatan tersebut dengan menggunakan tangan kanan. Dan, tidak ada lagi yang menjadi keanehan.

Hal itu kemudian membuat saya berpikir bahwa itulah yang dilakukan sang penerbit (Kepustakaan Populer Gramedia) terhadap karya awal. Mereka me-flip setiap halaman pada karya yang asli. Alasannya mudah saja. Komik Jepang (manga) dibaca dari bagian kanan ke kiri. Kalau dalam format buku di Indonesia, dari bagian paling belakang ke depan. Karenanya, untuk menyesuaikan dengan format yang biasa dikenal di negara ini, mereka me-flip setiap halaman.

Selain karena faktor mengikuti format buku di negara ini, alasan me-flip setiap halaman juga, mungkin, demi kenyamanan pembaca – begitu kata seorang teman saya. Jika dibiarkan dalam format aslinya, tentunya sangat tidak nyaman membaca karya ini. Ini berhubungan dengan pergerakan antarpanel dalam setiap halaman dan cara membaca sebuah bahasa. Bayangkan saja harus membaca teks dari kiri ke kanan, sementara pergerakan panel ke arah sebaliknya (dari kanan ke kiri). Itu bukanlah kondisi yang nyaman untuk membaca karya seperti ini, dan kenikmatan cerita yang sebenarnya ingin disajikan oleh sang pembuat pun akan sirna karena alasan teknis seperti ini.

Versi flip

Saya lalu teringat pada karya terjemahan lain. Pada tahun 2010 lalu, terbit karya terjemahan yang juga berasal dari Jepang, Hanyut. Karya empat seri ini tetap mempertahankan format seperti ketika karya ini diterbitkan di Jepang. Cara membacanya dari bagian kanan ke kiri. Dan, sebagai pembaca, saya tetap bisa menikmati cerita yang disajikan. Memang, agak perlu penyesuaian ketika awal membaca. Tapi kemudian, saya menjadi terbiasa dan bisa menikmatinya.

Lagipula, ada dua yang mendukung dan membuat format seperti itu tidak terlalu bermasalah. Pertama, di awal, sebelum memulai cerita, penerbit memberikan petunjuk cara membaca. Tentang pergerakan antarpanel dalam satu halaman. Kedua, penggemar komik di Indonesia sudah sangat terbiasa dengan manga, beserta cara membacanya. Jadi, mengubah format agar menjadikannya seperti format cara membaca buku di Indonesia sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Wajar jika ada yang menganggap permasalahan format ini sebagai masalah yang sepele. Di-flip atau tidak, toh ceritanya akan tetap sama. Tidak ada yang berubah.

Memang, dari sudut cerita tidak ada yang berubah. Tapi, ada hal lain yang sebenarnya sangat penting dalam sebuah karya terjemahan: budaya. Dalam karya terjemahan seperti ini, selain cerita yang disuguhkan, pengenalan terhadap budaya yang menjadi latar terjadinya cerita pun penting untuk tetap dipertahankan. Bagi orang yang sangat jarang bepergian ke luar negeri dan hanya mengenal berbagai kebudayaan di dunia melalui akses media, termasuk buku, tingkat kebenaran referensi sangat penting – karena itu merupakan sarana penambah pengetahuan saya sebagai pembaca. Jika suatu saat nanti saya berkesempatan pergi ke Jepang dan tentunya bertemu dengan orang-orang Jepang, saat ingin bersalam dengan mereka, karena berdasar referensi buku ini orang Jepang bersalaman dengan tangan kiri, saya pun menjulurkan tangan kiri saya. Tapi, jika ternyata salah. Bahwa dalam kebudayaan Jepang menjulurkan tangan kiri ketika bersalaman dianggap tidak sopan. Apa yang akan terjadi pada saya? Saya akan dianggap menghina. Agak berlebihan memang, tapi tetap saja kemungkinan seperti dapat terjadi.

Lagipula, hal lain berhubungan dengan fakta yang disajikan dalam cerita. Ketika suatu tokoh mengalami cedera di kaki kanannya karena tertembak saat berperang, lalu karena halaman tersebut di-flip, cedera tersebut pun akan pindah ke kaki kiri. Ini tentu akan menjadi sebuah masalah.

Untungnya di dalam karya ini, Osamu Tezuka, seperti yang diungkapkan pada tulisan di akhir seri 5, mengakui bahwa kisah yang disajikan di karya ini merupakan perpaduan antara fiksi dengan fakta. Jadi, unsur fiksi dapat dijadikan alasan untuk berkilah jika memang kejadian membingungkan karena me-flip halaman tersebut dilakukan – walaupun tetap sangat disayangkan karena sudah terlanjur membuat bingung pembaca.

Namun, saat ingin mengakhiri perasaan penasaran terhadap keanehan tersebut, saya dikejutkan oleh sebuah panel – mungkin ada panel-panel lain yang seperti ini, tapi kebetulan panel ini yang saya lihat pada saat itu. Panel ini berada di halaman 85 (seri 4), halaman yang sama dengan panel pertama yang membuat saya penasaran terhadap penggunaan tangan kiri. Di halaman ini, terdapat panel yang memuat foto Adolf Hitler dalam pakaian kebesarannya, lengkap dengan lambang swastika di lengan kirinya. Ya, lengan kiri. Dan demi meyakinkan, saya pun coba bertanya pada mbah Google apakah benar lambang swastika dikenakan di lengan kiri. Dan, mbah Google membenarkan hal itu. Jadi, kembali lagi: apakah memang Osamu Tezuka sengaja membuat tokoh-tokoh yang bertangan kidal – lebih menggunakan tangan kiri dibanding tangan kanan dalam melakukan kegiatan sehari-hari? Kalau memang benar, apa alasannya?

Ini tidak di-flip.
Yang ini pun tidak di-flip.

Sayang saya tidak memiliki versi asli karya ini, sehingga saya belum dapat memastikan apakah ‘keanehan’ tersebut memang disengaja oleh Osamu Tezuka, ataukan karena proses flip dalam pengalihbahasaan?

Wassalam.

24 Februari 2012

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s