Akan ke mana Messi?

ke luar Barca

Bursa transfer pemain musim dingin di Eropa sudah beralalu beberapa minggu yang lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, memerhatikan perkembangan transfer sampai detik-detik terakhir menjadi rutinitas yang wajib dilakukan. Meski untuk tahun ini tidak terjadi kejutan ‘menggemparkan’ seperti tahun lalu, tapi tetap saja menarik. Ada kejutan-kejutan kecil, ada transfer yang sepertinya sangat mendekati kenyataan, tapi ternyata harus gagal, dan sebagainya.

Namun, jika boleh jujur, dan mungkin banyak orang yang akan menyutujuinya, hanya satu pemain yang bisa membuat gempar berita transfer pemain. Dan kemungkinan besar, transfer yang dilakukan akan melibatkan uang dalam jumlah sangat besar. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan memecahkan rekor transfer Cristiano Ronaldo dari Manchaster United ke Real Madrid. Hmm… ya, Lionel Messi.

Meski terdengar agak sulit, bahkan hampir mustahil, tapi tetap saja kemungkinan itu ada. Seperti tag Adidas: “Imposible is Nothing”. Ada beberapa hal yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Walau di awal dikatakan, kalau memang transfer ini akan benar-benar terjadi maka ia akan melibatkan uang dalam jumlah besar, tapi sepertinya uang bukanlah faktor besar yang bisa memengaruhi Lionel Messi hengkang dari Barcelona. Melihat perjalanan kariernya, dia bukan tipikal pemain yang mengejar kekayaan. Uang dalam jumlah besar yang dilibatkan dalam transfer ini lebih untuk memenuhi keinginan Barcelona. Tidak mungkin Barcelona mau melepas pemain binaannya yang kemudian menjadi bintang besar dengan harga yang murah.

©

Di tahun 1999, Edwin van Der Sar memutuskan pindah ke Juventus, setelah sembilan musim membela Ajax Amsterdam. Menurutnya, jika dia tetap bertahan di klub ibukota Belanda tersebut, meski berhasil mempersembahkan berbagai gelar juara, dia akan selalu berada di bawah bayang-bayang nama besar Ajax Amsterdam. Walaupun gagal menunjukkan penampilan memukau di Juventus, tapi toh Edwin van der Sar berhasil menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya saat membela Manchaster United. Dan kini, setelah dia pensiun sebagai pemain sepakbola, rasanya tidak ada yang akan menyanggah bahwa dia salah satu kiper terbaik di dunia. Dia tampil memukau baik di klub maupun di tim nasioanal. Memang, dia pernah mengalami masa suram ketika di Juventus, tapi dia berhasil bangkit dan memperbaiki kariernya. Dan, sepertinya isu inilah yang bisa sangat mungkin membuat Lionel Messi berganti klub.

Memang, dua tahun ini Lionel Messi menjadi pemain terbaik di dunia, serta entah berapa panjang deretan penghargaan yang sudah diraihnya. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau ada ‘suara-suara sumbang’ di antara kesuksesannya itu. Dia memang memiliki kemampuan yang hampir sempurna. Hanya saja, keberhasilannya di Barcelona tidak terlepas dari peran pemain-pemain lain yang bisa ‘memanjakannya’, terutama Xavi dan Iniesta. Malah, tidak jarang yang berpendapat bahwa kesuksesan Barcelona saat ini sebenarnya karena faktor dua pemain Spanyol ini. Ada atau tanpa Messi, Barcelona tetap akan menjadi juara Spanyol, Eropa, dan dunia.

Opini tersebut pun didukung dengan penampilan mereka bersama tim nasional. Di tingkat senior, Xavi dan Iniesta sudah mempersembahkan gelar Juara Piala Eropa dan Piala Dunia untuk Spanyol. Sementara, di sisi lain, setelah gagal memberikan gelar untuk Argentina di Piala Dunia, Lionel Messi pun kembali gagal di Copa Amerika. Karenanya, semakin kuatlah opini bahwa sebenarnya yang menjadi kunci keberhasilan Barcelona adalah Xavi dan Iniesta, bukan Messi. Lagipula, bercermin pada kasus Edwin van der Sar, Barcelona sudah menjadi klub besar jauh sebelum Messi datang. Ada banyak nama besar yang pernah bergabung di klub ini, dan mempersembahkan prestasi yang tak kalah dari Messi. Sebut saja Johan Cruyff, Ronaldo, dan Maradona. Nama terakhir bisa menjadi alasan lain untuk kepindahan Lionel Messi.

Sejak awal kemunculannya, Lionel Messi selalu dihubung-hubungkan dengan Diego Maradona. Kemampuan individu, kemampuan mencetak gol, dan sebagainya. Juga, karena keduanya berasal dari negara yang sama dan sama-sama pernah membela Barcelona.

Mengenai perbandingan kedua pemain ini, ada tiga pendapat yang mencuat. Pendapat pertama bilang mereka berada di level sama, sementara dua pendapat lainnya menempatkan salah satu berada di level yang lebih tinggi dari yang lain. Saya pribadi, menganggap Maradona berada di level yang lebih tinggi dari Lionel Messi.

Saya memang belum peduli pada sepakbola ketika Maradona mengalami masa-masa kejayaannya. Saya hanya sempat melihatnya bermain di Piala Dunia 1994. Walau bermain cukup baik, tapi dia harus pulang lebih dulu karena masalah obat-obat terlarang. Karenanya, jika ditanya mengenai perbandingan permainan keduanya, saya tidak akan memberi jawaban. Tapi, ada hal lain yang menurut saya bisa dijadikan patokan mana yang berada di level lebih atas dibanding yang lain: prestasi.

Dalam catatan kariernya, Maradona berhasil mempersembahkan gelar untuk Boca Juniors (Argentina), Barcelona (Spanyol), Napoli (Italia), Barcelona S.C. (Columbia). Memang, ketika mempersembahkan semua gelar itu, Maradona bukan satu-satunya nama besar yang bermain untuk setiap klub tersebut. Tapi tetap saja, karena dia berhasil memberikan gelar di hampir semua klub yang dibelanya, maka sorotan utama adalah kepada pemain gempal ini. Dan, satu lagi, jangan lupakan keberhasilan Maradona membawa Argentina menjadi Juara Dunia – pencapaian yang masih belum dilakukan Messi.

Karenanya, isu mengenai pembuktian inilah yang, setidaknya menurut saya, cukup kuat untuk membuat Messi keluar dari Barcelona. Pembuktian bahwa dia merupakan pemain hebat yang bisa memberikan prestasi pada tim yang dibelanya, walaupun tidak bermain bersama Xavi dan Iniesta. Dan dengan begitu, dia juga akan berada di level yang sepadan dengan Maradona, karena bisa memberikan gelar pada klub-klub yang dibelanya.

Lagipula, ada satu alasan lain yang membuat kepindahan Messi dari Barcelona sangat mungkin terjadi. Sponsor, dalam hal ini Adidas.

Sebagai pemain yang dua kali berturut-turut menjadi pemain terbaik dunia, susah menyangkal bahwa Messi adalah icon sepakbola saat ini, dan itu merupakan aset yang sangat berharga bagi setiap pihak yang mengontraknya. Begitu pula dengan Adidas.

Masalahnya, sebagian besar foto dan rekaman mengenai Lionel Messi, dia sedang mengenakan kaos Barcelona – yang disponsori Nike (Coba buka Google dan cari foto Lionel Messi. Lihat perbandingan foto yang muncul, ketika dia mengenakan kaos Adidas dengan kaos Nike). Tidak hanya kaos, juga celana dan kaos kaki yang dikenakan Messi terdapat logo Nike. Hanya ketika dia bermain untuk tim nasional Argentina, semua pakaian yang melekat pada tubuhnya berlogo Adidas. Tapi, frekuensinya sangat kecil dibandingkan ketika dia bermain untuk Barcelona.

Entah berapa besar kontrak yang diberikan Adidas untuk Lionel Messi. Tapi tentunya, jumlahnya cukup besar. Dan karena jumlah yang cukup besar tersebut, tentunya pihak Adidas merasa gerah kalau ‘pemainnya’ lebih sering terlihat mengenakan pakaian yang disponsori Nike dibanding produknya sendiri. Dan, ini membawa kita pada pertanyaan berikutnya, ke klub mana dia akan bermain setelah pergi dari Barcelona?

©

Beberapa klub di Eropa belakangan ini sangat mengandalkan uang untuk membangun kekuatan timnya. Dimulai dari Chelsea lalu diikuti Manchaster City dan belakangan Paris Saint German. Lalu, apakah Messi akan pindah ke salah satu klub kaya tersebut?

Seperti yang sudah dibilang, dia bukan tipikal pemain yang sangat mendewakan kontrak besar. Kalaupun dia menginginkan hal itu, sudah sejak lama dia akan pindah dari Barcelona. Lalu, ke klub mana? Jawabannya tergantung pada faktor mana yang lebih berperan dalam kepindahannya: pembuktian atau sponsor.

©

Bukannya ingin ‘menyanjung-nyanjung’ atau ‘berpikir negatif’ pada Adidas. Tapi, dibanding Nike, Adidas merupakan produsen alat-alat olahraga yang ambisius – terutama di sepakbola. Sebagai contoh, coba ingat Bayern Munich. Sampai dengan era 90-an, seluruh pemain klub asal Jerman ini mengenakan berbagai perlengkapan yang dibuat Adidas. Masa-masa ketika klub ini masih dibela Stefan Effenberg, Lothar Mattheus, dan Oliver Kahn. Mulai dari kaos, celana, kaos kaki, hingga sepatu. Tapi memasuki abad 21, pemandangan tersebut mulai berubah. Kaos, celana, dan kaos kaki masih tetap Adidas. Tapi untuk sepatu, Adidas tidak lagi menjadi satu-satunya merek yang dipakai pemain-pemain klub ini. Dan, hal ini yang membuat Adidas bertindak lebih ambisius.

Mungkin Galacticos edisi perdana bisa dijadikan contoh keambisiusan tersebut. Dari pemain-pemain terkenal yang didatangkan Real Madrid saat itu, beberapa di antaranya merupakan pemain yang dikontrak Adidas. Luis Figo, Zinedine Zidane, dan David Beckham. Ketiganya merupakan icon sepakbola pada masa itu.

Bukankah agak mencurigakan ketiga pemain besar tersebut memilih Real Madrid, padahal ada klub-klub lain yang sangat menginginkan jasa mereka dan rela membayar dalam jumlah besar? Karenanya, alasan yang sangat memungkinkan adalah sponsor. Adidas ingin pemain-pemainnya bermain di klub yang juga mereka sponsori. Sebelumnya, ketiga pemain tersebut bermain di klub yang disponsori oleh produsen lain. Luis Figo di Barcelona (Nike), Zinedine Zidane di Juventus (Kappa), dan David Beckham di Manchaster United (Nike).

Terpilihnya kembali Florentino Perez sebagai presiden klub Real Madrid menjadikan klub ini memiliki Galacticos edisi kedua. Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema, Mesut Ozil, dan lain-lain. Lagipula, boleh dibilang, Real Madrid merupakan tim terbaik dalam segi bisnis. Ketika memecahkan rekor transfer dengan mendatangkan Ronaldo dari Manchaster United, banyak yang bilang harga yang diberikan terlalu tinggi. Tapi kemudian, Real Madrid bisa meraih kembali uang transfer itu hanya dalam beberapa bulan. Jika dirangkum dalam satu tahun, mereka bisa mendapatkan kembali uang yang dikeluarkan untuk mendatangkan nama-nama besar tersebut. Dan, semua itu hanya dalam satu musim. Karenanya, walaupun sang presiden tidak sekaya juragan minyak pemilik Manchaster City, jangan kaget jika Real Madrid bisa mengeluarkan uang dalam jumlah memukau untuk pemain seperti Messi. Lalu, apakah Messi akan menjadi bagian dari Galacticos edisi kedua? Hmmm… kemungkinan yang sangat kecil. Perseteruan Barcelona dan Real Madrid yang sangat panas beberapa tahun ini menjadi salah satu alasannya. Dan lagi, bagaimanapun juga, kalaupun harus pindah, Messi memiliki hutang budi pada Barcelona dan karenanya akan memilih klub yang tidak senegara – apalagi Real Madrid yang memiliki perseteruan luar biasa. Terlebih, sepertinya Adidas sudah cukup puas dengan Real Madrid saat ini yang berhasil mendapatkan Cristiano Ronaldo (Nike).

Kalau begitu klub mana? Chelsea?

Hmmm…. Sejak kedatangan Roman Abramovich, Chelsea berubah menjadi salah satu klub raksasa di Liga Inggris. Beberapa gelar lokal berhasil mereka dapatkan. Sementara untuk level Eropa, mereka hanya bisa masuk ke dalam kelompok kuda hitam. Seberapapun besarnya dana dan ambisi taipan asal Rusia tersebut, ternyata Chelsea belum juga berhasil meraih prestasi di liga Eropa. Mereka hanya mampu menembus final, yang kemudian harus kalah dari klub sesama Inggris – Manchaster United. Ditambah dengan fakta dalam dua dekade terakhir belum ada klub baru yang berhasil menjuarai Liga Champions Eropa, sepertinya sulit bagi Chelsea untuk bisa mendapatkan Messi – meskipun didukung fakta mereka disponsori Adidas dan berada di luar Spanyol.

Kalau berdasar sponsor dan nama besar klub, ada dua nama yang memiliki potensi cukup besar untuk mendapatkan Lionel Messi. Dengan nama besar yang sudah mereka miliki dan juga merupakan klub yang disponsori Adidas, juga berada di luar Spanyol. Kedua klub tersebut adalah AC Milan dan Bayern Munich.

Sejak kedatangan Massimo Allegri, AC Milan mulai mengubah kebijakan. Mereka bukan lagi klub yang menampung pemain-pemain yang sudah mendekati masa pensiun – walaupun masih ada beberapa nama yang seperti itu. Bahkan, karena kebijakan baru tersebut, mereka rela kehilangan Andrea Pirlo yang usianya sudah mulai memasuki kepala tiga. Ditambah dengan nama besar yang dimiliki dan kemampuan finansial, bukan tidak mungkin klub ini menjadi persinggahan Lionel Messi selanjutnya.

Namun, kalau berbicara masalah sponsor, Bayern Munich merupakan klub yang paling berpotensi. Satu fakta yang menguatkan kemungkinan ini adalah Adidas dan Bayern Munich sama-sama berasal dari Jerman. Bahkan, bisa dibilang, Bayern Munich merupakan kandang Adidas. Dan setelah gagal mempertahankan ‘tim Adidas’ di Bayern Munich, Adidas tentunya sangat ingin (setidaknya) salah satu icon terbesar sepakbola saat ini bermain di kandang mereka.

Atau, kemungkinan yang lain jika ternyata faktor pembuktian yang lebih berpengaruh pada kepindahan Lionel Messi. Dia tidak akan memilih klub dengan nama-nama besar. Dia akan seperti Maradona yang memilih Napoli setelah dari Barcelona. Dan kalau memang ini yang terjadi, agak sulit untuk menentukan klub mana yang akan dipilih. Faktor kepandaian melobi dan meyakinkan si pemain berperan sangat besar.

Ya, kalaupun itu terjadi, tidak dalam waktu dekat ini. Mungkin tiga atau empat tahun lagi Lionel Messi akan pindah dari Barcelona – setelah dia mereka sudah melunasi hutang budinya pada klub tersebut. Kita tunggu saja.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

One thought on “Akan ke mana Messi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s