Membaca, Gekiga, Graphic Novel

Kamis lalu, 22 September 2011, sempat datang ke acara diskusi tentang komik di Japan Foundation. Yang menjadi pembahasan kali ini adalah Hanyut karya Yoshihiro Tatsumi. Sebagai pembicara, Hikmat Darmawan ditemani (something) Mantovani sebagai moderator. Seharusnya ada JB Kristanto yang juga sebagai pembicara (perwakilan dari penerbit Nalar yang menerbitkan karya tersebut di Indonesia), tapi ternyata dia tidak dapat datang.

Mengawali diskusi, moderator mengungkapkan pembicaraannya dengan JB Kristanto mengenai ide awal penerbitan karya tersebut. Disebutkan, Hanyut dianggap sebagai salah satu karya yang sangat penting. Sebelumnya, penerbit Nalar sudah menerbitkan beberapa judul karya Beny dan Mice serta satu karya terjemahan Contract with God (Will Eisner).

Sang moderator menuturkan, menurut JB Kristanto, ada sebuah segmen pasar yang belum digarap oleh penerbit lain. Segmen komik untuk orang dewasa. Karenanya, Nalar memutuskan untuk menerbitkan kedua karya tersebut. Contract with God merupakan salah satu karya yang menjadi tonggak kelahiran sebuah genre yang dinamakan Graphic Novel, sementara Hanyut merupakan tonggak munculnya aliran Gekiga.

Hanya saja, sayangnya, penerbitan kedua karya tonggak ini tidak terlalu berhasil di Indonesia. Yang dimaksud berhasil di sini adalah dari sisi penjualan. Walaupun merupakan karya yang penting dalam sejarah perkembangan seni, ternyata karya tersebut bisa dibilang tidak laku di Indonesia. Tidak hanya di Indonesia sebenarnya, menurut Hikmat Darmawan, di negeri asalnya, Hanyut pun tidak mendapatkan sambutan yang hangat.

Sayangnya, kondisi itu tidak hanya dialami oleh penerbit Nalar. Beberapa penerbit sebenarnya sudah menerbitkan beberapa karya terjemahan. Menyebut beberapa judul yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, Budha, Palestine, Chicken with Plum, dan History of Violence. Kesemua karya itu mengalami nasib serupa. Penjualan mereka tidak bagus. Bahkan, karena minat yang didapat sangat minim, Persepolis 2 (Marjane Satrapi) yang sempat diterjemahkan dan diterbitkan harus ditarik kembali.

Pada acara tersebut, kebetulan juga hadir salah satu penerjemah Hanyut, Yoko (saya lupa apakah yang Takebe atau Nomura). Seorang wanita yang cantik. Menanggapi pernyataan tidak lakunya Hanyut dan Contract with God di Indonesia, Yoko berpendapat itu berhubungan dengan budaya membaca komik di Indonesia. Menurutnya, orang-orang di Jepang sejak kecil sudah gemar membaca komik dan kegemaran itu berlanjut hingga mereka dewasa. Karenanya, terdapat berbagai jenis komik untuk setiap periode perkembangan manusia – untuk anak-anak, remaja, dan dewasa.

Sementara di Indonesia, masih menurut si cantik Yoko, budaya itu tidak ada. Komik dianggap sebagai bacaan terlarang. Bahkan anak kecil pun dilarang membacaranya. Dan bagi orang dewasa, karena mereka tidak memiliki budaya membaca komik, komik dianggap sebagai bacaan anak-anak yang tidak penting. Karenanya, ketika hadir karya-karya seperti Hanyut dan Contract with God, mereka tidak tertarik untuk membacanya, apalagi membeli.

Hmmm…. Tidak salah juga, siy. Seperti pepatah lama, “Alah bisa karena biasa”. Begitu juga dengan komik. Suka membaca komik karena memang sudah terbiasa membacanya. Tapi, kebiasaan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dibudayakan sejak masih kecil. Jujur saja, sebagai penggemar komik, saya baru mulai benar-benar membaca komik di penghujung kuliah. Saat masih kecil, saya memang pernah membaca beberapa komik – Doraemon dan Crayon Shincan – tapi hanya satu-dua buku dan belum benar-benar suka pada komik. Baru pada saat persiapan skripsi, saya teringat pada salah satu karya anak bangsa, Lagak Jakarta. Dan, dari situlah saya mulai jatuh cinta pada komik dan rekan-rekannya.

Bukan karena orang-orang dewasa itu tidak terbiasa membaca komik yang membuat mereka tidak tertarik membaca karya-karya seperti Hanyut. Bukan karena saat masih kecil mereka tidak membaca komik makanya ketika dewasa mereka pun tidak tertarik pada komik.

Anggapan komik sebagai bacaan anak-anak yang tidak penting, sekadar lucu-lucuan, remeh, dan lain sebagainya yang menjadi penghalang. Jujur saja, banyak orang yang masih menganggap komik seperti itu. Padahal, komik sudah jauh lebih dari itu. Kalau penjualan Da Vinci Code bisa sukses karena dianggap menyajikan cerita yang menarik dan petualangan yang menegangkan, kisah yang disajikan Hanyut pun tidak kalah menarik. Konfliknya pun tidak biasa-biasa saja. Belum lagi perenungan dalam Contract with God.

Saya masih ingat pendapat seorang teman kantor yang saya pinjami seri Budha (Osamu Tezuka). “Gila. Tiap selesai baca satu jilid, gw ngerasa jadi orang baru,” ujar teman itu dengan wajah yang sangat bergembira – seperti habis mendapat sebuah persenggamaan yang luar biasa.

Komik dan saudara-saudaranya telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Larry Gonick membuat buku sejarah dalam bentuk komik. Scott McLoud menjelaskan teori dan perkembangan komik dalam wujud komik. Belum lagi reportase perang yang disajikan oleh Joe Sacco, juga dalam bentuk komik. Dan, masih banyak yang lainnya. Potensi inilah yang masih belum disadari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahwa komik bukan hanya cerita ringan yang dengan mudah dipahami oleh anak-anak, yang fungsi sekadar menghibur, tidak lebih dari itu.

Setelah selesai acara diskusi, saya mengobrol dengan seorang teman. Menurutnya, dan saya setuju dengan pendapatnya, membaca belum menjadi budaya bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Dan, itu jauh lebih celaka.

Kenapa lebih celaka?

Gampang saja, siy. Kalau membaca sudah menjadi budaya, segala hal yang ingin dilakukan tentunya selalu dikaitkan dengan membaca. Misalnya, seorang yang montir akan membaca berbagai referensi untuk meningkatkan pengetahuan mekanisnya. Begitu pula dengan seorang ekonom. Dan, profesi-profesi lainnya pun begitu.

Begitu pula ketika seseorang yang ingin mencari hiburan. Komik yang terlanjur dibeli label sebagai bacaan anak-anak yang tidak penting, sekadar lucu-lucuan, pasti akan dibaca ketika seseorang membutuhkan hiburan. Dia akan beralih pada komik ketika ingin tertawa, tersenyum. Tapi, pada kenyataannya, tidak. Membaca bukan merupakan sarana hiburan. Dia kalah dengan berbagai media lain, film, musik, dan lainnya.

Jujur saja, buku khususnya atau bahan bacaan pada umumnya belum menjadi sumber informasi primer. Masyarakat kita masih sangat mengagungkan budaya lisan – dalam hal ini perkataan orang. Tidak ada salahnya memang, tapi yang menjadi masalah adalah hanya puas dengan satu sumber. Ketika sudah mendapat sumber lisan, tidak mencari pembanding dari sumber tulis. Padahal, tidak menutup kemungkinan sumber lisan itu tidak memiliki dasar yang kuat.

Mendapatkan informasi dari sumber lisan memang ‘lebih menyenangkan’ dibanding mencari informasi dari sumber tulis. Ketika berhadapan dengan sumber lisan, kita bisa melakukannya sambil mengerjakan hal lain: minum, makan, merokok, dan lain sebagainya. Sementara, ketika membaca, kita hanya berfokus pada kegiatan itu saja. Kalaupun bisa sambil makan, minum, atau merokok, itu dilakukan ketika kita sedang jeda membaca.

Namun, bagaimanapun, itu semua masalah pilihan. Tidak bisa memaksakan pendapat kita pada orang lain. Tidak bisa juga menyalahkan pilihan orang lain. Ketika mereka memilih cara lisan sebagai sumber primer mencari informasi, ya biarkanlah. Ketika membaca bukanlah budaya seseorang, sekelompok masyarakat, biarkan saja. Jangan katakan mereka salah. Itu soal pilihan. Janganlah menjadi orang yang suka menghakimi orang lain dan merasa paling benar. Emang situ udah yakin 100% benar? Kalau iya, berarti bukan manusia, dong? Hehehehe…. Damai….

Җ

Sebagai sebuah aliran, Gekiga muncul sebagai reaksi terhadap manga. Menurut Tatsumi, yang menjadi pelopor Gekiga, para seniman manga sudah sangat nyaman dengan pakem yang dimiliki oleh manga. Dari sudut cerita, karakter, penggambaran, dan sebagainya. Karenanya, harus ada sesuatu yang berbeda. Sebuah manga yang bukan manga. Dan, akhirnya dibuatlah Gekiga.

Garis jelas yang membedakan manga dengan Gekiga adalah penceritaan. Gekiga merupakan komik yang diperuntukkan orang dewasa. Walaupun ada pula jenis manga yang juga diperuntukkan orang dewasa, tapi secara esensi cerita jauh berbeda.

Gekiga mengangkat tema-tema kehidupan atau permasalahan yang dialami oleh orang dewasa. Permasalahan sehari-hari, yang kadang remeh atau bahkan tidak dianggap penting dan sering terlupakan.

Namun sayangnya, pengertian tersebut berkembang menjadi rancu dan beralih. Satao, salah seorang seniman yang sangat dibenci oleh Tatsumi yang dianggap menjadi tersangka utama dalam kesalahan pengertian tersebut.

Sebagai pembuat komik, Satao merupakan seorang yang sangat cocok dengan industri manga di Jepang. Dia bisa menghasilkan beragam karya dalam waktu yang singkat. Estetika bukanlah yang yang menjadi perhatiannya. Yang terpenting baginya, pekerjaannya selesai.

Di awal perkembangan, Satao dan Tatsumi bekerja sama dalam sebuah majalah yang mereka dirikan. Tapi dalam perkembangannya, mereka berada di dua kubu yang sangat berbeda. Tatsumi sangat mementingkan idealismenya, sementara Satao mengejar semua deadline yang dimiliki.

Satao menjadi populer dengan karya Golgo 13. Kepopuleran karya ini pun berd

Contribute to Simple Survey

Advertisements