Harapan

Saat akan berpisah, seseorang yang pernah menjadi orang yang sangat penting, berpesan, “Jangan pernah berhenti berharap, karena harapanlah yang membuat manusia tetap hidup.” Hmm… sebuah pesan yang sangat bagus, dan penting.

Jujur, memang harapanlah yang membuat manusia tetap menjalankan kehidupan di dunia ini. Harapan bahwa esok keadaan akan menjadi lebih baik. Bahwa akan ada pemecahan dan jalan keluar dari setiap masalah yang sedang dihadapi. Harapan bahwa ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit yang sudah diderita selama bertahun-tahun. Harapan bahwa akan ada seseorang yang dapat menuntun kita menjadi orang yang lebih baik.

Setiap hari, setiap saat, harapan itulah yang menuntun manusia dalam menjalankan segala yang dilakukannya. Seorang umat selalu melakukan ibadah setiap saat karena dituntun harapan disediakannya surga ketika di akhirat kelak. Seorang pengusaha selalu melakukan pengembangan dalam usahanya karena dituntut harapan akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari setiap usaha yang dilakukannya. Seorang pria selalu bersedia melakukan apapun demi wanita yang sangat disukainya karena dituntun oleh harapan kelak wanita itu akan menjadi kekasihnya. Dan, seterusnya. Harapan terus menggerakkan manusia di seluruh permukaan bumi.

Dan ketika si manusia berpikir tidak ada lagi harapan yang dimilikinya? Usailah sudah cerita kehidupan. Tak sedikit orang yang berpikir bahwa harapan yang dimilikinya sudah tidak ada lagi. Segala yang ada di dalam pikirannya hanya berujung pada kegelapan. Sebuah jalan buntu. Tanpa jalan keluar. Selesai.

Harapan, itu yang selalu dicari. Bagi sebagian orang, suatu harapan memiliki arti yang sangat penting. Bahkan ketika harapan tersebut sudah berkali-kali mengecewakannya, dia tetap bertahan dan berharap bahwa harapan tersebut dapat terwujud.

Memang, pada saat-saat tertentu, harapan tersebut seperti akan benar-benar terwujud. Jika dia sebuah bunga, kuncupnya perlahan mulai mengembang. Perlahan menunjukkan sebuah rupa bunga yang sempurna, begitu indah. Tapi ketika akan menuju bentuk sempurnanya, bunga itu tiba-tiba layu. Dia kehilangan kesegarannya. Melemah dan akhirnya jatuh ke tanah. Dan, kejadian seperti itu tidak hanya berlaku sekali. Sudah berkali-kali, dan pada harapan yang sama. Tetap saja, ada manusia yang bertahan pada harapan tersebut.

Entah, mungkin itu yang disebut cinta mati. Tetap bertahan walau berkali kecewa pada sesuatu. Ataukah, karena memang merasa tidak ada harapan lagi yang bisa diharapkan. Jadi, walau seberapa kalipun merasakan kekecewaan, tetap saja bertahan dan terus berharap bahwa suatu saat harapan tersebut akan benar-benar terwujud – walau entah kapan dan, yang lebih utama, apakah benar-benar akan terwujud.

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s