Kata-kata Politis

Suatu Sabtu, saya berkunjung ke sebuah mal di Jakarta. Karena terasa ingin buang air kecil, saya pun mencari toilet dan membuat cairan dari dalam tubuh. Setelah lega, saya pun membenahkan pakaian dan mencuci tangan di wastafel. Biasa saja. Tapi, saat membersihkan tangan di wastafel, entah kenapa perhatian saya tertuju pada seorang pria muda yang berdiri di kanan saya. Tidak terlalu dekat. Kami berjarak sekitar dua orang.

Pun, tidak ada yang istimewa atau menarik dari pria muda ini. Layaknya anak muda lainnya, dia berpakaian dan bergaya modis – maklum Sabtu sore di sebuah mal Ibukota. Tapi kemudian, sambil tetap mencuci tangan, saya teringat bahwa pria muda ini sudah berdiri di situ sejak saya masuk ke toilet. Yang dilakukannya pun masih tetap sama – menatap cermin sambil mengatur rambutnya.

Jika dia sudah berada di situ saat saya masuk, setidaknya pria muda itu setidaknya sudah 3 menit membenahi rambutnya. Waktu bercermin yang cukup lama bagi orang yang tidak terlalu peduli dengan penampilannya seperti saya. Merasa penasaran, saya pun kembali mencuri pandang ke pria muda tersebut. Gaya rambutnya masih sama.

Rambut pria muda tersebut tidak terlalu panjang, tidak juga terlalu pendek. Tapi, tangannya berulang kali coba mengatur komposisi rambutnya. Jemarinya perlahan mengatur setiap helai rambut agar sesuai dengan yang diinginkannya. Tapi yang membuat saya heran, pria muda tersebut tidak mengatur rambutnya agar terlihat rapi. Justru, gerakan jemarinya menghasilkan gaya yang berantakan. Dalam hati, saya bertanya, “Kenapa harus berlama-lama mengatur jika yang ingin agar rambut terlihat berantakan?”

Tak ingin berlama-lama mengamati pria muda tersebut karena takut ‘dicurigai’ memiliki orientasi seksual ‘yang tidak biasa’, saya pun keluar dari toilet. Menghampiri wanita saya yang sejak dari tadi menunggu di luar toilet pria.

Masih di mal tersebut, saat berjalan bersama wanita saya menuju sebuah eskalator, mata saya tertuju pada seorang pria muda lainnya. Bukannya karena saya penyuka pria makanya sering memperhatikan pria, tapi pria muda yang satu ini memang memiliki daya tarik untuk menyedot perhatian orang. Daya tarik itu ada pada rambutnya. Rambut pria muda tersebut mengingatkan saya pada Slash, mantan gitaris Guns ‘N Roses. Gimbal dan agak panjang – walaupun tidak sepanjang rambut Slash. Di atas rambut gimbal tersebut, dia mengenakan topi bulat.

Kebetulan, pria muda tersebut juga menuju eskalator yang saya tuju. Jadi, ada kesempatan lebih lama untuk memperhatikannya. Bukan apa-apa, tapi sejak pertama saya lihat sampai lepas dari eskalator, pria muda tersebut sibuk dengan rambutnya. Sama seperti pria muda yang saya lihat di toilet, tangan pria muda yang ini pun sibuk menjamah rambutnya. Dan lagi-lagi, mengatur agar rambutnya tetap terlihat berantakan. Pertanyaan yang hampir sama pun kembali muncul, “Kenapa harus diatur kalau menginginkan hasil berantakan?”

Bukannya mau usil mencampuri urusan orang lain. Soal selera, itu pilihan masing-masing. Bukan juga soal rambut (maksudnya iri ke orang yang punya rambut bagus karena rambut saya sudah mulai botak). Yang menjadi masalah di sini adalah ada dua kata yang sebenarnya bertentangan bisa bersanding. Ini menarik karena biasanya yang bertentangan tidak bisa saling bersanding. Bukan pula saya tidak cinta damai sampai-sampai mengusut dua hal yang bertentangan saling bersanding.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rapi memiliki arti “1 baik, teratur, dan bersih; apik; 2 teratur baik; tertib; 3 serba beres dan menyenangkan (pekerjaan dsb); 4 siap sedia; siaga; 5 sebagaimana mestinya; tidak asal saja”. Sementara, berantakan memiliki arti “cerai-berai (berserak-serak); tidak keruan letaknya; 2 tidak terpelihara dengan baik”.

Dari pengertian tersebut, terlihat letak kebertentangan kedua kata tersebut. Bagaimana mungkin sesuatu yang cerai-berai merupakan hasil dari pekerjaan yang teratur. Itu sepertinya tidak mungkin. Tapi, kenyataan yang saya lihat ternyata berkata sebaliknya.

Kalau diingat-ingat, kasus seperti itu sudah tidak asing lagi. Mungkin karena saya yang tidak sadar, atau mungkin karena hal yang lainnya, sampai-sampai saya tidak ambil peduli terhadap keadaan tersebut.

Salah satu contohnya adalah pemberitaan mengenai kerusuhan. Tidak jarang, saat menuliskan berita mengenai sebuah kerusuhan, media menyebutkan “Ada orang di balik layar yang mengatur kerusuhan ini”. Lagi-lagi, kata-kata yang berlawanan bersanding satu dengan yang lain (mengatur dan kerusuhan).

Otak di dalam kepala pun mulai bekerja, mencari alasan yang mungkin menjadi penyebab kejadian tersebut. Dan, sebuah kesimpulan pun muncul. Mungkin kata-kata sudah mulai berpolitik. Layaknya manusia, mereka berusaha memperjuangkan nasib mereka. Mereka ingin terus eksis. Tetap digunakan. Terlebih lagi, keadaan belakangan ini tidak terlalu ramah bagi kata-kata dalam bahasa Indonesia. Kegemaran orang-orang untuk menggunakan bahasa Inggris saat berkomunikasi, bahkan ketika berkomunikasi sesama orang Indonesia, menempatkan kata-kata dalam bahasa Indonesia dalam posisi yang sulit. Karenanya, mereka pun saling melakukan komunikasi, bernegosiasi, berkoalisi, atau apalah. Tujuannya, mereka tetap digunakan dalam kehidupan berkomunikasi sehari-hari.

Dengan sikap politik yang mereka ambil, tidak masalah jika mereka akhirnya harus bersanding dengan kata-kata yang selama ini menjadi lawan mereka. Yang penting eksis. Begitu, kan, yang sering terjadi di dunia politik? Semua hal mungkin dilakukan selama memiliki tujuan yang sama dan memberikan keuntungan pada setiap pihak yang berkoalisi. Ya, itu pendapat dari orang yang awam dengan dunia politik. Tapi rasanya, memang itu yang sering terjadi.

Dan karenanya, pria muda yang berlama-lama mengatur rambutnya agar terlihat berantakan sama seperti seorang pemimpin yang menyatakan perang demi menciptakan kedamaian.

Jakarta, 13 Mei 2011

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s