Kawin atau Nikah

“Ga mau. Gua ga mau mati, belom kawin,” begitu ucap seorang pria di acara “Kacamata”, Sabtu, 19 Februari 2011, saat Indra Herlambang akan mendorongnya dari sebuah jembatan penyeberangan ke arah kereta yang sedang melaju.

Sebenarnya, perkataan itu tidak asing lagi. Sebelum-sebelumnya, saya pernah mendengar orang mengucapkan kalimat itu – bahkan beberapa kali kalimat itu meluncur keluar dari mulut saya. Alasan itu biasanya diutarakan oleh orang-orang yang usianya sudah mencapai remaja (di atas 17 tahun). Sepertinya, dengan mengutarakan alasan tersebut, hidup yang mereka jalani hanya memiliki satu tujuan, untuk kawin. Dan setelah itu tercapai, semua bebas dilakukan – bahkan walau konsekuensi sesuatu itu adalah kematian, tidak jadi masalah karena toh mereka sudah kawin.

۞

Sebenarnya tidak ada masalah dengan ucapan tersebut. Apalagi, agama memberitahu bahwa manusia diciptakan di dunia ini secara berpasangan dan menjadi tugas umat manusia untuk menjaga kelangsungannya di muka bumi ini. Cara untuk melakukannya adalah dengan: kawin. Karenanya, orang yang mengucapkan alasan itu dapat dikatakan merupakan golongan orang-orang beriman (saya juga termasuk, dong. Hehehe…). Cuma, masyarakat sudah terlanjut membedakan kawin dengan sinonimnya, nikah.

Suatu kali, seorang teman mengajukan pertanyaan, “Tau ga bedanya nikah sama kawin?”.

Saat itu, karena masih polos, saya menjawabnya, “Ya, sama.”

Mendengar jawaban saya, teman itu pun tertawa. “Dasar dodol…”.

“Trus, emang bedanya apa?” ganti saya yang bertanya.

“Kalo nikah itu neken, kalo kawin itu nèken,” jawab dia yang lagi-lagi disambung dengan suara tawa.

Begitulah. Masyarakat sudah terlanjut mengasosiasikan kawin dengan hubungan seksual. Sedangkan, untuk upacara penyatuan dua orang individu menjadi sepasang suami-istri yang sah menurut agama dan hukum disebut nikah.

Sebenarnya, pembedaan yang dilakukan masyarakat terhadap kedua kata tersebut bukannya tanpa alasan. Karena ini menyangkut masalah bahasa, mari kita tengok kitab suci untuk permasalahan bahasa Indonesia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kawin sebagai: 1. membentuk keluarga dengan lawan jenis; bersuami atau beristri; menikah; 2 melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan); 3(cak) bersetubuh; 4 n perkawinan. Sedangkan, untuk nikah, didefinisikan sebagai ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama.

Walau kedua kata tersebut bersinonim, tapi kawin memiliki arti yang lebih luas dibanding nikah. Makanya, sebagai bentuk kreativitas, masyarakat membedakan penggunaan kedua kata tersebut. Ya, itu tadi. Kawin untuk merujuk pada hubungan seksual, sedangkan nikah merujuk pada ikatan (akad) yang dilakukan sesuai ketentuan hukum dan ajaran agama.

Jadi, terbantahkan, dong, kesimpulan saya sebelumnya. Orang yang berucap, “Ga mau. Gua ga mau mati, belom kawin” tidak termasuk ke dalam golongan yang beriman. Karena sebenarnya, yang ada di dalam otak mereka bukanlah menjalankan perintah agama, melainkan melakukan hubungan seksual. Begitu pentingkah melakukan hubungan seksual, setidaknya satu kali selama hidup di dunia ini, sampai-sampai urusan di dunia ini selesai setelah melakukannya? Hmmm… silakan Anda jawab sendiri.

Lalu, kalau sudah kawin terus ternyata langsung modar gimana? Kawin tanpa nikah berarti melakukan perbuatan yang dilarang agama. Yang artinya, dosa. Artinya, mati dengan membawa dosa sebelum sempat meminta maaf atau bertobat. Artinya, neraka. Dibakar di api yang sangat besar dan sangat panas. Ditambah lagi dengan berbagai siksaan lain yang tidak bisa dibayangkan, hanya karena kawin (yang cuma satu kali dilakukan). Saya sudah pernah…. Baiklah, sebelum semua terjadi, bahkan sebelum tulisan ini saya akhiri, saya akan melakukannya. Tuhan, maafkanlah segala dosa hamba-Mu ini. Amin….

Jadi, harusnya bagaimana? Harus pasrah kalau ada orang yang mau mendorong kita dari jembatan penyebrangan ke arah kereta yang sedang melaju seperi cerita di awal? Buru-buru menikah agar bisa kawin tapi halal? Kalau nanti tidak bertahan lama lalu bercerai bagaimana? Bukankah Tuhan juga membenci orang-orang yang memutuskan tali pernikahan? Serba salah, dong. Lalu bagaimana?
Hmmm…. ini yang sulit. Memberikan solusi dari suatu permasalahan, apalagi masalah itu juga dialami sendiri. Kalau saya (ini saya, ya, terserah Anda mau mengikuti atau tidak), saya akan mengubah ucapan saya. Agak lebih panjang memang, tapi sepertinya lebih ‘mengandung nilai kesucian’.

Jika ada orang, misalnya, yang ingin mendorong saya dari jembatan penyebrangan ke arah kereta yang sedang melaju, saya akan bilang, “Enggak mau. Gua enggak mau mati. Gua belum kawin dengan banyak wanita dan bertobat dengan menikahi seorang wanita yang belum pernah dikawini.”

Lebak Bulus
Maret 2011

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s