Parodi dan Lagak Jakarta

Parodi
Parodi di Kompas Minggu

Lagak Jakarta Krisis... Oh... Krisis

Dua judul tersebut merupakan favorit saya. “Parodi” merupakan kolom Samuel Mulia di Kompas Minggu. Lagak Jakarta merupakan kartun karya Beny dan Mice (juga ada Kompas Minggu dengan judul “Kartun Beni dan Mice” yang kemudian berganti nama menjadi “Kartun Mice” setelah kedua kartunis menyatakan tidak lagi sejalan). Kehadiran keduanya selalu dinantikan. Sangat sulit untuk melewatkan mereka, karena mereka salah satu hal yang hampir selalu membuat orang tertawa – termasuk saya.

Walau memiliki perbedaan (yang satu hanya berupa tulisan sedang yang satunya lagi berupa gambar dan tulisan), keduanya memiliki kesamaan – yang membuatnya menjadi menarik dan digemari. Kesamaan itu terdapat pada formula mereka berkomunikasi. Mereka sama-sama menjadikan diri mereka (penulis dan kartunis) sebagai subjek sekaligus objek dalam komunikasi yang mereka lakukan.

Di setiap tulisannya yang dimuat di “Parodi”, Samuel Mulia tidak segan-segan ‘merendahkan’ dan menjadikan dirinya contoh dari hal yang sedang dibahas. Tidak selalu contoh yang baik, bahkan lebih sering Samuel Mulia berterus terang mengenai kejelekan-kejelekan yang dia miliki dan pernah lakukan.

Dalam salah satu tulisannya yang terbit pada 31 Januari 2010, Samuel Mulia menuliskan, “Saya pernah dinasihati lagi, katanya akar dari segala kejahatan itu adalah cinta uang. Saya tambah bingung lagi. Dengan IQ, SQ, EQ saya yang lumayan, lumayan datar maksudnya, maka cinta uang tak akan jadi masalah.”

Beny dan Mice pun melakukannya di Lagak Jakarta. Dengan menjadi tokoh di dalam kartun-kartun mereka, Beny dan Mice terkadang menampilkan diri sebagai orang yang kampungan atau sifat ‘negatif’ lainnya – yang berujung memunculkan nilai humor.

Itulah yang menjadikan mereka istimewa, dan tetap bertahan bertahun-tahun. Terutama di Indonesia, sangat jarang ada orang yang bisa menjadikan dirinya sebagai contoh negatif dari sebuah permasalahan yang sedang dibahas. Sedang, menjadikan diri mereka sebagai contoh positif, sangat banyak. Terlebih lagi saat berbicara dalam media yang dinikmati oleh khalayak banyak.

Bercemin pada Diri Sendiri

Ada beberapa hal yang ditimbulkan melalui komunikasi dengan cara seperti itu. Dengan menjadikan diri sendiri sebagi contoh negatif dari suatu persoalan, tentunya tidak akan ada orang lain yang tersinggung. Ini menjadi masalah yang penting, mengingat belakangan ini salah paham sering kali terjadi di negeri ini. Terlebih lagi mengingat media berkomunikasi yang mereka gunakan memiliki kemungkinan untuk dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Secara isi, mereka mengungkapkan kritik. Dan dengan mengungkapkan kritik sangat mungkin untuk menimbulkan konflik. Jujur saja, masih banyak orang (terutama di Indonesia) yang masih belum menerima kritik. Baik itu kritik yang ditujukan kepada personal maupun kritik yang ditujukan kepada suatu kelompok masyarakat atau badan/organisasi tertentu. Lalu, kenapa mereka tidak kena luapan orang yang marah karena kritik yang mereka sampaikan? Ya, karena menjadikan diri sendiri sebagai objek, juga dengan bantuan unsur humor.

Walaupun bukan seorang komedian, tapi kolom Samuel Mulia bertitel “Parodi”. Dan dengannya, pembaca secara langsung atau tidak langsung akan mengerti bahwa tulisan pada kolom tersebut memiliki sifat lucu dan ditujukan untuk tujuan ‘melucu’.

Hal serupa juga dilakukan pada Lagak Jakarta. Sebagai sebuah kartun, dia harus memiliki unsur kritik – karena itulah salah satu hal yang membedakannya dari komik yang bersifat menghibur. Dengan adanya unsur humor, membuat kritik yang disampaikan pada Lagak Jakarta menjadi terasa ‘ringan’.

Dan dengan berdiri di belakang nilai humor, mereka bisa bebas untuk menyampaikan berbagai kritik – selain tentunya karena yang mereka jadikan objek kritik adalah diri mereka sendiri. Mereka bisa mengungkapkan apapun yang mereka mau tanpa harus membuat orang lain merasa tersinggung, malah membuat orang lain tertawa – sekalipun kritik yang ditujukan kepada orang tersebut. Suatu hal yang sangat aneh di tengah masyarakat yang, boleh dibilang, sangat anti-kritik.

Katarsis dengan Humor

Efek yang ingin dicapai dengan menggunakan unsur humor adalah keceriaan, lelucon, candaan, guyonan yang menimbulkan senyum atau tawa. Dan, itu yang mereka lakukan. Baiklah, sulit memang menentukan hal itu pada penikmat “Parodi” dan Lagak Jakarta. Tapi dari pengalaman yang saya alami, tidak sedikit orang yang terpingkal-pingkal setelah membaca Lagak Jakarta dan “Parodi”. Bahkan, karena kebetulan skripsi saya membahas Lagak Jakarta dan selalu membawanya di dalam tas saat kuliah, beberapa teman saya selalu meminjam buku saya yang sampulnya sudah terlepas dari isinya. Tidak hanya sekali. Ada yang hampir setiap hari, saat bertemu dengan saya, dia meminjam Lagak Jakarta. Dan, saya tidak yakin para pembaca tidak tertawa, atau setidaknya tersenyum, setelah membaca Lagak Jakarta dan “Parodi”. Coba ingat-ingat kembali jika Anda pernah membaca “Parodi” dan Lagak Jakarta (“Kartun Beny dan Mice”). Apakah saat itu Anda mengerutkan dahi? Atau, Anda tersenyum kecil? Atau, Anda malah tertawa terbahak-bahak? Sulit rasanya membayangkan ada orang yang mengerutkan dahi saat membaca atau melihat aksi mereka – terlebih di saat harga cabai meroket secepat kilat dan harga minyak terus mengambang di atas angin.

Senyum dan tawa, itulah yang mereka inginkan. Mereka ingin kreasi mereka dapat membuat setiap orang yang menikmatinya tersenyum, juga tertawa. Memang ada kritik yang mereka sampaikan, tapi pembaca tidak berkelut dahi karenanya. Tidak seperti seorang motivator yang membuat audiensnya merenung, berpikir keras, sampai tak terasa kulit wajah mereka ternyata semakin keriput.

Merenung dan berpikir memang akan dialami oleh orang-orang yang menikmati Lagak Jakarta dan “Parodi”, tapi itu tidak terjadi di tahap pertama. Semua dijalani dalam proses perlahan, bahkan sampai para penikmat tidak menyadari setiap proses itu.

Setelah tersenyum dan tertawa, para penikmat mungkin akan berbagi cerita dengan orang-orang yang di sekitarnya mengenai hal yang baru dibaca atau dilihatnya. Dan dalam berbagi cerita itu, tidak terasa akan terungkapkan kebodohan atau kesalahan serupa yang pernah diperbuat.

Atau mungkin, jika sedang sendiri, beberapa menit setelah membaca atau melihat, para pembaca akan berpikir tentang kebodohan atau kesalahan serupa yang pernah dia perbuat. Sampai pada akhirnya, para audiens akan mengalami katarsis – proses penyadaran diri terhadap semua kesalahan yang pernah diperbuat. Semua itu berjalan secara perlahan. Tanpa tekanan. Semua mengalir dengan perlahan dan tanpa disadari oleh orang yang melakukannya.

Dan, ya, humor merupakan sebuah sarana penyadaran diri yang efektif, jika terlalu belebihan menyebutnya sebagai cara yang paling efektif.

Tidak perlu meminta maaf atau merasa menyesal setelah mengalami katarsis, karena memang tidak ada paksaan untuk itu. Cukup menyadari semua kesalahan yang pernah dibuat. Itu saja sudah cukup. Karena, sangat sulit membuat orang mengakui kesalahannya. Dan kalau memang mau melanjutkan proses tersebut dengan menyesal, meminta maaf, bertobat, dan memperbaiki semua kesalahan, itu sungguh sangat bagus.

Bercermin pada Diri Sendiri

Akhirnya, kedua media tersebut membuat saya menyadari satu hal, mereka lebih efektif dari cermin. Walaupun setiap bercermin (bahkan sampai beberapa kali dalam sehari), saya terkadang lupa pada siapa sebenarnya diri saya sendiri. Saya yang seutuhnya. Saya yang ada di dunia ini. Saya yang menjalani hidup ini. Saya dalam hati. Saya dalam pikiran. Saya dalam aktivitas. Saya dalam perjalanan. Dan saya-saya yang lainnya.

Terkadang saya lupa dan membohongi diri sendiri, kadang juga membohongi orang lain. Sekadar contoh. Saat mengendarai kendaraan di tengah jalan raya, tidak jarang saya berteriak kepada orang yang tidak benar membawa kendaraannya. Memotong jalan, belok seenaknya, atau apapun. Walau di kendaraan ada kaca spion dan seringkali digunakan untuk bercermin, tapi saya suka lupa kalau saya juga melakukan hal yang membuat saya berteriak kepada orang lain. Ya, walaupun dengan begitu saya tidak juga menjadi orang yang sangat taat pada lalu lintas. Hehehehe….

Dalam hati dan pikiran, saya juga sering berbohong. Seringkali, saat menghadapi atau melihat orang-orang yang begitu bersusah payah mengumpulkan uang, saya selalu berkata “Uang bukan segalanya” atau “Banyak hal di dunia ini yang lebih penting dibanding uang”. Pada kenyataannya, ucapan itu bualan semata. Bohong jika saya tidak bersusah payah mengumpulkan uang. Bohong jika uang bukan termasuk hal yang sangat penting dalam kehidupan saya. Ucapan itu saya ucapkan untuk menutupi ketidakmampuan saya dalam mengumpulkan uang. Ucapan yang diutarakan dilandasi perasaan iri pada orang lain yang lebih berhasil dari saya dan kekecewaan saya pada diri sendiri karena tidak memiliki kemampuan mengumpulkan uang dalam jumlah yang membuat hati saya senang (berapa jumlahnya, saya tidak tahu pasti).

Sebuah kebohongan lain saat saya ucapkan, “Aku rindu kamu. Aku ingin duduk berdua di sofa bersama kamu sambil menonton televisi. Kamu bersandar di dadaku dan tanganku merangkul tubuhmu. Kadang kita berciuman, tapi ciuman sayang dan tanpa nafsu”. Yang sebenarnya, “Aku rindu kamu. Aku ingin berdua di dalam kamar bersama kamu. Aku ingin menciummu dengan hangat, dengan hasrat yang menggelora. Sampai akhirnya, kita bersenggama.” Dan, masih banyak kebohongan lainnya.

Dan jika saya sudah menyadari semua kebohongan yang saya ucapkan, apakah dengannya saya otomatis menjadi orang yang suci, orang yang sangat baik? Tidak. Sama sekali tidak. Saya masih hidup dengan kebohongan demi kebohongan. Saya masih tetap manusia munafik yang setiap saat selalu mencari kesalahan dan merasa diri saya sebagai orang yang paling benar. Dinding kamar menjadi saksi kemunafikan saya.

Lalu, jika sudah sadar segala kemunafikan dan kesalahan yang dilakukan tapi tetap tidak menjadi orang yang baik, apa gunanya menyadari itu semua? Hmmm… jika dipikir sederhana, terlihat seperti tidak ada gunanya. Lebih baik biarkan semua orang melakukan kesalahan dan menjadi orang yang munafik. Sia-sia membuat mereka menyadari semua itu. Tapi, tidak bagi saya.

Karena saya terlahir sebagai orang yang pandai dan selalu dapat mengambil kebaikan dari setiap hal yang saya lakukan (oportunis), saya memperoleh keuntungan dari kesadaran itu. Dengan menyadari segala kebohongan dan kemunafikan yang saya ucapkan selama ini, saya akan belajar untuk meningkatkan kualitas kebohongan dan kemunafikan saya. Saya akan berusaha membuat diri saya percaya dan yakin bahwa yang saya ucapkan adalah kebenaran dan saya bukan orang yang munafik. Dan jika saya berhasil melakukannya, saya yakin orang-orang di sekitar saya juga akan percaya pada semua hal yang saya ucapkan dan menilai saya orang yang sangat baik. Hahahaha…. Dasar sampah!!!

Lebak Bulus
17 Februari 2011

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s