Ooo…

Datanglah, datang, O Dosa yang indah,
biarlah kecupanmu yang panas mencurahkan
anggur merah berapi ke dalam urat darah kami.
Tiuplah trompet kejahatan yang perkasa
Dan sematkan di dahi kami mahkota bunga kejahatan yang bergelora,
O Dewa Penghujat,
lumuri dada-dada kami dengan lumpur kecemaran yang
sehitam-hitamnya, tanpa merasa malu lagi.

Datanglah dosa yang indah, datanglah hanya padaku. Temani aku yang sangat memujamu dan jangan pernah lagi kau tinggalkan aku sendiri. Sudah terlalu jauh bagiku untuk kembali ke tempat asalku.

Hari ini, aku sendiri, walau hari ini adalah hari ulang tahunku. Hanya kaulah, dosa yang indah, yang aku tunggu untuk menemaniku saat ini.

Sepuluh tahun lalu, saat aku masih remaja, aku masih dapat terus berangan-angan tentang masa depan. Aku akan menjadi seorang istri yang penuh perhatian untuk Sukma, kekasihku dulu. Aku akan menjadi ibu yang akan selalu menyayangi anak-anak hasil percintaanku dengan Sukma.

Sepuluh tahun yang lalu, sama seperti hari ini, aku merayakan hari ulangtahunku yang ke-17 bersama keluargaku dan kekasihku tercinta. Sebuah pesta yang sederhana, namun aku sangat menyukainya. Di hari itu juga, aku dan Sukma mengumumkan tentang rencana pernikahan kami kepada seluruh anggota keluarga yang hadir. Sedih memang jika aku mengingat hari itu, tapi itulah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan.

Seminggu kemudian kehidupanku berubah. Semua rencana yang sudah aku buat gagal. Tidak akan ada pernikahan, tidak akan ada pasangan suami-istri Sukma dan Asih. Tidak akan ada keluarga sederhana yang bahagia. Sang istri yang dengan setia menunggu suaminya yang baru pulang dari sawah dan sang suami akan dengan bahagia menjemur badannya di sawah demi istri yang dia cintai. Semuanya hanya angan.

Aku terkejut ketika aku baru saja tiba di rumah sehabis berpergian bersama Sukma. Rumah dalam keadaan sangat berantakan. Bangku dan meja kayu yang biasanya tersusun rapi di ruang tamu tersebar tak beratur di penjuru ruangan. Lantai tanah tertutupi dengan segala macam perabotan rumah yang berserakan. Keadaan rumah seperti kapal yang baru saja karam. Ayahku terbaring kesakitan di ujung ruang tamu dekat dengan pintu kamarku. Mukanya penuh dengan luka memar. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah, tangannya terus memegang perutnya, dan dari tenggorokannya keluar erangan kesakitan. Ibu, dimana ibuku? Aku tidak menemukan ibuku di kamar ini. Aku berlari ke ruang lainnya, tapi aku tidak dapat menemukan ibuku. Kuhampiri ayahku, kutanyakan di mana ibuku. Dia hanya terdiam dengan erangannya. Matanya lalu melihat ke arahku tapi bukan kepadaku, matanya tertuju pada sesuatu yang ada di belakangku. Aku palingkan wajahku ke arah yang dituju oleh mata ayahku. Sesosok tubuh wanita tua tergantung di kayu penyanggah atap rumahku. Matanya terbuka lebar, bahkan terlalu lebar hingga bola matanya terlihat mau keluar dari tempatnya, tapi tatapannya kosong. Lidahnya terjulur keluar dari mulutnya. Seluruh anggota tubuhnya tergulai lemas dan dari dalam kain yang digunakannya untuk menutup bagian bawah tubuhnya mengalir darah segar. Ayah hanya menangis, aku tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus aku lakukan.

Seminggu setelah pemakaman ibu, ayah baru mau menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi pada hari yang naas itu. Ayah selama ini mempunyai hutang kepada Pak Bromo, tengkulak di desaku. Jumlahnya tidak besar, hanya Rp2 juta. Akan tetapi, bunganya yang dua kali lipat setahunlah yang memberatkan ayahku untuk dapat melunasi hutangnya. Kedatangannya minggu lalu bermaksud meminta bunga yang seharusnya sudah dibayar dua bulan yang lalu. Entah setan apa yang merasuki anak buah Pak Bromo. Ketika ayah menolak membayar bunga hutangnya, mereka langsung mengamuk. Rumah diporak-porandakan. Mereka kesetanan. Ketika ibuku pulang dari pasar, mereka langsung menyergapnya dan lalu…. Ayah tidak dapat meneruskan ceritanya.

Tamu-tamu sudah pulang. Ruang yang tadinya dipenuhi orang kini sepi. Suara-suara yang tadi melantunkan kalimat-kalimat suci sudah tidak ada lagi. Rumah kembali menjadi sepi. Sukma masih sibuk membereskan ruangan yang tadi digunakan acara salawatan. Aku hanya terduduk di kursi yang ada di ujung ruang, memandang batang kayu tempat mayat ibuku dulu pernah tergantung. Masih teringat jelas di bayanganku ketika pertama kali aku melihat tubuh ibuku yang tergantung kaku di batang kayu itu. Tak lama kemudian, lamunanku terhenti oleh tepukan sebuah tangan di pundakku. Mbo’ Rusdi mengagetkanku. Dia lalu mengambil sebuah bangku dan meletakkannya di hadapanku. Dia duduk di bangku itu, di hadapanku.

“Sudah, nduk. Yang pergi biarkan pergi. Sekarang kamu harus memikirkan kehidupanmu,” ucap Mbo’ Rusdi kepadaku sambil menggenggam tanganku.

“Iya, Mbo’.”

“Mbo’ sudah tahu masalah bapa’mu dengan Pak Bromo. Mbo’ cuma mau nolong kamu. Mbo’ punya kenalan di kota. Dia bisa ngasih kamu pekerjaan dan hasilnya bisa digunakan untuk bantu bapa’mu bayar utangnya ke Pak Bromo.”

“Entahlah, Mbo’. Keluarga Mas Sukma sudah terus menanyakan kapan kami akan menikah. Katanya mereka tidak mau terlalu lama menunggu. Menikah tahun ini atau Mas Sukma akan dinikahkan dengan calon dari orangtuanya. Aku lagi bingung.”

“Yang penting sekarang, nduk, kamu harus ingat sama bapa’mu. Kamu mau bapa’mu meninggal seperti ibumu? Kamu mau jadi anak durhaka yang tidak berbakti pada orangtua?” tanya Mbo’ Rusdi.

“Aku ingin berbakti pada orangtua, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Mas Sukma.”

“Kalau kamu sudah kerja, kamu sudah punya uang, kamu mudah mencari pria seperti Mas Sukmamu itu. Bahkan kamu bisa dapat yang jauh lebih baik.”

“Entahlah, Mbo’. Aku perlu waktu untuk memikirkan semuanya.”

Mbo’ Rusdi lalu pergi dari hadapanku. Mas Sukma masih sibuk membersihkan ruangan.

Dua hari kemudian, aku pergi ke makam ibuku. Aku minta doa restunya karena aku akan pergi ke kota mengadu nasibku. Mas Sukma menungguku di belakang. Sebenarnya dia tidak ingin aku pergi, tapi aku terus memaksa dan akhirnya dia mengizinkanku. Entahlah, aku tahu ketika aku kembali ke desa ini aku akan melihat Mas Sukma bersama istrinya sedang bermain dengan buah hati mereka.

Mas Sukma hanya mengantarku sampai stasiun dan dari situ aku pergi bersama temannya Mbo’ Rusdi. Sepanjang perjalanan, aku terus melihat ke luar jendela, melihat hamparan sawah yang mulai menguning, “Kapan aku akan melihat keindahan seperti ini lagi?”.

Sampai di kota, hari sudah senja. Aku diantarkan ke sebuah penginapan yang tidak jauh dari stasiun. Kamar yang tersisa hanya tinggal satu dan tidak ada pilihan lain bagi kami selain bermalam di satu kamar. Aku tidur di ranjang sedang dia, teman prianya Mbo’ Rusdi, tidur di kursi.

Saat tidur, aku merasa ada sesuatu yang menggerayangi tubuhku. Sesuatu yang merayap-rayap di atas tubuhku. Aku terkejut, mulutku disekap dan kedua mataku ditutup dengan menggunakan bantal. Tangan dan kakiku diikatkan ke suatu benda sehingga aku tidak dapat menggerakkan mereka. Aku dapat merasakan pakaianku satu per satu dilucuti dari tempatnya. Aku tahu apa yang akan terjadi pada diriku, tapi aku tidak dapat melakukan apa-apa karena dia telah melumpuhkan tubuhku. Aku hanya menangis ketika dia menikmati tubuhku dan penyesalanku memuncak ketika berulang kali dia memasukkan kemaluannya ke kelaminku. Hancur sudah semua yang aku banggakan selama ini. Hancur impian indah untuk mempersembahkan keperawananku kepada suamiku pada malam pertama.

Selesai menikmati tubuhku, dia membuka semua ikatan yang melumpuhkan tubuhku. Dia lalu mengeluarkan sebuah amplop dari kantong jaketnya dan melemparkannya kepadaku.

“Mulai sekarang kau sendiri di kota ini,” ucapnya sambil keluar dari pintu kamar.

Aku masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Pada bagian kelamin, aku merasakan sakit yang luar biasa. Dan, darah yang membasahi seprei membuatku kehilangan seluruh tenagaku.

Hari sudah siang ketika aku memaksakan tubuhku bangkit dari tempat tidur. Aku berjalan lambat ke kamar mandi. Setiap kali aku melangkah, aku merasakan sakit yang tak pernah aku bayangkan di bagian kelamin, dan di dalam hatiku. Aku harus berpegangan pada dinding untuk mencapai kamar mandi.

Di kamar mandi, aku basahi seluruh tubuhku. Aku sucikan kelaminku, meskipun aku tahu aku tidak dapat mengembalikan keperawananku. Lama aku termenung di dalam kamar mandi. Badanku masih terus dibasahi air yang keluar dari shower.

Saat ulangtahunku yang ke-18, aku sudah menjadi primadona di salah satu lokalisasi WTS di kota. Setiap malamnya, paling tidak 15 pria hidung belang mengantri di pintu kamarku untuk tidur denganku dan setiap malam pula aku harus melayani mereka satu persatu. Aku harus memanfaatkan ketenaranku ini untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya agar hutang ayahku di desa serta bunganya yang tinggi dapat aku lunasi.

Hidup itu memang penuh kejutan. Aku yang dulu bercita-cita menjadi istri dan ibu bagi Mas Sukma dan anak-anaknya, kini harus menjadi teman tidur yang baik bagi pelangganku.

Entahlah, semenjak keluar dari penginapan setahun yang lalu, aku tidak tahu harus pergi ke mana. Aku tidak punya kenalan di kota ini dan untuk kembali ke desaku, aku tidak sanggup menunjukkan wajahku kepada orang desa setelah apa yang terjadi padaku di malam yang naas itu.

Setelah keluar dari penginapan, aku berjalan tanpa tentu arahnya. Hanya kaki-kakiku yang mengarahkanku pada suatu tempat. Malam harinya, ketika tubuhku terasa letih, aku beristirahat di sebuah taman yang ada di pusat kota. Dalam sekejap, aku terlelap dalam tidurku, sampai akhirnya aku dibangunkan secara paksa oleh sebuah tangan yang menarik tanganku. Suara itu begitu menakutkan, suara dari seorang pria berkumis lebat.

“Ayo, kamu ikut kami. Kamu ditahan!”

Tubuhku yang lemas hanya mengikuti tarikan tangan itu.

Aku lalu dibawa ke kantor polisi untuk kemudian ditanyai dengan berbagai pertanyaan, mulai dari nama, alamat, dan segala tetek bengek yang tidak aku mengerti.

Satu persatu hasil tangkapan malam itu dibebaskan dengan uang jaminan dari seorang wanita setengah baya yang baik hati, hanya aku saja yang masih tertinggal di kantor polisi. Kenapa wanita itu tidak membebaskan aku bersama yang lainnya?

Suasana sekelilingku sepi. Sel-sel lain kosong tanpa penghuni. Hanya aku sendiri di tempat gelap dan lembab ini. Seorang polisi lalu mengeluarkan aku dari sel dan membawaku ke sebuah ruang.

“Ada pemeriksaan ulang,” katanya ketika kutanya kenapa aku dibawa ke ruangan itu.

Di dalam ruangan, ada beberapa polisi lain. Mereka menyelidik tubuhku dari atas sampai bawah ketika aku masuk ke dalam ruangan itu. Tatapan mereka, aku tidak suka cara mereka menatapku. Aku lalu dibaringkan di atas meja yang ada di tengah ruangan itu. Tangan dan kakiku dipegang, mataku ditutup sapu tangan, mulutku disumpal dengan alat kelamin mereka. Satu persatu mereka menikmati tubuhku. Satu persatu mereka masukkan alat kelamin mereka di mulutku. Satu persatu mereka masukkan alat kelamin mereka di lubang duburku. Satu persatu merasakan kenikmatan dari kemaluanku. Satu persatu mereka mengeluarkan sprema mereka di wajahku. Satu persatu mereka meninggalkanku di ruangan itu.

Keesokkan paginya, aku sudah berada di kamar ini. Kamar yang sekarang menjadi tempat praktikku melayani para pelangganku. Wanita setengah baya yang kulihat di kantor polisi tadi malam, duduk di sampingku, tangannya membelai lembut rambutku.

“Tenang, kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau,” katanya dengan lembut.

Setahun kemudian, aku mendengar dari pelangganku yang juga seorang sopir bus malam, ada seorang pemuda dari kampungku yang sedang mencari kekasihnya di kota. Kekasihnya sudah pergi dari desa semenjak dua tahun yang lalu dan tidak pernah ada kabar.

“Dia,” kata pelangganku, “sebenarnya akan dinikahkan oleh orangtuanya tahun lalu, namun dia menolak dan memutuskan untuk menjemput kekasihnya di kota.”

Pikiranku langsung tertuju pada Mas Sukma. Oh, Mas Sukma, semoga kau sudah pulang dan menikah dengan gadis pilihan orangtuamu.

Tak lama kemudian, ketenaranku turun. Para pelangganku banyak yang sudah beralih ke pelacur lain yang lebih muda, lebih bergairah, lebih rapet, lebih nikmat. Mami memutuskan untuk menjualku ke kenalannya di luar negeri. Aku pergi dari tempat itu menuju tempat lain, yang tidak kutahu nama tempatnya. Seminggu lebih aku berada di atas laut, kapal yang membawaku terus-menerus diombang-ambingkan oleh ombak. Perutku mual, aku mabuk laut.

Di tempat yang baru, aku kurang bisa mengerti bahasa yang mereka gunakan. Bahasa mereka memang sedikit mirip dengan bahasaku, tapi gaya bicara dan banyak kata yang tidak dapat aku pahami. Di sini, aku tinggal di tempat yang lebih baik, lebih bersih. Aku tidak lagi harus berbagi tempat dengan tikus dan kecoak di sini, tapi aku tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Kalau dulu, aku hanya membuka praktik pada malam hari, sekarang aku harus siap kapan pun pelangganku datang, bahkan pernah sehari semalam aku harus melayani lebih dari tiga puluh pria hidung belang. Badanku semakin lama semakin kurus, tulang-tulangku semakin menjorok keluar dari kulitku.

Tak lama kemudian, tubuhku mudah sekali terserang penyakit dan lama sekali untuk menyembuhkan penyakit yang kuderita, meskipun aku hanya menderita penyakit flu.

Hari berganti hari, menjadi minggu, bulan, dan tahun. Tubuhku semakin mengurus, tidak lagi menggairahkan. Pelangganku semakin sedikit saja. Kemaluanku semakin pucat, tidak menarik, bahkan aku sendiri terkadang jijik melihatnya.

Suatu hari, ketika aku terbangun dari tidurku, aku mendapatkan diriku sudah berada di atas gerbong kereta bersama sapi dan hewan-hewan lainnya. Aku tidak tahu sejak kapan aku berada di gerbong ini. Kereta berhenti, pintu gerbong terbuka, dan seorang pria berkulit gelap masuk ke dalam. Aku ditariknya keluar dari gerbong.

Aku tidak tahu di mana aku sekarang. Semua orang di tempat ini berkulit gelap, berhidung mancung, dan bila berbicara tangan mereka bergerak-gerak menjelaskan apa yang mereka katakan.

Di tempatku yang baru, keadaannya lebih buruk dari tempatku yang pertama dan di sini aku harus bekerja lebih daripada di tempat yang kedua. Di sini, aku tidak hanya harus berbagi tempat dengan tikus dan kecoak, tapi aku juga harus rela hidup berdampingan dengan virus penyakit yang mematikan. Di sini, keadaannya sangat jorok. Air bersih menjadi barang yang sangat langka. Di setiap sudut, terdapat sampah dan di atasnya ada sesosok bangkai manusia yang dipenuhi dengan luka borok di sekujur tubuhnya.

Aku tidak kuat hidup di tempat seperti ini, aku tidak mau hidup seperti ini, tapi di sinilah aku. Melacur di tempat sampah.

Datanglah, datang, O Dosa yang indah,
biarlah kecupanmu yang panas mencurahkan
anggur merah berapi ke dalam urat darah kami.

Puisi itu aku dengar dari salah seorang pelangganku di tempat ini. Dia membacakannya saat asyik mencumbui tubuhku. Mulutnya yang ditutupi kumis hitam yang lebat sibuk mencumbui setiap sudut tubuhku sambil terkadang berhenti untuk mengucapkan syairnya di telingaku.

Tiuplah trompet kejahatan yang perkasa
Dan sematkanlah di dahi kami mahkota bunga kejahatan yang bergelora,

“Sebuah puisi India kuno,” katanya kepadaku suatu kali.

Sebuah puisi yang begitu mewakili kehidupanku, sebuah puisi untukku.

Di tempat ini, aku mulai merasakan sesuatu yang sangat ganjil pada alat kelaminku. Setiap kali aku buang air, aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi bukan sakit yang aku derita saat pertama kali aku diperkosa. Dan pernah beberapa kali, dari alat kelaminku, keluar darah dan cairan kuning saat aku buang air.

Ini sebuah kutukan, ini sebuah hukuman dari semua yang telah aku lakukan selama ini. Biarkanlah kutukan ini akan aku bagikan ke semua pelangganku, biarkan mereka juga menikmati apa yang aku alami, dosa yang indah.

O Dewa penghujat,
Lumuri dada-dada kami dengan lumpur kecemaran yang
sehitam-hitamnya, tanpa merasa malu lagi.

Dari pelangganku yang suka membacakan puisi untukku, aku tahu kalau sebentar lagi tempatku ini akan diratakan, dihancurkan. Sebuah hasil penelitian menunjukkan kalau tempat ini menjadi tempat dengan tingkat penduduk tertinggi untuk penderita penyakit kelamin yang belum ada obatnya. Kegiatan seks komersial tanpa menggunakan alat pelindung menjadi penyebab utama berkembangnya penyakit ini. Semua penghuni tempat ini akan dimusnahkan. Semuanya akan dikorbankan demi kepentingan negara dan dunia. Tapi, aku tidak mau meninggal di tempat seperti ini. Aku ingin pergi dari sini. Penjagaan di sekitar tempatku diperketat. Setiap orang tidak ada yang bisa masuk ataupun keluar dari tempat ini. Polisi berjaga di mana-mana. Aku tahu aku tidak dapat keluar dari tempat terkutuk ini.

Tapi untunglah, aku masih mempunyai pelanggan yang mau menolongku keluar dari tempat ini. Pelanggan yang sering membacakan puisi ketika dia tidur denganku. Dia seorang polisi. Dengan bantuannya, aku dapat keluar dari tempat terkutuk ini dan setelah itu dia menitipkan aku ke temannya untuk dibawa ke suatu tempat yang jauh dari tempat terkutuk ini.

Perjalanan yang jauh aku lalui. Beberapa kali aku harus berganti bus dan kereta api sampai pada akhirnya aku harus naik kapal untuk menyeberangi lautan. Entah barapa jauh kini aku dari tempat asalku.

Dan, di sinilah aku. Di tempatku sekarang berbaring sendiri menikmati hari ulangtahunku. Di sini, aku bukan lagi manusia. Aku bukan lagi mahluk ciptaan Tuhan. Aku tidak lebih dari kotoran yang dibuang setiap harinya oleh manusia. Setiap hari aku harus melakukan hubungan seks, entah itu dengan manusia, binatang, atau dengan benda mati yang dapat aku masukkan ke dalam alat kelaminku. Aku ini binatang seks. Tidak ada waktuku yang terlewat tanpa pengaruh gairahku ini. Badanku bukan lagi raga manusia. Ini hanyalah seonggok daging yang menempel pada tulang dan di dalamnya terdapat roh yang dikuasai oleh hawa nafsu.

Ketika bangun di pagi hari, aku sering merasakan kenikmatan bila alat kelaminku sedang dijilati oleh tikus ataupun oleh binatang pengerat lainnya. Mungkin kalau ini terjadi beberapa tahun yang lalu, aku akan merasa jijik. Tetapi dengan keadaanku yang sekarang ini, aku sangat menikmati jilatan dari binatang pengerat karena tidak ada lagi manusia yang mau menjilati kelaminku. Umurku baru dua puluh tujuh tahun, usia yang masih muda, tapi badanku tidak lagi menunjukkan kemudaan itu.

“Ah, tikus-tikus kecilku, kau datang juga. Teruslah, teruslah kau jilati kemaluanku sepuasmu, sampai kau merasa bosan. Ah…. Ya, di situ. Ya, ya, ya. Teruslah kau jilati kelaminku dengan lidahmu yang mungil, bersihkan semua noda yang melekat di sekitarnya dan jangan biarkan ada sedikitpun yang masih melekat. Masuklah, kalau kau ingin mengetahui apa yang ada di dalam kelaminku. Masuklah ke dalam lubangnya yang hitam. Jangan pedulikan cairan kuning menjijikkan yang ada di sekitarnya. Masuklah, maka kau akan tahu kenikmatan yang sesungguhnya.”

Agustus 2003

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s