20

“Aku punya kamu, tapi….”

Kalimat itu yang kau ucapkan padaku di telefon, pada suatu siang. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa kalimat itu akan pernah terucapkan dari mulutmu. Dengan intonasi seperti yang masih kuingat persis sampai sekarang.

Penuh dengan rasa iri. Putus asa. Sedikit penyesalan. Dan, yang lainnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat mendengar ucapanmu itu.

Saat itu, kau sedang berada di rumah seorang tante dari pihak ibumu. Keluarga besar dari pihak ibumu berkumpul di sana untuk merayakan tahun baru bersama. Sedang, aku melewati tahun baru itu di rumah, bersama dengan keluargaku – tanpa ada perayaan yang khusus.

Aku kira semua akan berjalan baik-baik saja. Seperti perayaan tahun baru sebelumnya, kau akan bergembira bersama dengan keluarga besarmu. Aku tahu, kau pasti akan melewatkan momen pergantian tahun, karena aku tahu kau pasti sudah tertidur sebelum tahun berganti. Tapi, sebelum dan setelah perayaan pergantian tahun, di saat-saat terakhir tahun yang lama akan berganti dan di hari pertama tahun yang baru datang, kau pasti akan melewatkannya bersama dengan keluarga besarmu.

Kau memang akan melewatkan semaraknya kembang api. Tapi mungkin, dalam tidurmu, kau melihat pesta yang jauh lebih meriah. Hanya saja, di pagi hari, ketika semua orang sudah terbangun dari tidurnya, sisa kebahagiaan itu masih ada. Dan, aku yakin mereka tidak segan-segan untuk membagikan sisa-sisa kebahagiaan itu kepadamu. Kau pasti akan merasa gembira melaluinya. Dan saat kau menelefonku, aku akan mendengar suara yang penuh dengan kebahagiaan. Suara yang penuh dengan ceria. Suara tawa. Penuh dengan semangat yang ingin kau bagikan juga kepadaku, atau untuk membuatku merasa iri karena kau bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Itu yang ada di dalam kepalaku. Aku pun telah bersiap untuk mendengar suara itu dari mulutmu ketika pertama kulihat layar telefon bahwa kau yang menelefonku.

Namun, tidak. Bukan seperti yang aku bayangkan semula. Perkataan yang kau ucapkan kepadaku tidak seperti yang ada di dalam bayanganku. Suasana yang kau bagi kepadaku tidak seperti yang aku harapkan. Kau tidak membuatku iri. Sama sekali. Tidak. Bahkan jauh dari itu.

Selain berkumpul dengan keluarga besar, perayaan tahun baru juga menjadi ajang bagi anak-anak yang sudah cukup dewasa untuk mengenalkan pasangannya masing-masing. Membawa pasangannya untuk bisa mengenal dan diterima dengan baik dengan seluruh anggota keluarga. Pada momen inilah, mungkin, kesempatan terbesar untuk bisa mendapatkan dukungan dari pihak keluarga yang lain agar bisa masuk dan diterima menjadi bagian dari mereka. Semua anggota keluarga berkumpul di sini. Jika ada pihak yang tidak atau kurang menyenangi kehadiran seorang pasangan atau hubungan yang sedang dijalani, maka pasangan tersebut bisa mencari dukungan dari pihak keluarga yang lain. Lobi dijalankan. Pendekatan dilakukan. Segala macam upaya diusahakan agar bisa mendapat restu dan tempat di dalam keluarga besar.

Kau dan saudara-saudaramu termasuk sudah cukup dewasa untuk memperkenalkan pasangan kalian ke keluarga besar kalian. Dan, itulah yang dilakukan – setidaknya oleh saudara-saudaramu. Sedang, kau….

Bukannya tidak ingin. Kita sudah pernah membahas mengenai hal itu sebelumnya. Tapi, kita sama-sama sadar kalau kondisi yang kita sedang hadapi tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu. Kita memang tidak bisa. Belum waktunya, mungkin ungkapan yang lebih tepat untuk membesarkan hati kita masing-masing. Dan, kau pun sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan seperti, “Mana pasangannya, kok, tidak dibawa?”. Kau sudah siap dengan kondisi seperti itu. Kau bisa menerimanya dan rela melaluinya.

Kakak-kakakmu membawa pasangannya masing-masing. Kau sudah tahu itu dan itu bukan lagi masalah bagimu. Kau sadar, kondisi yang mereka hadapi dan yang kita hadapi sangat berbeda. Mereka bisa melakukan itu karena mereka memang memiliki kesempatan untuk melakukannya. Sedang, kita? Kita tidak memiliki kesempatan itu.

Namun, bukan karena kakak-kakakmu yang membawa pasangannya yang membuat kau mengeluarkan kalimat seperti itu ketika berbicara padaku. Tidak. Melainkan karena yang dilakukan oleh adikmu.

Pasangan kakak-kakakmu sudah ikut bersama rombongan kalian sejak awal. Itu memang sudah direncanakan sebelumnya. Kau pun terbilang cukup dekat dengan mereka. Tidak masalah bagimu untuk menerima kehadiran mereka karena mereka sudah cukup lama kau kenal. Beberapa kali bahkan kalian pergi bersama. Jadi, itu bukan lagi masalah bagimu dan menjadi penyebab membuatmu merasa iri.

Namun, tanpa disangka, di hari pertama tahun yang baru, saat kau sedang bergembira bersama dengan anggota keluarga yang lain, saat kau menikmati sisa-sisa kebahagiaan perayaan tahun baru, pasangan adikmu datang berkunjung. Ini tidak ada dalam rencana awal. Ini di luar yang kau harapkan. Kau tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi seperti ini.

Kalau aku tidak salah ingat, adikmu dan pasangannya baru menjalankan hubungan beberapa minggu. Jauh lebih muda dibandingkan dengan hubungan yang sedang kita jalani. Tapi, ternyata adikmu memiliki keberanian lebih untuk mengundang pasangannya datang ke acara keluarga besarmu. Pasangannya pun memiliki nyali yang sangat besar untuk menyanggupi undangan dari adikmu.

Kedatangan pasangan adikmu sudah membuatmu cukup iri. Hatimu mulai bergelora membakar sedikit kebahagiaan perayaan tahun baru yang sedang kau nikmati. Tapi, kau masih sanggup untuk meredamnya kembali. Kau coba bersikap tidak acuh pada hal itu. Kau berusaha tidak memperhatikan keberadaan pasangan adikmu.

Namun, saat pasangan adikmu diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga dan dia mendapat sambutan yang sangat baik, kau tidak bisa lagi menahannya. Hatimu terbakar. Habis sudah kebahagiaan perayaan tahun baru. Yang ada di dalam hatimu hanyalah rasa iri, putus asa, dan perasaan negatif lainnya. Kau pun akhirnya menelefonku untuk berbagi perasaan buruk itu padaku. Aku pasanganmu dan sudah selayaknya aku mendapat bagian dari iri yang kau rasakan. Akulah penyebab rasa iri itu. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu karena kau menelefonku untuk menceritakan hal itu.

“Aku punya kamu, tapi….”

Seandainya aku bisa mengungkapkan perasaan yang aku alami saat aku mendengar ucapan itu dari mulutmu. Aku diam bukan berarti aku tidak merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan. Tidak ada sepatah kata yang terucap bukan berarti aku mengganggap hal itu hanyalah persoalan yang biasa. Tidak. Jangan berpikir seperti itu. Tolonglah. Aku mohon, jangan terlalu kejam padaku untuk berpikir seperti itu.
Aku diam karena aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Jujur saja, saat mendengarnya, perasaanku pun sama hancurnya dengan perasaanmu. Bahkan seandainya kau memutuskan untuk tidak sanggup lagi menghadapi perasaan itu dan ingin keluar dari kondisi yang sedang kita hadapi, aku pun bisa memahaminya. Bukan salahmu kalau kau tidak lagi bisa bertahan dalam kondisi seperti itu. Bukan berarti kau lemah karena tidak bisa melaluinya. Kau sangat hebat. Kau yang ada di sana, berhadapan langsung dengan kenyataan. Sedang, aku hanya mendengarnya darimu. Tidak sama. Tidak akan pernah sama pengalaman yang kita alami.

Ini salahku. Akulah penyebab semua ini bisa terjadi. Akulah yang berulang kali memintamu untuk bisa bertahan dalam hubungan yang kita jalani. Kalau kau lemah, sudah dari awal, ketika kita sadar dengan kondisi yang kita hadapi, kau akan lari dari hubungan ini. Pergi jauh dan menjalani kehidupanmu sendiri. Tapi, tidak. Kau tetap bertahan. Dalam hatimu, kau yakin kita bisa melalui semua ini. Aku senang mendengarnya dan karena itu aku sangat menghargaimu, sampai dengan saat ini.

Mungkin benar ucapan ayahmu. Aku hanya seorang pengecut yang selalu lari dari masalah. Tidak pernah berani untuk berhadapan langsung dengan kenyataan yang ada. Aku selalu menghindar. Aku terlalu egois dengan duniaku. Dengan obsesi yang ingin kukejar. Aku terlalu mementingkan diri sendiri. Saat itu, aku hanya berpikir bahwa akulah yang harus selalu didukung. Aku lupa, bahwa semua yang kita jalani bukan hanya tentang aku, tapi tentang kita. Harus saling mendukung. Harus saling memberi dukungan.

Aku terlalu naif untuk bisa menyadari semua itu. Aku merasa bahwa akulah inti dari keberhasilan kita melalui semua ini dan kau harus selalu berada di belakangku, kapan saja dan di mana saja. Aku lupa bahwa kau juga sedang berusaha. Kau juga membutuhkan dukungan.

Aku sadar bahwa tak layak bagiku kini untuk meminta maaf untuk itu semua. Mungkin itu sebuah kesalahan, dan memang itu sebuah kesalahan, tapi kesalahanku itu tidak perlu dimaafkan. Biarkan aku yang menanggung semua kesalahan itu. Kau… bebaskanlah dirimu. Lepaskan dirimu dari semua masalah yang pernah kita hadapi. Tak perlu ikut menanggung kesalahan yang telah aku perbuat, walau sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi. Kaulah orang pertama dan satu-satunya yang menanggung atas semua kesalahan yang telah aku perbuat. Kaulah yang merasakan semua itu.

Namun begitu, satu hal yang bisa aku ucapkan: terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan. Meski aku mungkin tak layak mendapatkan semua yang telah kau berikan, tapi kau telah memberikannya padaku. Entah, mungkin ada penyesalan dalam hatimu terhadap semua yang telah kau berikan. Tentang kebulatan tekadmu untuk terus bertahan menghadapi semua masalah yang kita hadapi, itu semua memberi banyak pelajaran bagiku.

Aku mungkin tidak dapat membalas semua yang telah kau lakukan. Atau mungkin, aku memang tak layak untuk membalas semua yang telah kau lakukan. Karena, jika aku mampu membalasnya, walau itu tidak sepadan dengan yang telah kau lakukan, aku pastinya akan merasa lega dan terbebas dari semua kesalahan yang pernah aku buat. Biarkan tetap seperti ini. Biarkan aku terus mengingat semua kesalahan yang pernah aku perbuat dan tidak akan pernah bisa aku perbaiki. Dengannya, semoga aku tidak melakukan kesalahan yang sama.

Kukusan, Depok
23-24 November 2009

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s