MIMPI DAN KENYATAAN

Tidak ada tanda. Dia selalu datang begitu saja, tiba-tiba. Dia selalu datang di saat yang tidak pernah dibayangkan. Bukannya aku tidak menginginkan kedatangannya. Jujur aku akui, kadang aku sangat ingin dia datang. Kembali bersamaku. Tapi, itulah dia. Dia dengan kehidupannya. Dia dengan kebebasannya untuk datang dan pergi kapan saja dia ingin. Sering kali dia pergi di saat aku sangat menginginkan kehadirannya. Dan, sering pula dia datang di saat aku sangat ingin terlepas darinya.

Pernah ada seseorang yang berkata, biarkanlah pikiranmu bebas memikirkan apapun yang diinginkan. Bahkan jika pikiranmu memikirkan seseorang yang sangat jauh untuk kau jangkau, biarkanlah. Jangan kau paksa pikiranmu untuk tidak memikirkannya. Karena, percaya atau tidak, pikiran itulah yang sebenarnya sangat kau inginkan dari dalam hatimu. Dan, pikiran itu akan memanggil seseorang yang selalu kau pikirkan untuk datang kepadamu.

Baiklah, terkadang aku memang sangat menginginkannya. Dan memang, entah kenapa, pikiranku sering dirasuki oleh bayang-bayangnya. Tapi, aku sadar. Aku tahu dia. Aku tidak mungkin mengungkungnya untuk bisa selalu ada untukku. Aku tidak memaksanya. Itu kehidupannya dan aku tidak berhak untuk mengatur kehidupannya.

Jika boleh mengandaikan, saat-saat kehadirannya adalah dunia terjagaku dan saat-saat tanpanya adalah dunia mimpiku. Banyak yang bisa terjadi di dua dunia itu. Dari yang menyedihkan atau menggembirakan, mendebarkan atau mengharukan, dan lain sebagainya. Tapi begitu, ada satu perbedaan nyata di antara keduanya. Dunia mimpi tetaplah mimpi. Walau kita mengalami kecelekaan dalam mimpi kita, sebuah kecelakaan yang sangat parah, tapi sewaktu kita terjaga, tubuh kita tidak akan mengalami luka. Tidak begitu pada dunia nyata.

Aku tidak akan seperti ini jika semua berjalan dengan normal. Misalnya saja: tidak ada bayangannya di dalam mimpiku. Atau mungkin, dia tidak akan membiarkan aku terlelap lagi. Tapi sepertinya, itu tidak mungkin.

Entah bagaimana caranya, dia sepertinya tahu saat aku mulai menikmati mimpiku. Saat aku mulai terbiasa dengan mimpi-mimpi di tengah tidurku, dia seperti alarm yang membangunkanku dari tidur. Itulah dia. Dengan caranya, selalu membuatku tersadar dari mimpi-mimpiku.

Beberapa kali sempat kuputuskan untuk benar-benar terlepas darinya. Pergi ke tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, dan menjalani kehidupan yang baru. Tapi saat tekadku sudah bulat untuk melakukannya, dia selalu saja hadir. Dengan bujuk rayuannya, dengan suara yang tidak mungkin bisa kutolak. Aku kembali lagi bersama kehidupan lama. Berharap dia tidak akan lagi membiarkan aku terlelap dalam tidur. Selalu membuatku terjaga. Menyadarkan aku saat rasa kantuk seakan tidak bisa lagi untuk kulawan.

Sekali lagi, dan lagi, dan lagi, itu hanya harapanku. Aku sudah bersiap untuk terus terjaga. Aku ingin sekali menjalani hari-hari bersamanya, dan di saat itulah, dia kembali sibuk dengan dunianya. Pergi tanpa meninggalkan jejak. Tanpa pesan dan tanpa tahu kapan akan kembali, bahkan apakah dia akan kembali atau tidak. Dan aku? Aku hanya bisa bertahan melawan kantukku. Semampuku. Beberapa kali malah aku langsung membaringkan tubuhku di atas kasur. Meletakkan kepalaku di atas bantal. Memeluk guling. Dan, menutupi wajahku dengan bantal yang lain. Aku sudah bosan untuk terjaga sendirian. Aku sudah bosan dengan harapan-harapan akan dirinya.

Pernah aku membaca di sebuah surat kabar, di rubrik kesehatan, bangun tidur secara tiba-tiba dapat mempercepat kematian seseorang. Bangun karena terkaget. Sontak tubuh langsung diajak untuk melakukan aktivitas tanpa ada peregangan sebelumnya. Hal itu bisa menyebabkan seseorang terkena sakit jantung, menurut surat kabar itu.

Mungkin itulah yang akan menyerangku. Sakit jantung. Kehadirannya yang begitu tiba-tiba sontak dapat mengubah segalanya. Seratus depan puluh derajat. Semua. Hidupku. Hariku. Perasaanku. Emosiku. Semua. Semua yang ada di diriku.

Banyak penderita sakit jantung tidak sadar kalau dia sudah terkena penyakit itu. Mereka tidak tahu kalau penyakit berbahaya sudah bersemayam di dalam tubuhnya. Mereka baru akan sadar ketika rasa sakit itu menyerang. Dan bagiku, keadaan seperti itu lebih baik. Walau tidak seorang pun yang menginginkan terjangkit penyakit jantung, setidaknya mereka tersadar ketika penyakit itu menyerang. Tapi, aku. Aku tidak tahu apakah penyakit itu sudah menyerangku atau belum, atau aku tidak pernah menyadarinya sampai suatu ketika, saat penyakit itu sudah sampai di taraf yang sangat kritis dan tidak ada tindakan yang bisa menyelamatkannya. Tidak harapan lagi ketika itu terjadi.

Namun, mungkin, itu yang terbaik. Dengan begitu, aku tidak mungkin lagi akan terbangun dari tidurku. Aku akan bisa bebas bermimpi. Semauku. Sesuai dengan keinginanku. Dan dia…. Dia tidak akan bisa lagi mengganggu mimpiku. Itulah mungkin akhir dari segalanya bagiku dan dirinya.

Tidak ada yang tahu akan seperti apa keadaan ini nantinya. Bagaimana ini akan berakhir, ataukah tidak akan pernah berakhir. Aku pun bahkan tidak berani untuk membayangkannya.

Mimpi hanya bunga tidur. Seberapapun indahnya mimpi yang kita alami, tetap saja, itu hanya sebuah mimpi. Itu bukan kenyataan yang terjadi. Itu mungkin hanya angan yang kita inginkan untuk terwujud. Dan walaupun seberapa pahit kenyataan yang kita hadapi, sampai membuat kita berharap bahwa itu hanyalah sebuah mimpi, kita harus menghadapinya. Merasakan kepahitannya. Kita tidak bisa mengelak darinya.

Aku hanya seorang manusia yang menjalani hidup di bumi ini. Aku tidak bisa terus terlelap dan tidurku. Walau kadang dunia terlalu melelahkan untuk dihadapi dan aku perlu mengistirahatkan diriku, tapi toh pada akhirnya aku harus kembali terbangun dalam tidurku. Masih ada hidup yang harus kujalani, secara sadar, dalam kondisi terjaga sepenuhnya.

Aku memang sering terjaga sampai larut, tapi tak mungkin aku akan selalu terjaga. Aku harus tidur untuk menjaga tubuhku. Aku sering menghabiskan waktu luangku untuk tidur, walau di siang hari dan walau sebenarnya aku sudah cukup tidur semalam. Tapi, ya itu tadi, tidak selamanya aku kuat bertahan dari rasa kantuk dan tidak mungkin juga aku bisa tidur untuk selamanya.

16 November 2009
Kukusan

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s