4

Kau mengucapkan itu padanya. Sebuah perkataan yang biasa kau ucapkan untuknya, atau biasa dia ucapkan untukmu. Sebuah perkataan yang mengungkapkan isi di dalam hati kalian. Perkataan yang membuat hati siapapun yang dituju menjadi senang. Tenang. Nyaman. Karena, ada seseorang yang memiliki perasaan itu kepadanya.

“Aku sayang kamu”. Kau mengatakan itu kepadanya. Entah untuk apa, kau tidak mengetahuinya. Bahkan, kau tidak tahu dengan pasti apakah saat ini kau masih benar-benar memiliki perasaan itu terhadapnya.

Kau ingin mengatakannya. Kau hanya ingin mengucapkan itu kepadanya. Membiarkan dirinya tahu bahwa kau masih memiliki perasaan itu. Atau, membiarkan dirinya berpikir seakan-akan kau masih memiliki perasaan itu.

Walaupun, sebenarnya, kau tidak tahu lagi apa yang kau rasakan. Kau tidak bisa membohongi perasaanmu. Tidak ada di dalam dirimu perasaan itu. Kau sudah menghilangkannya. Yang kau ucapkan hanyalah sebuah perkataan semu yang keluar entah dari mana. Kau bahkan sudah membuang jauh-jauh perasaan itu terhadapnya di dalam hatimu. Kau tidak lagi ingin memilikinya. Kau tidak lagi membutuhkannya seperti dulu ketika dia masih menjadi kekasihmu. Kau tidak lagi menginginkan dia ada di sampingmu. Menjagamu. Melindungimu. Menyayangimu. Dan semua yang pernah dia lakukan untukmu. Kau tidak lagi seperti itu.

Perkataan itu adalah perkataan munafik yang keluar dari mulutmu. Ya, kau memang orang yang munafik dan kau sadar sekali akan hal itu. Kau hanya ingin membuatnya merasa bingung. Bimbang. Berada di sebuah posisi yang membuatnya menjadi ragu untuk memilih yang mana, walaupun sebenarnya kau sudah tidak lagi ingin menjadi pilihannya.

Saat itu, dia bercerita tentang rasa penyesalannya terhadap mantan kekasihnya. Seorang pria yang sangat dia kasihi sebelum kau. Dia bercerita tetang perasaan yang sudah lama hilang namun kini timbul kembali. Perasaan yang bermula dari perasaan bersalah terhadap apa yang pernah dia lakukan ketika mereka adalah sepasang kekasih. Sebuah rasa untuk memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat. Rasa untuk menghilangkan kenyataan bahwa dia mengakui kesalahannya.

Ketika mendengarnya, awalnya kau merasa kehilangannya. Dia orang yang baru memutuskan percintaan denganmu kini memiliki perasaan kepada mantan kekasihnya. Kau merasa kecewa. Tapi, itu hanya sesaat. Kau lalu berbagi cerita kepadanya. Tentang masa lalumu. Kau juga pernah melewati masa seperti itu. Cukup lama kau melewatinya. Cukup banyak orang berpikir bahwa kau gila ketika itu. Dan kini, dia merasakan perasaan itu. Orang yang dulu sangat kau kasihi mengalami keadaan itu, tetapi bukan untuk kau.

Tidak ada lagi perasaan kecewa di dalam hatimu ketika kau mengucapkan hal itu kepadanya. Hatimu hampa. Kosong. Bahkan kau tidak dapat membayangkan wajahnya, mantan kekasihmu. Kau sepenuhnya telah melupakannya. Tetapi, kau masih mengucapkan hal itu kepadanya. Kau hanya ingin membuatnya bersedih. Ya, itulah yang kau lakukan. Kau hanya ingin membuatnya merasa bertambah kecewa terhadap dirinya. Kau hanya ingin dia menyiksa dirinya. Dengan perkataanmu itu, kau ingin membuatnya semakin membenci dirinya.

Kemang, 30 Januari 2007

Contribute to Simple Survey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s